Strategi Sukses, Berkarakter dalam Permainan Hidup

Karakter memang dipengaruhi oleh sifat bawaan sejak lahir, namun pilihan-pilhan yang saya lakukan juga mempengaruhi proses pembentukannya.

Minggu, 27 Februari 2022 | 09:08 WIB
0
92
Strategi Sukses, Berkarakter dalam Permainan Hidup
Ilustrasi https://pixabay.com

Setiap orang merindukan kehidupan yang mendapat penghargaan di mata orang lain, karena semua orang diciptakan dengan apa yang dinamakan citra diri dan harga diri. Karena itu dengan atau tanpa disadarinya setiap orang merindukan apa yang dinamakan SUKSES, karena dengan kesuksesanlah seseorang merasa bahwa dia ada diatas rata-rata, dan dia merasa berharga hidup sukses sudah merupakan bagian dari kehidupan setiap orang dalam mimpinya.

Tujuan Hidup “Setiap orang sedang bergerak kearah definisi suksesnya masing-masing.” Definisi sukses ibarat motor penggerak yang menuntun seseorang secara sadar atau tidak untuk berprilaku tertentu. 

1. Bila seseorang yakin bahwa uang adalah ukuran sukses maka segala tindakannya akan di ukur dengan uang.

2. Bila orang itu meyakini bahwa kedudukan adalah ukuran kesuksesan, maka seumur hidupnya ia akan mengejar kedudukan.

Konsep sukses menurut saudara?

a. Saya merasa sukses bila memiliki banyak uang

b. Saya merasa sukses bila memiliki rumah mewah 

c. Saya marasa sukses bila memiliki pekerjaan yang sesusai dengan ekspektasi hidup

d. Saya merasa sukses bila memiliki pendidikan tinggi

e. Saya merasa sukses bila memiliki jabatan/ kuasa

f. Saya merasa sukses kalau jadi pengusaha/ direktur perusahan

g. Saya merasa sukses bila bila memiliki pasangan idaman

h. Saya merasa puas bila memiliki semuanya

Dikatakan bahwa pada tahun 1953 Yale University meminta lulusan tahun itu untuk menuliskan cita-cita mereka, ternyata hanya 3% yang mampu menuliskan cita-cita mereka saat itu juga. Tahun 1973, 20 tahun kemudian tenyata keberhasilan yang dicapai oleh yang 3% jauh melampaui total keberhasilan yang 97%.

1. Kedahsyatan menulisan impian:

“Semua orang memiliki impian, 97% menyimpannya dalam pikirannya, hanya 3% yang menuliskannya, tiulah sebabnya mengapa hanya ada 3% orang yang sukses didunia ini (Rockefeller)”. Pastikan semua kompasianer menuliskan konsep sukses di rumah kita, karena akan di evaluasi pada akhir bahwa hidup ini adalah kesempatan. Memang tidak mudah karena akan banyak yang belum pernah memikirkan apa konsep sukses mereka secara sadar, tetapi mereka semua pasti memilikinya secara tidak disadari untuk mencari akar.

Bila gambarannya:

Kehidupan saudara adalah sebagai sebatang pohon, dan kesuksesan adalah buah yang dihasilkannya, apakah yang seharusnya menjadi akarnya?

Akarnya adalah karakter.

Bagikan secarik kertas kosong pada setiap peserta. Dalam suasana tenang, secara pribadi, minta mereka memikirkan tentang orang-orang yang sukses yang mereka kenal, baik yang dikenal secara pribadi maupun melalui membaca sejarah hidup dan sukses mereka.

a. Minta mereka menuliskan dengan satu kata ata frasa saja, alasan kuat mengapa orang-orang itu bisa sukses dalam hidupnya.

b. Berikan “clue” dengan mengatakan: “mungkin karena mereka baik, atau jujur, atau pekerja keras, atau cerdas, dll., masih banyak lagi, namun cukup tuliskan “satu” yang terpenting.

c. Setelah peserta selesai menulis,minta tiap peserta maju dan menaruh kertas mereka di kotak yang tersedia di depan, (sediakan 2 kotak, kotak kompetensi dan kotak karakter, ukuran sesuai keperluan). 

d. Jelaskan pada peserta bila jawaban yang mereka tulis berhubungan dengan karakter, masukkan di kotak karakter. Bila jawaban mereka berkaitan dengan kompetensi, masukkan ke kotak kompetensi.

e. Hitung jumlah jawaban yang ada ditiap-tiap kotak, biasanya 80 – 90% jawaban akan berada di kotak karakter, karena kesuksesan banyak ditentukan oleh karakter.

Sukses berakar dari karakter, meskipun kemampuan juga memberi kontribusi dalam kesuksesan, namun keberhasilan yang sesungguhnya selalu berakar dari karakter, dan keberuntungan juga selalu berpihak pada mereka yang berkarakter baik. 

Banyak orang mempersiapkan hari esok dengan berinvestasi pada pengembangan kompetensi, hal ini tidaklah salah, kompetensi sangatlah penting, namun untuk menjadi pejuang yang tangguh dibutuhkan karakter yang kuat. “Sebatang pohon takkan pernah bertumbuh, apalagi menghasilkan buah bila akarnya rusak.”

Berfokuslah pada akarnya, bukan buahnya. 

Dimanakah fokus saudara selama ini?

1. Saya cenderung berfokus pada: Karakter dan kesuksesan

2. Untuk itu saya akan lebih fokus pada: Buah dan karakter

Ingatlah bahwa kecenderungan akan menjawab bahwa mereka berfokus pada akarnya yaitu karakter. Dibandingkan jawaban peserta di aktivitas 1. A dengan jawaban di aktivitas 1B, bila dalam rumusan tujuan hidupnya tidak ada unsur “Character ”-nya, maka dapat dipastikan bahwa fokusnya selama ini hanyalah di buahnya, bukan di akarnya.

Ingatkan bahwa pertanyaan diatas hanyalah untuk refleksi diri, jadi sebaiknya jawab dengan benar dan jujur.

A: Memahami Karakter.

Tradisi Yunani: Karakter (karasso) berarti bentuk dasar, atau cetak biru (blue print) dari keperibadian seseorang yang dibawa sejak lahir, karena masih besifat dasar maka masih bisa dikembangkan.

Tradisi Yahudi: Karakter adalah bentuk kepribadian seseorang yang tidak bisa terselami, dan terkuasai, seperti lautan yang dapat bergejolak dan berubah bentuk tanpa bisa dikendalikan oleh manusia.

Emmanuel Mounier: Karakter adalah kepribadian seseorang, sebagai hasil perpaduan dari sifat dasar yang bersumber dari bawaan sejak lahir (Given Character) dengan sifat dasar sebagai hasil pilihan keputusan yang diambil (Gotten Character). Pandangan Yunani dan pandangan Yahudi sebenarnya memiliki dasar yang sama yaitu dibawa sejak lahir, pandangan Yunani lebih menekankan dari sisi si pemilik yang harus bertanggung jawab mengembangkannya. Sedangkan pandangan Yahudi lebih menekankan pada sisi si penilik atau orang lain yang melihatnya, sehingga diperlukan ke arifan dalam menyikapi karakter seseorang, karena ada hal-hal yang sudah dibawanya sejak lahir yang tidak bisa dihilangkannya. 

Pandangan Yahudi juga menekankan bahwa karakter adalah sesuatu yang pelik dan tidak sesederhana yang diamati.

B: Menilai sumber pembentukan karakter

Karakter memang dipengaruhi oleh sifat bawaan sejak lahir, namun pilihan-pilhan yang saya lakukan juga mempengaruhi proses pembentukannya. 

Karakter saya hari ini lebih banyak dipengaruhi oleh:

1. Sifat bawaan saya 

2. Keputusan saya 

3. Keputusan orang lain.

Ingatlah bahwa mereka yang memahami benar penjelasan saudara tentang penjelasan aktivitas 2A dan merasa bertanggung jawab atas hidupnya, cenderung menuliskan persentase dari #2 lebih dominan. Mereka yang menulis persentase #1 lebih besar, kemungkinan kurang memahami penjelasan aktivitas 2A, atau cenderung mengatakan bahwa dia sulit berubah jadi terima saja dirinya apa adanya. Mereka yang menulis persentase #3 lebih besar, cenderung menganggap siapa dirinya hari ini adalah korban dari situasi ataupun orang lain dimasa lalu.

C. Debat.

Bila gambarannya:

Kehidupan saudara adalah sebagai sebatang pohon, dan karakter adalah buah yang dihasilkannya, apakah yang seharusnya menjadi akarnya?

Akarnya adalah 

a. Attitude (Sikap Hati), 

b. Belief (Keyakinan), dan

c. Committment (Tekad untuk bertindak)

Bagilah peserta dalam 3 (tiga) kelompok, Head (pikiran), Heart (hati), dan Hand (perbuatan) berikan secarik kertas yang berisi “clue” kepada masing-masing kelompok:

1. Kelompok Head: pikiranlah yang terpenting, karena orang yang tidak waras sudah pasti prilakunya buruk.

2. Kelompok Heart: hatilah yang terpenting, karena kalau hati tidak tulus, prilaku yang baik sekalipun hanyalah kemunafikan.

3. Kelompok Hand: perbuatanlah yang terpenting, karena orang sering dikatakan tidak waras atau tidak tulus karena prilakunya yang buruk.

Minta mereka berdebat, untuk mempertahankan bahwa merekalah yang terpenting dalam membangun karakter. Akhiri dengan memberikan kesimpulan bahwa pembentukan karakter berakar di ketiga wilayah ini.

1. Karakter berakar di hati, karena dari ketulusan hatilah kebenaran suatu sikap atau prilaku diukur.

2. Karakter juga berakar di pikiran, karena seseorang yang memiliki keyakinan yang salah akan menghasilkan prilaku yang menyimpang dari norma yang umum.

3. Karakter berakar dari komitmen yang diwujudkan dalam bentuk prilaku yang dapat dilihat dan dinilai orang lain.

D. Refleksi Pribadi.

Banyak orang memahami sukses itu identik dengan pencapaian (achievement). 

1. Seseorang dianggap sukses bila..... kaya raya, atau....

2. memiliki kedudukan tinggi, atau........

3. memiliki kekuasaan besar, dstnya ..... 

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”

Pencapaian atau keberhasilan sebagai ukuan sukses bukanlah hal yang salah, namun kerhasilan itu harus melalui proses yang benar, dan proses yang benar selalu berakar pada karakter yang baik. Mintalah peserta merenungkan “Mutiara Iman” diatas, dan setelah hening beberapa saat, mintalah beberapa orang memberikan tanggapannya tentang makna sukses. Simpulkan bahwa ada kehidupan lain sesudah kehidupan ini, sukses dunia adalah achievement, tapi sukses dunia tidak menjamin sukses akhirat. Pastikan kita semua sukses dunia-akhirat.

1. Minta peserta membaca kembali definisi sukses yang sudah mereka tuliskan diawal sesi pelajaran ini, minta mereka mengevaluasi, dimanakah fokus mereka selama ini, “Apakah mereka di jalur yang benar?”, “Apakah sudah mengandung unsur KARAKTER didalamnya?”.

2. Minta mereka menulis kembali definisi sukses mereka menulis kembali definisi sukses mereka, bila ada waktu minta mereka menghafalkan, dengan cara saudara contohkan definisi sukses saudara pribadi sebagai fasilitator.

3. Akhiri dengan mereview secara ringkas, bila memungkinkan akhiri dengan doa.

Hidup saya benar-benar sukses bila:

Saya mampu menjalani hidup yang BERMAKNA, maka.

1. BENAR dihadapan TUHAN,

2. BERHARGA dimata keluarga,

3. BERDAMPAK KEKAL bagi sesama.

***