Rumah sebagai RS Keluarga

Baiknya mulai dipikirkan dan dicarikan solusinya, siapa tahu bisa meringankan tugas para dokter dan perawat.

Selasa, 19 Mei 2020 | 05:36 WIB
0
232
Rumah sebagai RS Keluarga
Rumah sakit beraroma rumah (Foto: edupaint.com)

Ada beberapa kisah yang terungkap di media mainstream ataupun media sosial, bahwa perawatan pasien corona saat menjalani isolasi di RS tidak lebih baik dibanding di rumah sendiri.

Ada dokter, pasien corona yang menunggu air minum hingga satu jam, saat di ruang isolasi di RS. Sampai mengeluh kehausan dan menghubungi keluarganya. Dokter ini akhirnya meninggal.

Ada ibu hamil, yang mengeluh nasinya keras, merasa tidak dilayani dengan baik. Ibu ini akhirnya meninggal.

Banyak lagi keluhan lainnya, terkait penatalaksanaan perawatan pasien corona di RS.

Namun, kita tidak menutup mata. Banyak juga pasien corona yang diperlakukan sangat baik. Seperti testimoni Menteri Perhubungan.

Apakah sampai saat ini belum ada standar khusus perawatan pasien corona, supaya bisa mendapatkan layanan yang sama bagusnya?

Kalau orang yang terinveksi corona datang ke RS kondisinya malah jadi memburuk, nanti orang jadi takut ke RS, atau bahkan menolak untuk dites.

Mungkin sudah saatnya, ada opsi lain: perawatan pasien corona di rumah masing-masing.

Dengan jaminan asupan makanan yang lebih baik, minum yang cukup, dan perhatian ekstra dari keluarga, bisa jadi membuat daya tahan tubuh pasien meningkat dan bisa pulih kembali.

Tentu pasien corona akan lebih senang dirawat di rumah, daripada di RS. Setidaknya untuk penderita corona dengan level tertentu.

Mungkinkah rumah kita menjadi RS bagi keluarga kita sendiri?

Sehingga dokter dan perawat cukup melakukan kunjungan atau mungkin monitoring via online?

Baiknya mulai dipikirkan dan dicarikan solusinya, siapa tahu bisa meringankan tugas para dokter dan perawat.

Dan yang penting, bisa makin banyak pasien yang sembuh.

Tentu dengan SOP yang ketat, kalau dirawat di rumah sendiri.

Salam sehat, jaga jarak, lawan corona.

***