Pelajaran Bahasa Tubuh dari Lagu Rock-and-Roll

Kita tidak menerima pelatihan formal dalam bahasa tubuh dan bentuk komunikasi nonverbal. Sebaliknya, itu diambil dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat, 7 Januari 2022 | 11:32 WIB
0
93
Pelajaran Bahasa Tubuh dari Lagu Rock-and-Roll
ilustr: TV Insider

Apa yang dapat diceritakan musik populer kepada kita tentang komunikasi nonverbal?

Poin-Poin Penting

  • Penulis lagu memanfaatkan pengalaman dalam interaksi manusia dan mengungkapkan apa yang mereka lihat dalam lirik lagu.
  • Banyak lirik lagu membahas bahasa tubuh; lirik ini sering cocok dengan penelitian komunikasi nonverbal.
  • Beberapa lagu berfokus pada kemampuan untuk mengendalikan dan mengatur ekspresi nonverbal; yang lain fokus pada bagaimana kita menggunakan bahasa tubuh untuk mengekspresikan cinta.

Musik adalah salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang dapat memengaruhi emosi dan suasana hati kita. Kita semua pernah mendengar musik yang dirancang untuk membangkitkan semangat, menciptakan ketegangan dan antisipasi, dan mencerminkan kesedihan. Ini masuk akal karena penulis lagu memasukkan perasaan dan emosi mereka ke dalam musik mereka untuk mencoba "menyentuh" pendengar pada tingkat emosional.

Tetapi, bagaimana dengan liriknya?

Nah, penulis lirik adalah pengamat yang cerdik dari perilaku manusia, dan ada banyak pesan tentang komunikasi nonverbal dalam lirik lagu. Mari kita lihat beberapa pelajaran bahasa tubuh dari lagu-lagu rock and roll/pop yang terkenal.

  • “If you smile at me, I will understand. Because that is something everybody everywhere does in the same language” —Crosby Stills & Nash, "Wooden Ships"
    (“Jika engkau tersenyum padaku, aku akan mengerti. Karena itu adalah sesuatu yang dilakukan semua orang di mana pun dalam bahasa yang sama”)

Pakar ekspresi wajah Paul Ekman berpendapat bahwa ada ekspresi wajah universal tertentu yang dipancarkan dan dikenali oleh orang-orang di seluruh planet ini. Mungkin emosi universal yang paling umum adalah kebahagiaan, dan senyum adalah bagian yang menonjol dari ekspresi kebahagiaan. Tentu saja, penelitian Ekman juga memberi tahu kita bahwa ada senyum sejati ("Duchenne") dan senyum palsu.

  • “Whenever I see your smiling face I have to smile myself”—James Taylor, "Your Smiling Face"
    (“Setiap kali aku melihat wajahmu yang tersenyum, aku harus tersenyum sendiri”)

Berbicara tentang senyuman, penelitian dalam komunikasi nonverbal telah menangkap proses “penularan emosi”, yaitu bagaimana, melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara kita, emosi kita dapat dialami sendiri oleh orang lain. Kita semacam "mentransmisikan" emosi kita kepada orang lain dan mereka bisa merasakan apa yang kita rasakan.

  • “So, take a good look at my face. You'll see my smile looks out of place. If you look closer, it's easy to trace the tracks of my tears" —Smokey Robinson, "The Tracks of My Tears"
    (“Jadi, perhatikan baik-baik wajahku. Engkau akan melihat senyumku terlihat tidak pada tempatnya. Jika engkau melihat lebih dekat, mudah untuk melacak jejak air mataku")

Tentu saja, kita tidak selalu mudah mengungkapkan emosi yang kita rasakan. Terkadang, kita bekerja keras untuk mengontrol tampilan emosi yang kita rasakan, sering kali menggunakan emosi yang saling bertentangan sebagai semacam "topeng".

  • “No one bites back as hard on their anger. None of my pain and woe can show through”—The Who, "Behind Blue Eyes"
    (“Tidak ada yang membalas kemarahan mereka dengan keras. Tak satu pun dari rasa sakit dan kesengsaraanku dapat ditunjukkan”)

Ekspresi emosi negatif, seperti kemarahan, sering kali ditekan. Ada bukti bagus bahwa pria lebih terampil dalam mengendalikan tampilan ekspresi emosional mereka, sementara wanita cenderung lebih terampil dalam mengekspresikan dan menyesuaikan diri dengan komunikasi emosional.

  • Something in the way she moves, attracts me like no other lover"—The Beatles, "Something"
    ("Sesuatu dalam cara dia bergerak, menarik aku tidak seperti kekasih lainnya")

Bahasa tubuh dapat digunakan untuk mengekspresikan aspek kepribadian kita. Selain itu, selain daya tarik fisik "statis" (yaitu, dilahirkan dengan tubuh atau fitur wajah yang "cantik"), ada daya tarik "dinamis"—gaya perilaku kita yang dapat secara fisik menarik bagi orang lain.

  • “The look of love is in your eyes. A look your smile can't disguise. The look of love, it's saying so much more than just words could ever say"—Sergio Mendes and Brasil 66, "The Look of Love"
    (“Tampilan cinta ada di matamu. Tatapan senyummu tidak bisa disamarkan. Tampilan cinta, itu mengatakan lebih dari sekadar kata-kata yang bisa dikatakan")

Mata kita sangat pandai mengomunikasikan pesan nonverbal. Isyarat ketertarikan fisik dapat mencakup sesuatu yang halus seperti pelebaran pupil. Orang yang sedang jatuh cinta cenderung lebih terlibat dalam tatapan timbal balik—menatap mata satu sama lain—daripada teman atau relasi.

  • “You’ve got the magic touch. You make me glow so much it casts a spell, it rings a bell. The magic touch"—The Platters, "(You’ve Got) the Magic Touch"
    (“Engkau memiliki sentuhan ajaib. Engkau membuat aku bersinar begitu banyak itu mengucapkan mantra, itu membunyikan bel. Sentuhan ajaib")

Seperti kontak mata, sentuhan dapat digunakan untuk mengekspresikan pesan yang halus dan kompleks kepada orang lain. Ada sentuhan cinta dan kelembutan, tetapi kita juga bisa menggunakan sentuhan untuk mengintimidasi atau mengalihkan perhatian orang lain.

Sangat menarik untuk dicatat bahwa kita tidak menerima pelatihan formal dalam bahasa tubuh dan bentuk komunikasi nonverbal. Sebaliknya, itu diambil dalam kehidupan sehari-hari.

***
Solo, Jumat, 7 Januari 2022. 11:21 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
suka idea
antologi puisi suko