Kompas, Berlayar di Antara Scyla dan Caribdis, Catatan Ulang Tahun Kompas Ke-55

Seperti menghadapi “Scylla dan Carybdis”. Baru sebulan diangkat jadi wartawan kudu dipelengosi boss tertinggi. Dan semenjak saat itu, Pak Ojong pun selalu melengos jika ketemu saya…

Senin, 29 Juni 2020 | 07:47 WIB
0
244
Kompas, Berlayar di Antara Scyla dan Caribdis, Catatan Ulang Tahun Kompas Ke-55
Pejabat mengunjungi kantor redaksi, diterima Pak Swantoro (Foto: Dok. pribadi)

Mengelola sebuah surat kabar di negara berkembang seperti Indonesia menurut Jakob Oetama digambarkan ibarat “berlayar di antara Scyla dan Caribdis”. Itu dituliskan Pemimpin Redaksi harian Kompas tersebut pada sebuah Tajuk Rencana 45 tahun lalu, saat Kompas memperingati ulang tahun ke-10 nya pada 28 Juni 1975.

Jakob Oetama pada saat jaya-jayanya Orde Baru di bawah Soeharto pada 1975 memang sangat sering menuliskan Tajuk dengan bahasa kiasan, simbolis, dan tidak jarang memakai pakai kata-kata bersayap yang tidak langsung pada sasaran. Kalau tidak? Bakal berdering-dering telpon dari penguasa Orde Baru di meja kantor Redaksi Kompas. Penguasa tengah gencar melarang tulis ini, melarang tulis itu. (Redaksi Kompas pada saat itu masih menempati di sebuah bangunan kuno bekas pabrik obat Konimex di Palmerah Selatan, kini menjadi lokasi Gedung Kompas Gramedia di Jakarta).

Jakob Oetama menyindir dalam tajuknya, betapa sulitnya mengelola surat kabar di negeri yang nasib medianya dipegang oleh penguasa. Selain kudu memegang Surat Izin Terbit (SIT), sebuah surat kabar di era Orde Baru kudu memegang pula Surat Izin Cetak (SIC). Kudu ada dua-duanya. Kalau salah satu tidak ada atau dicabut penguasa setiap saat? Ya tidak bisa terbit. Maka kata Jakob Oetama, Kompas sudah bertahan 10 tahun terbit (hari ini tepat 55 tahun per 28 Juni 2020) itu sudah berterima kasih, katanya.

Papan tulis Redaksi Kompas pada tahun 1975 , penuh tempelan kertas lembaran panjang bertuliskan tangan, berisi berbagai larangan penguasa Orde Baru, apa saja yang tidak boleh diberitakan di koran. Larangan itu tidak hanya datang dari berbagai otoritas militer, pejabat tinggi seperti Kapuspen ABRI, ataupun pejabat-pejabat militer di tingkat daerah seperti Koramil, Kodim. Tetapi juga rambu-rambu larangan dari pejabat setingkat walikota, bupati.

Catatan-catatan larangan di papan tulis Redaksi itu dituliskan oleh siapa saja penerima telpon di Redaksi Kompas, atau wartawan di lapangan yang mendapat peringatan larangan dari penguasa Orba. Ujung-ujungnya, kalau dinilai terlalu kritis beritanya, pemimpin Redaksi dipanggil menghadap penguasa.

“Scyla dan Caribdis” (Scylla et Carybdis) adalah monster laut versi penyair Yunani Homerus. Kita tak akan menangkap apa makna kiasan yang diungkapkan Jakob Oetama, jika tidak membaca buku Homerus. Apalagi waktu itu belum ada Mbah Google. Jakob Oetama membaca kitab Homerus sebagai bacaan wajib siswa Seminari (1950-an), semacam kolese atau asrama untuk para calon pastor Katolik tempat yang dulu pernah dilalui oleh pemimpin media asal Sleman Yogyakarta ini.

Scylla digambarkan oleh Homerus sebagai makhluk monster berkepala enam di sisi Selat Calabria. Sedangkan Carybdis adalah pusaran air di lepas Pantai Sicilia. Digambarkan dalam sebuah lukisan (lihat ilustrasi), kepala Scyla mencomot tubuh-tubuh pelaut dari geladak kapal di wilayah si monster di selat Calabria, sementara Carybdis si monster pusaran air laut berusaha menelan utuh-utuh kapal yang melalui wilayah itu.

Esensi dari kiasan Yunani itu sebenarnya adalah penggambaran kesulitan pers Indonesia pada era puncak Orde Baru itu. Berbagai pembatasan pemberitaan oleh penguasa Orba, membuat pers seolah harus “memilih yang lebih rendah dari dua kejahatan”.

Menjalankan jurnalisme “minus malum”, masih lebih bagus menulis sentilan kecil mengritik penguasa, ketimbang tidak menuliskan sama sekali. Situasi sulit, dimana pers pada waktu itu harus setiap kali dihadapkan pada pilihan untuk menulis jalan tengah, di antara hal ekstrem yang sama-sama berbahaya agar bisa terhindar dari bencana, koran dibreidel penguasa.

Tulisan Tajuk Rencana di Kompas itu diterbitkan, tiga tahun sebelum Kompas benar-bener dibreidel, sempat dicabut izin cetaknya oleh penguasa Orde Baru pada Januari 1978 selama kurang lebih dua minggu.

Diplonco

Situasi politik Indonesia pada 1975 ketika itu aman-aman saja, meskipun di bawah penguasa otoriter. Sang penguasa Orde Baru, Soeharto, ketika Jakob Oetama menurunkan tajuknya yang bersayap itu, presiden berada di Iran. Berita tentang kunjungan Soeharto ke istana pemimpin Iran waktu itu, Syah Iran di Istana Shahadabad, Teheran, menjadi berita headlines di Kompas 28 Juni 1975.

Di halaman depan Kompas hari itu, ada juga ucapan Selamat Ulang Tahun Kompas dari Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota, Ali Sadikin (Letnan Jendral TNI/KKO AL). Tulisannya dimuat lengkap, dibingkai di Halaman Satu. Sadikin mengatakan, “Kompas tidak hanya besar dalam hal oplag, akan tetapi juga pengaruhnya…,” Kompas , menurut tajuk Jakob Oetama, tirasnya mencapai 205.000 eksemplar, terbesar di Indonesia saat itu, separuh oplag saat ini.

Berita utama pada hari ulang tahun Kompas ke-10 saat itu, selain preview pertandingan tinju akbar, antara Muhammad Ali dari AS vs Joe Bugner dari Inggris di arena tinju Kuala Lumpur, Malaysia pada 1 Juli 1975. Juga berita ancaman diktator Uganda, Idi Amin, pada Inggris agar menghentikan kampanye anti dirinya. Kalau tidak mau 700 warga Inggris di Uganda akan “mengalami nasib buruk lebih dari Dennis Hills”. Hills adalah dosen Inggris yang tengah diadili di Uganda karena dinilai menyebarkan ajaran kebencian di Uganda terhadap Idi Amin.

Halaman utama Kompas hari itu juga dihiasi tulisan bersambung yang ke-6, tulisan penghabisan wartawati Threes Nio (alm), yang menuliskan pengalamannya mengunjungi pangkalan militer AS di Filipina, Subic dan Clark. Serta Pulau Grande di Filipina, tempat ribuan pengungsi perang Vietnam dan Kamboja yang terdampar dan sebagian ditampung di sana.

Ketika Kompas merayakan peringatan ulang tahunnya yang ke-10 tahun 1975 itu, saya baru sebulan diangkat jadi wartawan Kompas. Masih wartawan anyar gres, dan dalam posisi kudu bersedia digojlok oleh para senior sebagai karyawan baru.

Memperingati ulang tahun ke-10 nya pada 1975 itu, Kompas menggelar pameran Koleksi Lukisan Kompas (PK Ojong yang penggemar seni, seperti lukisan serta koleksi keramik kuno) karya para maestro Indonesia seperti Affandi, Soedjojono. Dibarengkan acara Pameran “Indonesia dalam 250 Foto Kompas” yang dikordinasi oleh fotografer top Kompas waktu itu, Kartono Ryadi di Taman Ismail Marzuki, Cikini Jakarta Pusat.

Ketika pameran dibuka oleh Menteri Penerangan Mashuri SH di Taman Ismail Marzuki, pada 25 Juni 1975, sejumlah senior Rustam Affandi dan kawan-kawan lainnya memelonco saya dari pojok ruang pameran.

“Kamu mesti mewawancara Pak Ojong (pemimpin umum Kompas) kalau nggak, kamu nggak jadi diangkat…,” kata Rustam Affandi, Redaktur Malam Kompas waktu itu. Baru sebulan diangkat, mau dicabut lagi? Saya pun gencar mewawancarai pak Ojong di ruang pameran. Pak Ojong bersemangat menjawab, pertanyaan “wartawan muda” yang belum dikenalnya ini. Panjang lebar. Setelah itu, Ojong pun bertanya.

“You dari media mana?” tanya Ojong. “Dari Kompas pak….,” kata saya pada pak Ojong. Pak Ojong langsung melengos, dikira wartawan media lain, ia pun berpaling meninggalkan saya ketika tahu saya ternyata dari Kompas...

Seperti menghadapi “Scylla dan Carybdis”. Baru sebulan diangkat jadi wartawan kudu dipelengosi boss tertinggi. Dan semenjak saat itu, Pak Ojong pun selalu melengos jika ketemu saya…

***

JIMMY S HARIANTO (Jakarta, 28/06/2020)

***