Seberapa Sulit Membawa Pulang Uang Negara yang Dicuri?

Senin, 11 Februari 2019 | 19:08 WIB
1
1128
Seberapa Sulit Membawa Pulang Uang Negara yang Dicuri?
Penandatanganan MLA (Foto: Facebook.com)

Saat dua hari lalu, di media di-declare bahwa Pemerintah Indonesia dengan Swiss bersetuju untuk bekerjasama mengusut uang yang disimpan di bank-bank luar negeri. Mengapa Swiss, ya tak ada uang sepeser yang bisa lepas dari jaringan telematik mereka. Maka banyak pihak yang bersorak sorai.

Gembira? Atau kurang up-date data. Memang itu sebuah kemajuan yang sangat berarti, dibanding puluhan tahun tanpa tersentuh. Beberapa bulan lalu, saya pernah menuliskannya bahwa media-media di luar negeri telah ramai membicarakan.

Ketika di Hamburg, saya membaca ulasan di Der Spiegel, ini "Tempo"-nya Jerman dengan kewibawaan dan integritas yang tikel tekuk, berlipat-lipat tingginya. Telah memberitakannya? Tapi apa ulasannya, Indonesia dianggap sudah sangat terlambat. Karena pergerakan dana di tingkat internasional itu saat ini sangat cepat, rumit, dan tak terduga.

Indonesia dapat dianggap sangat terlambat. Bandingkan saja dengan Vietnam yang lebih muda tapi sangat tegas, jangan bandingkan dengan China. China terakhir-terakhir sangat keras pada konglomerat-nya, yang luar biasa banalnya mencuci uang-nya dengan berbagai cara. Termasuk di antaranya dengan dengan membeli pemain sepakbola dengan harga selangit, nyaris tak masuk akal.

Harga kemahalan yang justru merusak aura kompetisi yang ada di negeri itu. Coba tanya apa prestasi Kesebelasan Nasional China? Tra-ada, kita sekelas dengan China hanya pada prestasi di bidang sepakbola.

Terakhir, Xin Jinping, Presiden China dengan tegas memperingatkan bahwa tak ada satu pun konglomerat yang kebal hukum dan bisa sewaktu-waktu hilang semua bisnisnya dalam waktu semalam. Kenapa ia sedemikian keras, karena ia menyadari apa yang disebut resiko finansial negara!

Sejak berkuasa, Xi telah menggelar program untuk menghentikan ekspansi bisnis China yang didorong oleh utang. Dia juga mendorong dilakukannya kampanye anti-korupsi yang telah berhasil menangkap lebih dari 1,5 juta kader Partai Komunis. Banyak konglomerat dan miliarder ternama China terpaksa harus gigit jari. Salah satunya adalah Xiao Jianhua, di mana Tomorrow Holding Co diperintahkan untuk melakukan divestasi atas banyak aset keuangannya.

Sekarang coba bandingkan dengan Indonesia? Kecuali beberapa konglomerat tradisonal, semisal Group Djarum dan Gudang Garam, tak ada satu pun konglomerasi Indonesia yang punya likuiditas baik dan cadangan dana yang cukup.

Terlalu banyak perusahaan sulapan, yang di bursa efek di pasar saham harganya layaknya roller-coaster. Bisa tiba meroket sangat mahal, karena gorengan. Tapi beberapa bulan kemudian jatuh, hingga pada titik terendah sehingga dilarang diperdagangkan.

Salah satunya, yang dimiliki Ketua Tim Pemenangan Nasional Jokowi yang beberapa waktu lalu menjual sisa saham yang dimilikinya di Kesebelasan Inter Milan.

Ini artinya apa? Indonesia itu tidak sama dengan China. Di mana selalu ada campur aduk yang tidak karuan antara bisnis dan politik. Alhasil apa pun maksud baik, tentu tak mudah untuk dieksekusi. Termasuk di dalamnya memulangkan uang yang 7000 Trilyun itu.

Tentang jumlahnya sejujurnya saya ragu, mestinya jumlahnya bisa berlipat2 kali. Wong SBY yang presiden afkiran kemarin sore saja, bisa punya simpenan yang sangat banyak. Berapa jumlahnya, halah....

Kenapa saya pesimis uang itu bisa kembali? Pertama, itu melulu keinginan Jokowi pribadi, yang bisa jadi tidak didukung koalisinya sendiri. Yang sejujurnya juga bermental maling. Mereka boleh kompak mendukung Jokowi 2 Periode. Tapi kalau sudah masuk perihal pemberantasan korupsi ya nanti dulu.

Kedua, hal ini menjelaskan kenapa Keluarga Cendana mau turun gunung lagi ke dunia politik. Ya, karena ketenangan mereka terusik. Mereka akan pakai bahasa melas tapi ngehek: "Tidak cukupkah kami setelah sekian lama berdiam diri. Tidak cukupkah Dana Super Semar saja, Tidak cukupkah disitanya RS Harapan Kita, Taman Mini bla bla bla..."

Masak warisan tabungan keluarga kami juga. Dan sialnya, sekarang mereka telah punya suporter yang bisa digerakkan kapan saja dan di mana saja. Saya selalu yakin, bahwa kasus Ahok itu sepele sekali, yang mereka sasar tetap saja Jokowi. Padahal sependek yang saya teliti, Tim yang mengurusi negosiasi ini bekerja dengan senyap dan tingkat kerahasiaan yang tinggi.

Sekali lagi, kita ini memang lelet sekali dalam pemberantasan korupsi. Ada kegiatan, tapi progress-nya sangat lambat. Jangan lupa, baru berapa tahun sih KPK punya gedung sendiri? Apa KPK sudah membangun penjara baru khusus para koruptor?

Pertanyaannya makin panjang, apa hukumannya sudah memnuhi rasa keadilan. Kadang kerja keras KPK masih terantuk pada para hakim nakal yang luar biasa tak punya malunya itu. Sejujurnya, momentum pengumuman traktat itu terlalu "publikatif dan tegesa-gesa". Jokowi belum lagi menang pilpres 2019....

Apa boleh buat! Ingat itu baru langkah awal: kesepakatan di tingkat Menteri, masih butuh kesepakatan di tingkat Presiden dan butuh dukungan seluruh Masyarakat Eropa. Jalan masih sangat panjang. Mungkin baru bisa terwujud setelah masa kedua Jokowi berakhir.

Itu saja, kalau semisal penggantinya sekualitas Ahok? Tapi bukankah Ahok sudah "dibunuh" sejak dini. Saya hanya bisa ikut senang, tapi sekaligus sangat khawatir. Dengan gaya Jokowi yang selalu "tanpa rasa takut" itu, mungkin hanya Tuhan perlindungan terbaik untuk dirinya.

Kabar ini alasan untuk kesekian kalinya, kenapa ia harus menang. Biarlah kaum golputer dengan teori dan teka-teki silang yang mereka bikin sendiri. Tentang kelompok sebelah, kan semakin jelas motif-nya, omong kosong mereka akan bangun kembali negeri sendiri. Mereka ini kelompok cari selamat, yang hanya bisa hidup dari kucuran dana KKN.

Dan itu butuh dukungan kita secara tulus dan terus-menerus. Apa yang selalu saya sebut dengan bangga dan berulang: orang baik mendukung orang baik...

***