Catatan Biasa Orang Biasa [14] Mengantar Pak Guru Apel

Kemudian saya tahu Pak Guru tak berjodoh dengan Iis. Perempuan itu memutuskan hubungannya dengan Pak Guru, kemudian melanjutkan sekolahnya di sebuah SMK di kota Tasikmalaya.

Kamis, 18 Februari 2021 | 19:41 WIB
0
54
Catatan Biasa Orang Biasa [14] Mengantar Pak Guru Apel
Ilustrasi bukan jodoh (Foto: merdeka.com)

Waktu  itu hari Sabtu. Kebetulan mendapat giliran sekolah siang. Setelah bel pelajaran terakhir berbunyi saya bersiap pulang. Namun Pak Guru (sebut saja begitu) sudah menunggu di gerbang sekolah. Dia mengajak saya ke Karangnunggal, sebuah kecamatan sekitar 45 kilometer di selatan kota Tasikmalaya. Pak Guru ingin menemui Iis, pacarnya.

Sore sudah gelap, hujan sebentar lagi turun. Saya menolak. Malas jika sendirian mengantar Pak Guru apel. Tapi dia memaksa. Katanya, “Kalau tidak mau, tidak akan saya temani jika kamu dan kawan-kawan mengadakan acara”.

Rasanya tidak tega juga membiarkannya sendirian. Apalagi hujan sudah turun deras. Akhirnya saya bersedia, meskipun badan terasa lelah dan tidak membawa baju ganti.

Pak Guru adalah pengajar di SMPN 2 yang akrab dengan kami, sekumpulan siswa yang sering “mondok moek” di sekolah. Masih bujangan. Dia seringkali ikut pada berbagai kegiatan kami, termasuk mendaki gunung. Kami sangat akrab. Di luar jam sekolah, tidak ubahnya seperti teman biasa. Bersenda gurau layaknya kawan sebaya. Beberapa kali saya pernah tidur di rumah kontrakannya.

Usai magrib, kami naik becak dari sekolah menuju Terminal Gunungpereng, Cihideung. Kemudian naik bus terakhir jurusan Tasik-Karangnunggal. Sepanjang perjalanan hujan tidak berhenti. Jalan berkelok-kelok dan suasana gelap, memunculkan kengerian. Saya tidak bisa tidur dalam kondisi seperti itu. Takut terjadi sesuatu.

Sampai di Terminal Karangnunggal hampir tengah malam. Hujan menyisakan rintik. Kami berjalan ke arah selatan dari terminal. Saya tidak tahu apa nama daerah itu. Malam begitu sunyi dan gelap. Tidak ada listrik. “Kita ke mana, Pak?” tanya saya “Diam sajalah, kalem. Ikuti saya,” jawabnya singkat.

Kemudian kami berbelok ke jalan setapak menuju perkampungan. Pak Guru memasuki halaman sebuah rumah panggung dan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Suara lelaki menjawab dari dalam. Pintu terbuka, tuan rumah berkopiah hitam menatap kami. Mengangguk ramah.

“Maaf,  Pak, kami mau pulang ke kampung. Tadi terhalang hujan. Baru sekarang bisa meneruskan perjalanan. Barangkali punya obor, mau pinjam. Ini gelap sekali,” kata Pak Guru dalam dialek Sunda pakidulan. “Kalau obor tidak punya. Tapi daun kelapa sih ada. Ambil saja di samping rumah,” katanya. Dalam bahasa Sunda, daun kelapa kering itu disebut barangbang.

“Ton, kamu bawa satu, saya satu, untuk persiapan. Perjalanan masih jauh,” kata Pak Guru. Kami pun membuat dua obor dari barangbang. Perjalanan dilanjutkan diterangi nyala barangbang. Berjalan nyaris merayap, karena tanahnya licin bekas hujan. Saya tidak banyak bicara. Berjalan setengah tertidur. Saya pegang lengan Pak Guru. Beberapa kali saya terjatuh, pakaian kotor.

Bukan jodoh

“Masih jauh, Pak?” tanya saya. “Itu tuh sebentar lagi,” katanya. Tapi saya tidak yakin. Bisa saja itu jawaban untuk menghibur. Andai saja saat itu ada orang jahat berbuat macam-macam, kami berdua tidak akan berdaya melawan. Barangbang sudah hampir habis. Belum juga sampai di tujuan

Sebelum benar-benar gelap kembali, selintas terlihat ternyata kami tengah berjalan di hutan karet. Sama sekali tidak ada pemukiman penduduk. Mungkin karena sudah terbiasa melewati jalan itu, Pak Guru begitu percaya diri. Kakinya seperti bisa melihat di kegelapan. Kira-kira pukul 03.00 pagi, sampailah di sebuah perkampungan.

“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga, Ton. Tuh rumahnya,” kata Pak Guru menunjuk sebuah rumah di samping masjid. “Assalamualaikum....,” ujarnya sambil mengetuk pintu bercat coklat. Tidak lama kemudian lelaki berumur sekitar 50 tahun menyambut kami. “Waalaikum salam, eh Jang Guru. Mangga lebet,” kata lelaki itu, ayah Iis.

Setelah membersihkan kaki di kolam masjid, kami duduk di ruang tamu. Tuan rumah masuk, terdengar dia membangunkan anaknya. “Is...Is.. itu Pak Guru datang, kehujanan Is. Bangun, buatkan minuman”. Terlihat Iis ke luar kamar menuju dapur. Kemudian ke ruang tamu dengan dua gelas air teh hangat.

Di bawah temaram cahaya cempor, terlihat wajahnya yang manis. Rambutnya lurus sebahu. Dia menyodorkan tangan, bersalaman dengan Pak Guru. “Apa kabar, Is?” tanyanya.

“Alhamdulillah sehat, Pak,” jawab Iis tersenyum. Pak Guru terlihat gagah. Mungkin dalam hatinya berkata, “Ini calon istri saya, Ton”. Usia Iis di atas saya sedikit, sudah kelas tiga SMP. Mungkin rasa sayang Pak Guru, seperti menyayangi murid sendiri. Mungkin.

Saya diserang kantuk berat. Lalu minta izin masuk ruang tengah. Tidak lama, tertidur di kursi. Ketika dibangunkan suara azan subuh, Pak Guru dan Iis masih di ruang tamu. Masih mengobrol.

Paginya, sudah tersedia nasi pulen, ikan mas kecil-kecil yang digoreng kering. Ditambah lalaban segar dari kebun sendiri. Pak Guru lahap sekali, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Iis.

Sehabis zuhur kami pulang.

Beberapa waktu kemudian, saya tahu ternyata Pak Guru tidak berjodoh dengan Iis. Perempuan itu memutuskan hubungannya dengan Pak Guru, kemudian melanjutkan sekolahnya di sebuah SMK di kota Tasikmalaya.

Cukup lama saya tidak bersua Pak Guru. Saat SMA, saya berkunjung ke rumah kontrakannya. “Kenalkan, ini istri saya,” ujarnya.

Ternyata dia sudah menikah.

***

Tulisan sebelumnya: Catatan Biasa Orang Biasa [13] Mencuri Naskah, Gagal Manggung