Trouble Maker

Manusia memang begitu, karena terlalu fokus pada kekurangan seseorang, sehingga lupa akan kebaikan yang dimiliki orang tersebut.

Selasa, 2 Maret 2021 | 11:58 WIB
0
273
Trouble Maker
Ilustrasi trouble maker (Foto: motherworking.com)

Semua orang pasti sependapat jika ada orang yang karakternya si Pembuat Masalah atau type trouble maker, dimanapun berada dia akan selalu membuat masalah. Di lingkungan keluarga, dalam bertetangga, di tempat kerja, dalam pertemanan atau di mana saja.

Oleh sebab itu semua orang pasti memilih menghindar atau menjauhinya. Karena orang seperti itu termasuk toxic person, membawa ketidak baikan bagi orang lain.

Tanpa bermaksud sok bijak, saya memilih tidak menghindarinya atau menjauhinya. Meskipun saya sadar bahwa mendekati orang seperti itu bisa saja akan menguras energi positif kita. Karena saya tau banget, setiap orang itu punya toxic dalam dirinya. Cuma kadarnya memang berbeda-beda.

Bagi saya, alih-alih menghindari orang seperti itu, lebih baik saya selaraskan dengan diri saya, supaya karakternya itu bisa saya imbangi dan hasilnya positif. 

Saya percaya bisa melakukannya. Karena pengalaman saya berteman dengan type yang demikian justru membuka mata saya, mereka juga punya kelebihan yang tidak boleh dipandang sebelah mata, hanya karena tertutupi dari karakter negatif mereka tadi.

Kata orang "adillah sejak dalam pikiran." Prinsip itu selalu saya pegang teguh. Sehingga saya selalu bisa memandang sebuah situasi dari kaca mata yang berbeda.

Waktu sekolah dulu, saya punya teman yang type trouble Maker. Sehingga guru banyak yang tidak suka. Tapi suatu hari, ketika saya dan teman-teman disuruh membersihkan perpustakaan, secara tidak sengaja pintu terkunci, dan macet tidak bisa dibuka. Kita terkurung di dalamnya. Kita panik karena sudah berteriak pun tidak ada yang mendengar.

Teman yang dicap Pembuat Masalah tadi, naik ke plafon yang terbuka sedikit. Entah bagaimana caranya kemudian dia datang membawa guru dan membuka pintu mengeluarkan kami. 

Hari itu dia tampil sebagai pahlawan. Tapi saat itu juga saya merasa ada ketidak adilan ketika ada beberapa guru yang berkomentar yang menurut saya sangat tidak etis:

"Rupanya kamu ada gunanya juga."

"Tumben otak kamu lurus."

"Wah, kesambet apa kamu bisa kepikiran jadi penolong."

Bahkan ada guru yang meraba keningnya sambil tertawa, yang bagi saya justru itu melecehkan. Sungguh! Saat itu saya kecewa dengan perlakuan orang-orang yang notabene ilmunya tinggi karena berpredikat guru. Tetapi ternyata mereka malah melakukan bullying! Ya!

Bagi saya itu adalah bully bersifat verbal. Mengolok-olok orang lain dan menertawakannya. Sedangkan perbuatan baik yang baru saja dilakukannya dianggap tak bernilai. Itu satu contoh saja. Sebenarnya banyak hal yang saya temui ketidak adilan yang dilakukan orang lain hanya karena merasa dirinya lebih baik.

Dari situ saya belajar, orang yang terlihat baik, sempurna, positif, hidup sesuai aturan, ramah, dan hal-hal baik yang terlihat sesuai dari ukuran masyarakat , ternyata dirinya itu juga menyimpan toxic dengan cara yang berbeda.

Dari situ juga saya belajar, seburuk-buruk orang, seberapapun toxicnya seseorang tetap saja mereka punya kebaikan dalam dirinya. Hormati haknya itu, jangan menjatuhkan vonis!

Manusia memang begitu, karena terlalu fokus pada kekurangan seseorang, sehingga lupa akan kebaikan yang dimiliki orang tersebut.

Siapa kita sehingga merasa boleh menudingkan jari pada orang lain?

***