Amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman (1916-1950)

Jadi ini adalah strategi jangka panjang, oleh karenanya pada masa mendatang kita akan menghadapi persaingan ideologi dan bukan pragmatisme lagi.

Kamis, 25 April 2019 | 21:17 WIB
0
167
Amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman (1916-1950)
Jenderal Soedirman (Foto: Republika)

Ingat, bahwa prajurit Indonesia bukan prajurit sewaan, tetapi prajurit yang "berideologi", sanggup berjuang menempuh maut untuk kelahiran Tanah Airmu.

Bukan prajurit yang menjual tenaganya karena hendak merebut sesuap nasi dan bukan pula prajurit yang mudah dibelokkan haluannya karena tipu dan nafsu kebendaan.

Tetapi prajurit Indonesia adalah dia yang masuk ke dalam tentara karena keinsafan jiwanya, atas panggilan Ibu Pertiwi. Dengan setia membaktikan raga dan jiwanya bagi keluhuran bangsa dan negara.

Ideologi prajurit sebagai abdi negara adalah Pancasila. Pada era globalisasi, ada ideologi-ideologi luar yang mencoba menyusup ingin mengganti ideologi negara. Pengaruh kepercayaan dan ketaatan agama dipakai untuk merubah mindset warga.

Terlihat bahwa politik dapat memanfaatkan agama untuk mencapai tujuannya. Pak Hendropriyono mantan Kabin menegaskan bahwa pada periode pilpres saat ini terjadi pertempuran antara ideologi Pancasila vs ideologi Khilafah.

Khilafah (Arab : الخلافة‎, Al-Khilāfah) didefinisikan sebagai sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum- hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Pemimpinnya disebut Khalifah , dapat juga disebut Imam atau Amirul Mukminin (Wiki).

Di Indonesia ada beberapa kelompok yang ingin penerapan sistem Khilafah menurut versinya masing-masing. Ada HTI, ada Ormas dan Parpol Islam, ada juga klpk teroris Al-Qaeda, berusaha mencapai tujuannya melalui jalur legislatif. Kini akur-akur saja tetapi kalau sukses ya akan berkelahi sesamanya.

Kelompok teroris ISIS pada 2014 pernah mendeklarasikan kekhalifahan di Suriah, dengan pemimpinnya Abu Bakar al-Baghdadi. Keras dan kejam, yang tidak mau gabung dibantai, ditembak, potong lehernya. Islam dimanipulasi, istilah berjihad dan mati syahid jadi kata bertuah untuk membunuh orang kafir dengann suicide bombing, yang katanya dijamin masuk surga dijemput 72 bidadari yang perawan. Sempat berkembang juga di sini.

Konflik Suriah adalah contoh yang jelas, remuk berkeping-keping, tdk ada rasa belas kasihan , korban tewas dan yang ngungsi jutaan. Konflik Syiah dan Sunni dibesarkan, yang ikut pesta ya negara super power, tapi korban menderita tetap rakyat bawahdi Suriah.

Nah, upaya yang sama ada di sini, Indonesia negara dengann penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, jelas menjadi target internasionalisasi dari beberapa versi khilafah.

Menurut Menhan Ryamizard Ryacudu, ideologi khilafah di Indonesia sudah mulai masuk ke ranah pendidikan. Di sana, para penyebar ideologi pun mengharamkan Pancasila, dan mengafirkan orang-orang yang masih berpedoman pada Pancasila. "Sudah masuk sekolah-sekolah, pesantren- pesantren. Pancasila haram, di kafir-kafirkan, Islam enggak boleh seperti itu,” tuturnya.

Selain itu fanatisme dan faham radikal saat pilpres ini juga coba disentuhkan ke purnawirawan TNI khususnya dengan istilah mengetuk langit, anti China, anti PKI dan anti kerakusan, dan katanya memohon kpd Allah. Sekali terbina, sangat sulit lepas libatnya. Kontaminasi kepercayaan semu itu bisa membuat org menjadi irrational, padahal mereka orang-orang dengan pangkat tinggi, yang makan nasi Pancasila, berderajat karena Pancasila...

Jadi ini adalah strategi jangka panjang, oleh karenanya pada masa mendatang kita akan menghadapi persaingan ideologi dan bukan pragmatisme lagi. Karena itu TNI dan juga bagi para purnawirawan, saya mengingatkan, mari pegang pesan Pangsar (Panglima Besar) Soedirman, jangan lupa kita prajurit yang ber ideologi. Ideologi kita adalah Pancasila, lupakan yang lain.

Pensiun itu hanyalah status, tapi kita tetap prajurit yang setia kepada bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salam Setia.  Old Soldier Never Die.

Marsda Pur Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen.

***