Memento Mori

Karena kematian sering dikaitkan dengan ganjaran surga dan neraka, tak sedikit orang merenungkan kematian dengan murung. Seolah kematian itu ketiadaan akhir dan abadi.

Selasa, 14 September 2021 | 07:55 WIB
0
7
Memento Mori
Memento mori (Foto: khotbahkristen.id)

"Kehidupan ini bukanlah tak berarti. Namun, kita tak bisa melihat faktanya dari sini -setidaknya kerap kali begitu"(Eben Alexander, M.D.,2013)

Ketika hendak menemui ajal, Kaisar Augustus berpesan pada penasehatnya agar mayatnya dibiarkan dilihat publik.
Apa pesannya? Kaisar pun berbisik: "Tubuh agung ini sudah tak berdaya dan segera akan membusuk."

Penasehat pun menerus pesan itu dari istana ke seluruh publik. Maka serentak pula, seluruh penghuni istana dan publik di luarnya mengucapkan kalimat itu berulang-ulang. Dalam bahasa lebih hemat, penasehat kaisar meringkasnya: "Memonto Mori" sambil menggelar dua tangannya terbuka dengan menunjukkan simbol guratnya "M M."(lihat guratan di kedua tangan anda bertanda itu).

Di abad ke-18 akhir, filsuf Hegel setelah jatuh sakit dan menjelang ajal berkata pada seorang rekannya, "Wer von Gott verdamm ist, ein Philosoph zu sein." Rekannya itu meneruskan kalimat pada saat pemakamannya: "Gelobt sei der Name Gottes", Terpujilah nama Tuhan. Siapa yang mau dikutuk Tuhan jadilah filsuf.

Lebih dari jutaan tahun evolusi makhluk, cerita kematian (memonto mori) masih menjadi fenomena hidup yang misteri dan ditakuti timbang direnungkan sebagai sukacita menuju keabadian.

Padahal sejak abad keenam masehi, Seneca di Roma ketika mendengar dari Paulus ihwal kematian Yesus, menulis secara terbuka bagaimana kematian bukan sesuatu yang misteri dan mengerikan seperti banyak yang diderita orang besar, baik pada usia muda maupun tua.

Karena kematian sering dikaitkan dengan ganjaran surga dan neraka, tak sedikit orang merenungkan kematian dengan murung. Seolah kematian itu ketiadaan akhir dan abadi.

Namun, pada sebuah kesaksian merasakan ajal (near-death experience,NDE), ahli neurosains (bedah saraf), Eben Alexander M.D. setelah menderita kanker otak, menuliskan pengalamannya dalam "Proof in Heaven" (Bukti Surga,2013) dengan mengatakan: "kehidupan kita tidak diakhiri oleh kematian tubuh dan otak."

***