Sebuah Cerita Tidak Penting tentang Air

Bagaimana ceritaku ini, tidak penting bukan? Iya, karena penulis lagi ingin menulis cerita tidak penting, untuk menghibur penulis yang sedikit jenuh dengan cerita yang penting dan sarat makna.

Rabu, 27 Mei 2020 | 12:55 WIB
0
306
Sebuah Cerita Tidak Penting tentang Air
Segelas Air Bening.

Air.

Sebuah benda mati yang gampang ditemukan di mana-mana. Di rumah, di kantor, di pusat perbelanjaan, benda ini selalu hadir menemani manusia dalam beraktivitas. Minimal, pasti selalu ada waktu dalam sehari barang sedikit, yang telah manusia habiskan hanya bersama dengan air. Entah itu minum, mandi, dan yang lain-lain.

Dipandang dari pelajaran Kimia, air terkenal dengan rumus molekul H2O. Dua atom hidrogen dan satu atom oksigen, itulah pembentuknya. Air juga merupakan anak buah hasil perkawinan antara senyawa asam dengan senyawa basa, dimana garam adalah kakaknya. Ya, asam ketika dicampur dengan basa menghasilkan air dan garam. Sampai sekarang, persamaan Kimia itu masih berlaku.

Air adalah sumber kehidupan

Terlalu berlebihan sepertinya, tetapi memang itulah kenyataannya. Air adalah sumber kehidupan. Berdasarkan penelitian (meskipun persentasenya berbeda-beda), telah disepakati bahwa air adalah zat di dalam tubuh manusia yang paling dominan. Semua hasil penelitian menyatakan bahwa air tercatat sebagai zat yang kedudukannya lebih dari 50% dari seluruh zat yang ada di dalam tubuh.

Secara tidak langsung, oleh sebab ketergantungan tubuh akan air adalah tinggi, maka air berperan penting dalam mempertahankan kehidupan seseorang manusia. Tidak hanya manusia sebenarnya, makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan pun turut merasakannya.

Sederhananya, ketika makhluk hidup haus, air adalah pemuasnya. Dahaga yang sangat mengeringkan mulut, akan hilang seketika dengan basahnya air yang diminum. Seketika itu pula, hormon kebahagiaan akan langsung diproduksi oleh tubuh, karena penderitaan yang dirasakan karena haus telah sirna.

Bagaimana dengan tumbuhan? Kita tidak pernah melihat secara langsung tumbuhan minum, karena sekilas secara kasat mata, tumbuhan tidak memiliki mulut sama seperti manusia dan hewan. Pada kenyataannya, tumbuhan pun “minum” air, melalui peresapan air pada akar tumbuhan di bawah tanah.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan hidup tanpa air. Bahkan, manusia terkaya di dunia sekalipun, ketika sedang berjalan di padang gurun bersama dengan unta, dijamin pasti rela menukarkan seluruh harta kekayaannya hanya untuk sebotol air, guna melepaskan dahaga yang disebabkan oleh teriknya matahari yang menyinari.

Air, seorang pembantu aktivitas manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, air selalu hadir menemani manusia dalam beraktivitas. Dimulai dari pagi hari, ketika mandi, balutan sabun yang merata di sekujur tubuh, hanya bisa hilang dengan sempurna dan bersih ketika dibilas dengan air. Ketika memasak, terutama untuk orang-orang yang tidak suka masakan yang digoreng dengan minyak, air adalah penolong yang manjur. Ya, untuk tipe masakan rebusan, masakan tidak akan pernah selesai dimasak ketika tidak ada air.

Membersihkan pakaian, ini pun perlu air. Segala noda yang terpapar pada kain, hanya bisa dihilangkan dengan rendaman air bersama sabun. Terkadang, di sela itu, ada juga anak-anak kecil yang hobi bermain air dan sabun. Gelembung sabun, itulah nama permainannya.

Sekarang-sekarang ini, air sedang populer dibahas di seluruh media massa. Ya, air yang berperan sebagai alat pencuci tangan. Air yang mengalir. Mengapa populer? Karena air yang bekerja sama dengan sabun efektif membersihkan tangan dari segala virus yang menempel, termasuk salah satu virus yang sedang naik daun, virus Corona namanya.

Air, sebuah obat yang mujarab untuk “sakit mata”

“Sakit mata” di sini bukan tentang Glaukoma, gangguan penglihatan karena saraf optik mata rusak. Ini juga bukan tentang Katarak, penyakit yang sebagian besar dialami oleh kaum manula, oleh sebab penuaan yang terjadi secara alamiah sehingga protein di lensa mata menggumpal dan menimbulkan gangguan penglihatan.

Ini hanyalah “sakit” yang disebabkan oleh kebosanan dan kejenuhan dalam menjalani rutinitas sehari-hari tanpa kreatifitas, itulah yang akan diutarakan di sini. Iya, sakit, wkakakakaka, sakitnya itu di sini, di mata.

Bagi sebagian kaum, terutama yang menamakan dirinya kumpulan pelancong, “sakit mata” ini gampang diobati. Bagaimana tidak? Kesukaan mereka untuk berjalan-jalan ke daerah wisata, apalagi untuk daerah yang belum pernah mereka kunjungi, adalah sangat ampuh memberantas kebosanan dan kejenuhan yang menjadi penyebab utama “sakit mata” ini.

Khusus untuk pelancong yang suka dengan wisata air, air pantai yang bening, jernih, dan berwarna kebiruan laut, adalah sebuat obat yang ampuh untuk menyembuhkan “sakit mata” mereka. “Vitamin sea” kalau istilah gaulnya, hehe. Berenang di tepi pantai, bermain dengan ombak air, membuat kastil dari pasir, atau bahkan hanya duduk memandangi birunya air, adalah daftar “vitamin sea” yang efektif meningkatkan rasa kebahagiaan mereka.

Namun sayangnya, di sisi lain, karena ketenaran virus Corona sekarang ini, para pelancong tadi semakin menderita. Obat bagi "sakit mata" mereka tidak bisa mereka temukan, karena larangan untuk berkerumun sedang galak digaungkan dimana-mana, termasuk di daerah wisata tentunya.

Alhasil, mau tidak mau mereka harus melancong ke pantai secara virtual, agar minimal meringankan beban mata yang sudah bosan itu.

Air, alat tegur yang mengerikan

Semua yang telah penulis ulas di atas adalah sisi baik dari kehadiran air dalam kehidupan manusia. Bagaimana dengan sisi buruknya? Ada. Untuk hal yang satu ini, secara kasat mata terlihat merugikan. Tetapi sesungguhnya, kalau dilihat lebih jauh, tetap juga ada sisi baiknya.

Banjir dan Tsunami. Kedua kata ini hampir sama artinya, kurang lebih adalah keadaan dimana jumlah volume air yang ada terlalu kebanyakan dan melimpah ruah, sehingga merugikan manusia. Keduanya sama-sama mengandung air, hanya bedanya, banjir bisa disebabkan oleh air hujan atau air bendungan, sementara tsunami seperti mayoritas kita dengar hanya disebabkan oleh air laut.

Merugikan? Iya, bahkan sangat buruk. Bagi kaum agamawan, ini dianggap sebagai alat tegur dari Tuhan yang terbilang mengerikan. Banyak harta benda punya manusia yang rusak dan tidak bisa berfungsi kembali karena terseret banjir, banyak rumah yang hancur diterjang oleh tsunami, dan banyak aktivitas normal manusia yang terhenti karena kedua hal tersebut. Paling parahnya, banyak juga nyawa manusia yang amblas, yang tidak mampu menyelamatkan diri ataupun tidak sempat diselamatkan oleh regu penolong, ketika kedua hal tersebut terjadi.

Sisi baiknya? Manusia semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Sisi baik berikutnya, sepertinya tidak ada, wkakakakaka.   

Baiklah, bagaimana ceritaku ini, tidak penting bukan? Iya, karena sekarang penulis lagi ingin menulis cerita tidak penting, untuk menghibur penulis yang sedikit jenuh dengan cerita yang penting dan sarat makna.

Terima kasih untuk para pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk membaca cerita yang tidak penting ini, hehe. Jangan pernah menyesal akan waktumu yang habis untuk membaca ini ya, karena dari awal bukankah penulis sudah peringatkan bahwa cerita ini memang “tidak penting”, wkakakakaka.

Jakarta,

27 Mei 2020.