Kultum Tarawih [10]: Berpikir Kritis

Tidak asal percaya dan bagikan, namun mencari referensi pembanding dan menentukan berdasarkan standar yang jelas, bagaimana kita harus bersikap.

Selasa, 5 Mei 2020 | 06:12 WIB
0
2290
Kultum Tarawih [10]: Berpikir Kritis
Berpikir kritis (Foto: beritagar.id)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah wa syukurillah, hari ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala masih mengizinkan kita untuk menjalani bulan Ramadan hingga kita memasuki malam kesepuluh, atau sudah sepertiga bulan Ramadan. Semoga semangat ibadah dan takwa kita tetap terjaga dan terus bertambah, dan semoga Allah berikan kita kesempatan untuk menyelesaikan bulan Ramadan ini, juga agar kita bisa berjumpa lagi dengan Ramadan di tahun-tahun berikutnya.

Tak lupa marilah kita berselawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Sallam, dan moga-mogalah kita termasuk orang-orang yang beruntung mendapatkan syafaat beliau di yaumul qiyamah kelak, aamiin ya rabbal alamin.

Sepertiga bulan Ramadan kali ini sangat spesial, karena jatuh pada 2 Mei. Tanggal 2 Mei diperingati oleh masyarakat Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sebagai guru, tentu saja ini spesial bagi saya. Namun, kultum kali ini tidak secara spesifik membahas pentingnya belajar, karena itu sudah di kultum sebelumnya. Kultum kali ini menekankan pada pentingnya salah satu aspek yang harus dimiliki seorang pembelajar, terutama pembelajar dewasa/adult learner. Aspek ini adalah berpikir kritis.

Seorang pembelajar dewasa tidak lagi belajar hanya untuk memenuhi tuntutan institusi pendidikan, namun untuk memenuhi rasa keingintahuannya akan suatu ilmu. Oleh karena itu, seorang pembelajar dewasa akan melihat fenomena-fenomena di alam, dan mempertanyakan fenomena tersebut. Dalam proses mencari jawaban atas pertanyaannya, ia akan menemukan banyak informasi yang ada, yang mungkin akan menjawab pertanyaannya tadi. 

Setelah tahap ini, pembelajar biasa akan berhenti dengan informasi yang ada itu untuk dianggap sebagai jawaban. Namun, pembelajar dewasa tidak cukup dengan itu. Ia baca kembali informasi yang ada, ia bandingkan informasi satu sama lain, mencari mana yang paling tepat dan relevan sesuai standar keilmuan yang obyektif, tidak berdasarkan suka atau tidak suka. Dengan demikian ia dapat menyintesis penjelasan baru terhadap fenomena yang ia temui. 

Ini yang disebut berpikir kritis. Seorang pembelajar dewasa tidak hanya disuapi informasi oleh sumber belajarnya. Ia akan meninjau kembali informasi-informasi yang ada dan membandingkannya, untuk mencari mana yang paling tepat dan relevan untuk permasalahan yang ia amati. Dengan demikian ia paham bagaimana ia harus bersikap.

Berpikir kritis ini menjadi penting dalam kehidupan kita sebagai manusia. Terlebih di zaman sekarang, dengan semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi yang memudahkan sebuah informasi tersebar luas. WHO sendiri menyebut, dalam pandemi COVID-19 ini terjadi ‘infodemi’ saking banyaknya informasi yang muncul terkait COVID-19. Kalau kita tidak berpikir kritis, maka akan sulit bagi kita untuk bersikap.

Quran Surah Al Hujurat ayat 6 juga menekankan pentingnya tabayyun, cek dan ricek, atau dengan kata lain melakukan proses berpikir kritis terhadap sebuah informasi yang masuk kepada kita. Tujuannya adalah agar kita tidak mencelakakan orang lain atau bahkan suatu kaum, hanya karena ketidaktahuan kita. Jelas bahwa selain belajar sepanjang hayat sebagaimana yang sudah disampaikan dalam kultum sebelumnya, berpikir kritis merupakan hal penting dalam ajaran Islam.

Seorang muslim, apalagi muslim yang menjadi pembelajar dewasa, tidak akan asal meneruskan informasi dengan alasan ‘sekadar meneruskan’ lalu ketika informasi itu salah ia berkelit dengan alasan ‘belum ngecek, hanya meneruskan’. Seorang muslim mestinya menerapkan prinsip berpikir kritis terhadap informasi yang ia terima. Ia pertanyakan informasi itu, ia cari informasi pembanding, lalu ia tentukan berdasarkan standar keilmuan obyektif untuk menyimpulkan mana yang benar.

Seorang yang berpikir kritis, juga tidak berhenti pada benar atau salah. Ia akan mempertanyakan lagi: apakah manfaat informasi tadi? Apa dampaknya jika informasi ini diteruskan? Maka ia akan berhati-hati untuk menyebarkan suatu informasi. Apabila bermanfaat ia sebarkan, apabila tidak bermanfaat ia tahan. Dengan demikian ia terhindar dari mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuannya.

Mari kita berpikir kritis dalam menanggapi setiap informasi yang masuk. Tidak asal percaya dan bagikan, namun mencari referensi pembanding dan menentukan berdasarkan standar yang jelas, bagaimana kita harus bersikap.

Wallahu a’lam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

***