Catatan Biasa Orang Biasa [1] Pada Mulanya Tumpukan Majalah

Sebulan sekali Bapa mengajak saya jalan-jalan ke kawasan pertokoan Cihideung. Mendatangi toko buku Kairo. Di situ terdapat berbagai buku agama dan komik berisi kisah para nabi.

Minggu, 13 September 2020 | 10:01 WIB
0
72
Catatan Biasa Orang Biasa [1] Pada Mulanya Tumpukan Majalah
Tumpukan majalah (Foto: Cnn Indonesia)

Begitu menginjak kelas empat SD, ketertarikan saya pada dunia membaca mulai tumbuh. Saya mulai senang membaca suratkabar “Mingguan Pelajar” yang dibawa Bapa setiap pulang sekolah. Juga suratkabar “Suara Karya”. Bapa adalah Kepala SD Angkasa Cibeureum Tasikmakaya. Kegemaran membaca semakin meningkat, ketika saya menyadari di kamar belakang ternyata terdapat beberapa tumpukan majalah “Kiblat” dan “Panji Masyarakat” (Panjimas).

Lewat majalah-majalah itu saya pertama kali “berkenalan” dengan tokoh PLO Yaser Arafat, tokoh Muhammadiyah Lukman Harun, tokoh NU KH Idham Chalid, kolomnis Ayip Bakar, Buya HAMKA, Rosihan Anwar, Mahbub Junaidi dan Ridwan Saidi. Saya juga akrab dengan nama sejumlah wartawan Panjimas seperti Komarudin Hidayat dan Azyumardi Azra (kini keduanya mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah). Juga penulis masalah APBN, Hamzah Haz (kini mantan Wapres).

Melihat Komarudin Hidayat berpose di Panjimas dengan kamera menggantung di dada, membuat saya makin ingin tahu pekerjaan wartawan. Apalagi membaca tulisan Lukman Harun yang berisi hasil lawatannya ke kamp-kamp Palestina.

Saya lumat semua isi majalah-majalah itu, yang di antaranya sudah lapuk dan berdebu. Rupanya itulah yang mengakibatkan saya menderita sakit mata cukup lama. Mata saya merah, berair dan mengeluarkan tahi mata.

Mengetahui kondisi mata saya seperti itu, selain melarang untuk sementara membaca majalah-majalah itu, Bapa juga meminta saya berhenti dulu meminjam buku-buku dari perpustakaan umum milik Pemkab Tasikmalaya -lokasinya dulu di dekat Pasar Mambo belakang gedung pusat pemerintahan. Pelarangan itu penderitaan tersendiri bagi saya. Karena saat itu, menginjak kelas lima SD, saya sedang gandrung pula membaca buku-buku wayang karya RA Kosasih.

Di kampung saya juga ada Kang Yayat yang suka menyewakan buku komik silat berbagai judul. Mamah suka meminjamnya, dan saya masih belum diperbolehkan membacanya dengan alasan masih kecil. Karena itu, saya suka mencuri-curi kesempatan mambaca komik jika Mamah dan Bapak sedang pergi keluar rumah. Komik silat pertama yang saya baca adalah “Sayuti Jago Cengkareng”. Lupa siapa pengarangnya.

Sebulan sekali Bapa mengajak saya jalan-jalan ke kawasan pertokoan Cihideung. Mendatangi toko buku Kairo. Di situ terdapat berbagai buku agama dan komik berisi kisah para nabi.


Komarudin Hidayat (medcom.id)

Mengasyikan juga membaca komik-komik itu. Pemilik toko tersebut keturunan Arab-Mesir, berbicaranya lemah lembut. Sesekali Bapa membawa majalah Mangle. Maka saya mengenal penulis seperti Usep Romli, Anis Jatisunda, Wahyu Wibisana, Abdullah Mustappa dan Aam Amilia.

Belakangan Bapa juga berlangganan mingguan berbahasa Sunda Giwangkara. Cerita silat karya S. Sukandar di koran itu sangat menarik. Misalnya cerita “Si Buntung Jago Tutugan” yang bercerita tentang seorang pendekar yang gagah berani di zaman penjajahan Belanda, dengan seting lokasi daerah Garut. Cerita ini kemudian dibukukan dan menjadi dongeng di radio yang sangat digemari masyarakat.

***