Aksara Lontaraq Pengaruhi Aksara Filipina

Semakin ke Utara pasti semakin dingin. Sementara itu, pakaian tradisional kita, sarung, terlalu tipis untuk udara dingin iklim subtropis.

Kamis, 26 November 2020 | 07:33 WIB
0
25
Aksara Lontaraq Pengaruhi Aksara Filipina
Peta kuno (Foto: dok. pribadi)

Orang Bugis-Makassar berlayar ke Utara sampai ke Filipina. Menarik penjelasan Prof. Christopher Ray Miller tentang bagaimana Aksara Filipina mendapat pengaruh dari Aksara Lontaraq, walau mungkin dari versi awalnya yang lebih kompleks. Artinya, orang Bugis-Makassar telah berlayar juga ke Utara, paling tidak sampai ke Filipina.

Sementara itu, Prof. Jean-Paul Potet mengirimi saya peta Filipina dengan toponyms aksara lontaraq yang didapatkannya di Museum Angkatan Laut Spanyol di Madrid. Memang, Filipina pernah lama dijajah oleh Spanyol.

Peta itu didapatkan oleh armada Spanyol dari kapal "bajak laut" (ini sebutan bagi kapal yang melawan armada kolonial), pada abad ke 17, di sekitar perairan Sulu, sebelah Selatan Filipina. Peta itu ditempatkan di dalam bumbung bambu yang kedap air.

Tampaknya, peta itu adalah copy dari peta Belanda atau Portugis yang kemudian diberi toponyms aksara lontaraq. Prof. Potet sempat mendaftar toponyms tersebut, yang bisa Anda lihat ditulis kecil2 di berbagai lokasi penting di peta itu.

Awalnya, Prof. Potet mengira itu adalah tulisan Arab, tetapi setelah diteliti lebih jelas, ternyata toponyms itu adalah aksara lontaraq.

Bagi saya, ini tambahan bukti bahwa orang Bugis-Makassar telah berlayar juga ke Utara, sampai ke Filipina, termasuk bagian Utara, kalau melihat toponyms di peta itu.

Berlayar secara longitudinal, Timur-Barat, lebih mudah karena iklimnya sama. Berlayar secara latitudinal, Utara-Selatan, atau dalam hal ini Selatan-Utara akan lebih sulit. Semakin ke Utara pasti semakin dingin. Sementara itu, pakaian tradisional kita, sarung, terlalu tipis untuk udara dingin iklim subtropis.

Sekali lagi, berlayar ke Utara sampai ke Filipina sudah terbukti. Tapi, adakah bukti bahwa orang Bugis-Makassar pernah berlayar, dengan perahu tradisionalnya, lebih ke Utara lagi? Taiwan misalnya, atau Beijing?

***