Tentang Bahar bin Smith dan Agama Yang Terasing

Rabu, 19 Desember 2018 | 18:04 WIB
0
630
Tentang Bahar bin Smith dan Agama Yang Terasing
Bahar bin Smith (Foto: Kompas.com)

Saya melihat agama itu seperti serpihan budaya. Dia tidak berdiri tunggal sebagai sistem terpisah dari pranata yang ada dalam masyarakat.

Karenanya ilmu sosiologi mengkategorikan agama “hanya” sebagai salah satu norma dari beberapa norma lainnya; norma hukum, kebiasaan, kesusilaan, agama, dan lainnya.

Semua norma ini kemudian diakumulasikan menjadi “kesepakatan bersama” untuk diindahkan oleh seluruh elemen masyarakat, dan dikodifikasi dalam bentuk aturan, hukum, adat istiadat dan semua yang dianggap bisa mengatur agar perilaku anggota masyarakat bisa menyenangkan dan tak ada gesekan.

Agama, dalam perjalanannya sebenarnya justru jadi tambalan untuk menutupi lubang-lubang moral dalam “kesepakatan” itu. Dia tak menggerus atau malah menghilangkan, terutama budaya yang dianggap sudah baik.

Karenanya, dengan mengambil percontohan di agama Islam, nabi tak menghilangkan tradisi tawaf di Kakbah, memuliakan air zam-zam, menghormati orang tua, dan sebagainya. Nabi hanya datang menghilangkan sifat “jahiliah” dalam kultur penguasa bangsawan Quraisy saat itu.

Nabi melarang kekerasan, perjudian, mabuk-mabukan, meminimalkan perbudakan, membatasi perkawinan banyak sekali dan menekankan pada jumlah maksimal empat – bahkan menambah prasyarat adil dalam aturannya. Nabi melarang penyembahan tuhan melalui patung-patung, menghilangkan sekat strata sosial dan sebagainya.

Nabi juga melestarikan penggunaan bahasa Arab sebagai alat komunikasi dalam pengabaran ayat-ayat suci, bukan menggunakan bahasa Ibrani dan lainnya sebagaimana yang digunakan para nabi sebelumnya. 

Kiblat untuk sholat pun dipindahkannya ke Kakbah, yang sebelumnya mengarah ke Baitul Maqdis di Yerusalem. Nabi datang dengan "penyesuaian-penyesuaian" yang tak memberatkan umatnya.

Intinya, agama datang dengan sebagai tukang kayu yang menyambung serpihan-serpihan, menambal yang robek dan memperindah rumah budaya dengan "akhlak". Bukan malah datang membongkar rumah lama dan membangun sesuatu yang baru dan asing.

Karenanya, saya bingung ketika para agamawan kelompok tertentu, datang dengan memaksakan “budaya” atau aturan tertentu, sembari merendahkan budaya atau aturan lokal yang sebetulnya sudah baik.

Mereka datang dengan jubah besar panjang dan tutup kepala penuh, sembari memandang sinis ke batik, kebaya, baju kurung dan sebagainya.

Mereka datang mengganti salam selamat pagi, selamat siang, nuwun sewu, dan segala hal-hal yang dipraktekkan masyarakat secara damai dan bahagia, dengan bahasa arab yang kadang kita gugup melafalkannya.

Mereka mempersoalkan perihal penampakan seksualitas yang berkecamuk dalam pikiran mereka sembari menghakimi yang mereka lihat. Padahal persoalan utama adalah dalam pandangan dan pikiran mereka yang seronok.

Dan paling disayangkan, mereka mengedepankan wacana-wacana kekerasan dalam bangunan negeri yang sudah damai. Mereka menggaungkan jihad, caci maki ke pemimpin justru ketika suasana sudah kondusif.

Bahar Smith, Rizieq Shihab, Neno Warisman dan lainnya datang membawa gelora panji perang di tengah mayarakat yang selalu menunduk di depan orang tua, yang mencium tangan ke orang yang dimuliakan, yang welas kasih pada anak-anak. 

Mereka membawa agama yang aneh dan terasing. Dan dengan semua itu mereka masih keukeuh merasa diri menjadi rahmat bagi semesta.

Padahal, itu semua adalah tafsiran mereka saja terhadap ayat suci, bukan ayat suci itu sendiri.

Sementara ajaran leluhur kita meninggalkan petuah yang sangat rahmatan lil alamin: Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.

***