Solidaritas Atas Nama Kemanusiaan Kok Memilah dan Memilih.

Kemanusiaan tidak bisa memilah dan memilih. Karena kemanusiaan sifatnya universal dan tanpa sekat apapun. Kalau kemanusiaan memilah dan memilih, apakah pantas disebut sebagai aksi kemanusiaan?

Minggu, 6 Maret 2022 | 07:08 WIB
0
80
Solidaritas Atas Nama Kemanusiaan Kok Memilah dan Memilih.
Mohammed Rashid menolak memegang spanduk

Serangan Rusia terhadap Ukraina berimbas atau masuk dalam dunia olahraga yang terkenal menjunjung sportivitas.

FIFA, misalnya, menjatuhkan sanksi kepada klub sepakbola Rusia untuk tidak boleh tampil atau bermain dalam turnamen internaisonal sebagai dampak atau hukuman atas serangan Rusia kepada Ukraina. Alasan FIFA ini sebagai bentuk solidaritas anti perang dan kemanusiaan kepada Ukraina.

Setelah FIFA, sekarang Cina juga akan menghentikan siaran langsung Liga Inggris yang merupakan liga bergengsi. Pemegang hak siar Premier League sementara waktu akan menghentikan siarannya.

Menurut BBC Sport, aksi Cina menghentikan siaran langsung Liga Inggris sebagai bentuk dukungan kepada Rusia yang merupakan sekutunya.

Tetapi apakah benar Cina menghentikan siaran langsung Liga Inggris sebagai bentuk dukungan kepada Rusia?

Bisa saja alasan itu benar, tetapi juga bisa salah. Mengapa? Bisa jadi Cina menghentikan siaran langsung Liga Inggris karena Premier League akan melakukan aksi solidaritas atau kemanusiaan mendukung Ukraina yang diserang oleh Rusia.

Sebagai bentuk dukungan dalam seiap pertandingan akan didominasi warna biru-kuning yang merupakan warna bendera Ukraina. Dan klub-klub peserta sudah setuju dengan aksi solidaritas sebagai bentuk dukungan kepada Ukraina.

Nah, bisa jadi-aksi solidaritas kepada Ukraina sebagai bentuk mencampuradukan olahraga dengan politik, sehingga Cina menghentikan buat sementara waktu siaran Liga Inggris tersebut.

Rupanya aksi solidaritas kepada Ukraina itu tidak hanya terjadi di Liga Inggris, ternyata merembet juga ke Indonesia dalam Liga I antara Persib vs Persija.

Dalam laga antara Persib vs Persija yang digelar di stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, kedua tim berfoto dan memegang spanduk yang bertuliskan "Stop War".

Pemain Persib yaitu Mohammed Rashid tidak mau memegang spanduk yang bertuliskan "Stop War".

Banyak pendapat atau prasangka, apa yang dilakukan oleh pemain Persib yaitu Mohammed Rashid sebagai bentuk tidak menunjukkan rasa simpati atau solidaritas, menolak aksi perang, seolah ia setuju atau senang dengan perang antara Rusia vs Ukraina.

Ternyata Mohammed Rashid ini pemain yang berasal dari Palestina dan ini sepertinya cocok dan pas untuk menggambarkan sikap standar ganda dalam persepak-bolaan.

Mohammed Rashid menyampaikan alasannya mengapa ia tidak mau memegang spanduk yang bertuliskan "Stop War" tersebut.

"Saya tak setuju dengan perang di Ukraina atau perang apa pun di negara mana pun! Saya menentang semua perang. Beberapa orang mengira saya tidak ikut berfoto karena saya setuju dengan apa yang terjadi di Ukraina. Jelas tidak! Nabi Muhammad mengatakan tidak ada perbedaan antara orang Arab dengan non-Arab dan tidak juga antara orang berkulit hitam dan putih kecuali dengan ketaqwaannya!" yang ditulisakan dalam akun Instagramnya.

Mohammed Rashid melanjutkan cuitannya.

"Tetapi mengapa ketika kita melakukan hal yang sama untuk Palestiana, itu menjadi ilegal dan berkata mencampuradukkan sepak bola dengan politik? Mengapa standar ganda? Ini sangat tidak adil!".

"Kita semua adalah manusia! Kami juga tidak ingin perang di Palestina, Suriah, Yaman, Irak dan lain-lain... Jika kita ingin bersimpati dan menunjukkan kemanusiaan, kita harus melakukannya untuk semua orang yang menderita di seluruh dunia, bukan memilih dan memilih!" ungkapnya.

Apa yang diungkapkan atau ditulis oleh pemain Persib asal Palestina benar adanya. Tentu ia merasakan betul yang melibatkan emosinya karena ia juga berasal dari negara konflik yaitu Palestina yang sering berseteru dengan Israel.

Kalau alasannya solidaritas menolak perang, mengapa solidaritas itu tidak ditujukan kepada negara-negara yang sedang dilanda konflik atau perang tanpa harus memilah dan memilih? Mengapa hanya kepada Ukraina?

Bagaimana kalau aksi solidaritas atas nama kemanusiaan atau menolak perang itu dilakukan oleh pemain-pemain bola dari negara Muslim? Pasti akan dikenai sanksi oleh badan federasi sepak bola yang dianggap mencampuradukkan dengan politik. Atau bisa jadi dianggap bersimpati kepada kelompok teroris.

Bukankah Aturan FIFA "Rules of the Game" dan setiap pemain dilarang mengungkapkan atau menunjukkan sikap politiknya?

Kemanusiaan tidak bisa memilah dan memilih. Karena kemanusiaan sifatnya universal dan tanpa sekat apapun. Kalau kemanusiaan memilah dan memilih, apakah pantas disebut sebagai aksi kemanusiaan?

Marilah kita jujur pada nurani kita masing-masing dan berkomunikasi pada nurani kita, apakah kita sudah jujur pada nurani atau kita sudah condong sebelumnya?

Nurani selalu jujur dan tidak ingkar, sebelum kita berkata bohong kepada orang lain, nuranilah yang pertama kali mengetahuinya.

Sering-seringlah bercakap-cakap dengan nurani supaya kita bisa mengetahui diri kita yang sebenarnya.

***