100 Tahun ITB: Kampus Kami, Kampusnya Semua Golongan

Sekali menjadi alumni ITB, seumur hidup predikat itu melekat, dan terbawa kemanapun kita pergi. Itu berarti, kita memikul tanggung jawab dimanapun kita berada selamat hayat dikandung badan.

Rabu, 8 Juli 2020 | 15:59 WIB
0
757
100 Tahun ITB: Kampus Kami, Kampusnya Semua Golongan

“Agony” penantian pengumuman kelulusan UMPTN itu berakhir manis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban manusia, nama saya tercetak di koran nasional, kali ini bersama ribuan nama lainnya lengkap dengan kode jurusan dan kampus dimana mereka akan kuliah. Badan terasa lemas. Speechless! Sebuah kebahagiaan yang tak pernah bisa dilukiskan dengan kata-kata. Bukan hanya karena reputasi gerbang ITB yang konon katanya hanya bisa ditembus oleh putera-puteri terbaik negeri ini, tapi juga kehororan jalan untuk mencapainya.

Demi masuk ITB, saya bersedia melakukan “Taubat Nasuha”. Memohon ampun karena selama 2,5 tahun di SMA, saya tak pernah peduli dengan pelajaran. Waktu itu, sekolah bagi saya adalah OSIS, OSIS dan OSIS! Di saat teman-teman sudah menamatkan buku dewa (buku merah yang tebalnya hampir 10 cm, kumpulan soal mulai dari SKALU ‘76, Proyek Perintis, Sipenmaru hingga UMPTN terakhir), saya malah baru mau ke Palasari untuk mencari bukunya. Stress itu memuncak, ketika hasil-hasil TO mulai diumumkan. Ranking TO saya jeblok, menghuni papan bawah di kisaran ranking 600an. Seorang teman, sebutlah Sondy namanya, masuk ke kelas sambil mengomel,

“TO gua jelek euy! TO gua jelek!” ujarnya
“Emang ranking berapa?”
“Tujuh!” jawabnya, sambil tersenyum.

Sesak nafas. Walau ga punya Asma (“Kalau ranking tujuh jelek, lha terus gua yang ranking 600 apa dong?” *dalam hati).

Sejak itu saya bertobat dan mulai mengkarantina diri. Saya meninggalkan seluruh kegiatan yang tak berhubungan dengan UMPTN, termasuk acara-acara keluarga, bahkan pernikahan paman saya sekalipun. Saya menjadi seorang “nerd” yang introvert, individualis dan “selfish”! Bahkan ibu pun tak berani membuka pintu kamar saya.

Jadi teringat masa kegelapan dulu, ketika ibu menasehati saya, “Mba Yenni tuh, nunggu setrikaan panas aja sambil belajar, makanya masuk FK!” Sekarang mah, jangankan nunggu setrikaan, andaikan cebok tak perlu pakai gayung, mungkin sambil “boxer”-pun saya akan terus latihan soal! Bukan cuma pelajaran yang digenjot, atau tidur yang semakin berkurang, tapi saya juga mulai mensalehkan diri. Saya mulai rajin melakukan sholat tahajud, shalat rawatib, rutin mengaji, dan berbuat baik kepada semua orang, jadi sabar, pemaaf, tidak bikin masalah, tidak menyinggung orang lain, tidak ghibah, dsb. Saya berharap dengan ikhtiyar dan kesalehan ini, saya bisa lebih pede ketika berdoa kepada Tuhan. Saya merasa mulai berada di dalam shirothol mustaqim menuju ITB.

Seorang teman, sebutlah Hilman namanya, bercerita bahwa ia baru saja kembali dari Darut Tauhid untuk mengikuti do’a UMPTN bersama Aa Gym.

“Ya Allah, jika lulus UMPTN adalah yang terbaik bagiku, maka luluskanlah aku!” seru Aa Gym.
“Aamieeen!” sambut para jamaah kompak.
“Namun jika tidak lulus UMPTN adalah yang terbaik bagiku, maka jangan luluskan aku!”

Jamaah pun hening. Tak terdengar suara apapun.

Tapi memang do’anya sebagian anak ITB itu, “Ya Tuhan, jika lulus ITB adalah yang terbaik bagiku, maka luluskanlah aku. Namun jika yang terbaik adalah tidak lulus, maka tetap luluskanlah aku ke ITB. Biar nanti aku bertobat di dalamnya!” Klasik!

Rupanya ikhtiyar dan kesalehan saya cukup membuat Tuhan bermurah hati meluluskan saya ke Teknik Industri ITB. Saya pun mulai terbenam dalam euphoria. Sholat tahajud perlahan-lahan lupa, ngaji mulai bolong-bolong, sabar mulai ditinggalkan, pemaaf kadang-kadang aja, dsb.

Kalau begini adanya, mestinya UMPTN itu dilakukan setiap tahun, semumur hidup, supaya saya bisa menjaga kesalehana saya.

Zaman orde baru, semua mahasiswa baru wajib mengikuti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Di situlah kesempatan untuk berkenalan dengan mahasiswa jurusan lain karena pembagian kelas dilakukan secara acak. Mahasiswa ITB datang dari berbagai penjuru tanah air, bahkan ada nama-nama daerah yang baru saya dengar, seperti Watampone, Sragen, atau Cipamokolan. Penampilan mereka begitu beragam, ada yang pake kemeja dengan celana ngatung, ada yang cowo tapi rambutnya di-bop ala Maribeth, bahkan ada yang berjenggot super lebat, jauh lebih lebat dari model di poster penumbuh jenggot di Jl. Sunda. Dari jenggotnya, saya pikir dosen, ternyata dia ikut penataran juga. TI pula! Pagi itu seluruh mahasiswa dikumpulkan di GSG. Seorang dosen tampil ke muka. Satu perkataannya yang masih saya ingat sampai sekarang, “Kakak-kakakmu itu ada yang cuma makan satu kali sehari!” (“Ah lebay Si Bu Dosen! Saya aja makan tiga kali, kadang masih suka lapar” *dalam hati)

Di kelas P4, saya bertemu dengan anak-anak brilian. Salah satunya adalah Astro Boy dari Brebes. Kebanyakan kita lupa namanya aslinya, tapi kita tahu dia adalah anak jurusan Astronomi. Orangnya sangat rendah hati, bersahaja, pendiam tapi humoris. Saya terkesan dengan humor-humornya, sampai suatu hari saya pergi menginap di kosannya. Saya cukup terkejut, karena 18 tahun saya hilir mudik melewati Pasar Simpang, saya baru tahu ternyata banyak kos-kosan di belakangnya. Keterkejutannya saya tidak berhenti di situ. Kosan Astro Boy ada di lantai 2 sebuah rumah berlantai kayu dengan luas 2x2,5 m2, dan itu dihuni oleh dua orang. Tidak ada satu pun perabot di dalamnya. Tidak ada lemari, tidak ada kasur, bahkan bantal pun tidak ada. Yang ada hanya selimut garis-garis yang sering kita jumpai di rumah sakit.

                “Ini bayar kos berapa?” tanya saya
                “750 ribu. Dibagi dua jadi 375 ribu seorang!” jawabnya.
                “Hah, mahal banget! Sebulan?”
                “Engga, setahun!”

Sebagai perbandingan, kos-kosan di daerah Cisitu, harganya bisa mencapai 200 – 250rb per bulan, itupun dengan kamar mandi di luar. Malam itu, saya pun tidur tanpa bantal, tanpa selimut dan beralaskan kayu. Walhasil, bangun pagi sekujur tubuh pegal total, bahkan leher pun sulit untuk digerakkan.

Pagi-pagi ternyata Astro Boy tidak sarapan, ia hanya membeli bubur kacang ijo, 100 perak. Dia baru makan “beneran”, siang menjelang sore. Kami ke Kantin Tubagus. Saya sudah siap-siap mau balas dendam, perut keroncongan abis. Es susu coklat favorit saya juga sudah terbayang-bayang di kepala. Namun semua itu buyar, ketika saya melihat Astro Boy hanya mengambil nasi dan tempe tepung. Ia kemudian mengambil kuah dari beberapa makanan di situ (ya kuahnya saja). Untuk menunjukan solidaritas, saya hanya ambil tempe dan sayur, dan lupakan es susu coklat! Sampai kos-kosan, Astro berteriak kegirangan ke teman-temannya.

                “Aku pecahkan rekor hari ini… Aku makan cuma 350 perak!”

Ternyata ia berhasil mematahkan rekor sebelumnya, yaitu 400 perak. Satu kosan memang berlomba pamurah-murah. Malam hari dia tidak makan. Dan saya pun akhirnya sadar, mungkin inilah yang dibilang oleh Bu Dosen kemaren, “Kakak-kakakmu itu banyak yang makannya cuma sekali sehari!” Tidak perlu menunggu lama, dan saya sudah menemukan wujud itu di hadapan saya.

Saya bersimpati, sekaligus sangat bangga. ITB adalah kampus semua golongan. Tak peduli dari pelosok mana asalmu, tak peduli sekaya atau semiskin apa orang tuamu, kalau kamu “cerdas” dan punya kemauan, kamu bisa bersekolah di ITB.

**

Karena masuk ITB adalah tujuan, maka setelah diterima saya pun hanyut dalam euphoria yang tak berkesudahan, dan kembali tak peduli dengan pelajaran. Bagi saya, semua mata kuliah TPB membosankan karena banyak kemiripan dengan SMA. Matematika, Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dkk., ahh.. semua itu kan sudah waktu SMA! Saya hanya tertarik pada mata kuliah TI, dan olah raga tentunya (ini mah favorit!). Sayangnya hanya ada dua mata kuliah jurusan: Bahasa Pemograman Komputer (BPK) dan Pengantar TI.

BPK adalah “nightmare” yang merusak masa-masa “honeymoon” di ITB. Ya, TPB adalah “honeymoon”, karena itulah masa tersantai sepanjang sejarah berkuliah ITB. Begitu TPB berakhir, welcome to the hell!

Dan praktikum BPK merusak segalanya. Tugas mingguan yang bisa keluar kapanpun, bahkan tengah malam sekalipun, menjadi setan yang terus-menerus menghantui saya siang dan malam. Buat saya yang nol pengetahuan tentang pemrograman, BPK adalah penyiksaan, a constant torture. Semua energi dan pikiran tersedot habis mengerjakan tugas dan praktikum BPK. Walau tertulis 2 SKS di KRS, tapi rasanya seperti 20 SKS. Saya bahkan pernah mimpi mengerjakan coding pemrograman.

Penyiksaan tidak selesai sampai di situ. Tugas besar diumumkan. Kami dibagi ke dalam grup-grup yang beranggotakan tiga orang. Saya dipartnerkan dengan Yashinta T. W. alias Ochie dan Fitri Agustina atau Pitri kalau di Bandung mah. Topiknya distribusi Poisson dengan menggunakan Delphi. Aslinya, jangankan ngerti apa itu “distribusi Poisson”, dengernya aja baru. Ternyata Poisson itu bahasa Perancis dan dibacanya “puassong”, saya pikir poison racun. Tapi emang racun sih!

Grup kami langsung ditangani oleh Kordas (Koordinator Asisten), bosnya para asisten, sebutlah Shandy namanya. Entah mengapa frekuensi asistensi kelompok kami jauh lebih sering dan dengan durasi yang lama pula. Bukan apa-apa, setiap selesai mengerjakan tugas (yang biasanya menjelang tengah malam), saya harus mengantar pulang dua makhluk cantik ini. Masalahnya, mereka ini tinggal di ujung dunia yang berbeda. Ochie tinggal di Cipamokolan (ya, betul, ada daerah yang bernama Cipamokolan. Dimana persisnya, susah neranginnya, yang jelas jauh pisan), sedangkan Pitri tinggal di Holis, di ujung satunya lagi, dan saya tinggal di daerah Dago di utara Bandung, rutenya jadi seperti segitiga bermuda. Jadilah saya rutin melakukan touring keliling Bandung. Kalau sudah mendekati deadline, bisa tiap malam nganterin mereka.

Perlu waktu tujuh tahun sampai misteri mengapa asistensi selalu lama dan sering itu akhirnya terungkap. Ketika Bapak Kordas Shandy Adiguna menikahi Ibu Yashinta T.W. Tau gini kan, suruh Pak Kordas aja yang nganter pulang tiap beres asistensi ☹

Kalau BPK adalah nightmare, maka Pengantar TI (PTI) adalah “a dreamland”! Saya selalu semangat mengikuti kuliah PTI. Dosennya Pak Kajur langsung, almarhum Bapak Iftikar Z. Sutalaksana. Disana tidak ada matematika, kimia, ataupun fisika. Yes, ini yang gua cari-cari selama ini! Satu-satunya rumus matematika yang ada di kuliah itu hanya rumus EOQ (Economic Order Quantity). Saya benar-benar terkesan karena EOQ ternyata hasil turunan (differensial) dari Total Cost. Pa Ifti menurunkan persamaannya di papan tulis. “Gila, ternyata differensial-integral itu ada gunanya juga di kehidupan nyata!” Karena saya bukanlah anak yang paling cerdas kalau soal matematika, dan saking “terkesannya”, rumus EOQ ini saya utak-atik lagi di rumah. Praktis satu semester itu, satu-satunya rumus matematika yang hafal dan paham, ya cuma rumus EOQ.

Dan ternyata prestasi akademis tertinggi yang pernah saya raih selama kuliah di ITB ada di mata kuliah PTI. Saat UAS, Pa Ifti hanya mengeluarkan satu soal. Ini benar-benar “sudden death”. Bisa, berarti mujur, gelap berarti tamat riwayat. Saya menjawab pertanyaan itu dengan EOQ, menggambarkan grafiknya, hingga melakukan penurunan matematikanya, dan berusaha menyambung-nyambungkannya dengan soal. Karena memang hanya itu satu-satunya rumus yang saya tahu.

Ketika nilai ujian diumumkan, hanya ada empat mahasiswa yang mendapatkan nilai A, dan saya salah satunya. Bahkan A.A.I.S. Dewi yang hampir setiap semester mendapatkan IP 4.0 pun, hanya mendapatkan nilai C. Maka nilai C adalah sebuah aib yang akan menodai kesucian ijasahnya. Maka ia harus ditebus dengan Semester Pendek! Bayangkan, keajaiban dunia sudah terjadi. Maulana M. S. mendapatkan A, sedangkan A.A.I.S Dewi mendapatkan C. A.A.I.S. Dewi ikut SP itu sesuatu yang bisa dikatakan “surreal”, membayangkannya saja ga bisa. Tapi itulah yang terjadi. Sebuah fenomena alam yang mungkin tak akan pernah terulang dalam 100 atau 200 tahun ke depan (perlu dicek ketika perayaan 200 tahun ITB). Hasil ujiannya dipajang di mading depan TVST, dimana semua 2 ribu mahasiswa TPB bisa melihat, eksplisit dengan nama, tidak hanya NIM. Itulah salah satu momen terbangga saya di ITB!

Itulah prestasi akademis tertinggi saya di ITB, karena selebihnya, saya hanya panen nilai C. Bahkan mata kuliah Kewiraan saya mendapat nilai D. Namun saya justeru bangga, dan tidak melakukan SP untuk perbaikan nilai. Kerjaan saya di kuliah kewiraan adalah bertengkar dengan dosen, karena saya lagi semangat-semangatnya mengkritik Soeharto, militer dan pemerintahannya. Apalagi baru selesai baca buku “Indonesia di bawah sepatu lars” karya Sukmadji Indro Tjahjono. Teman-teman SMA sudah mafhum, kalau saya bertengkar dengan guru. Minggu depannya, saya akan izin ke toilet, kemudian tidur di ruang OSIS, sampai jam pelajaran selesai. Kurang lebih itulah yang dilakukan di mata kuliah Kewiraan. Bagi saya nilai D di transkrip, adalah bukti konsistensi dan “ke-istiqomahan” saya dalam menentang Soeharto.

**

Nilai ujian PTI bisa jadi prestasi akademis tertinggi saya di ITB, namun puncak prestasi sesugguhnya ada di mata kuliah Material Teknik. Lab Logam adalah lab paling angker yang pernah ada di jagat raya.  Kami harus menjalani 6 modul selama 4 atau 6 atau 8 atau bahkan 10 minggu, tergantung tingkat ketahanan  dan nasib. Topiknya adalah uji-ujian, mulai dari uji tarik, uji puntir, uji lelah, uji keras, uji impak sampai NDT (Non-Destructive Testing). Sebelum memulai praktikum setiap grup harus membuat Tugas Pendahuluan (TP) dengan deadline mengacu kepada Jam Standar Lab Logam yang tegantung kokoh di dinding ruang praktikan. Terlambat 1 detik, berarti mengulang tahun depan.

Ada enam kolom di kartu praktikum sesuai jumlah modul yang harus ditempuh. Paraf asisten di kolom berarti lulus. Adapun tanda silang (coret) berarti hilang nyawa satu. Setiap mahasiswa diberi nyawa dua. Artinya jika dia tercoret dua kali, maka harus mengulang tahun depan.

Praktikum dilakukan secara berkelompok, lima orang. Saya cukup beruntung karena ada dalam “the dream team”. Ochie kembali ada di tim. Ia adalah asset tim yang paling berharga. Bukan hanya karena dia pernah jadi pelajar teladan di Samarinda, tapi dia adalah satu-satunya perempuan di tim. Biasanya para asisten Logam yang hampir 100% populasinya berkelamin laki-laki ini, bisa sedikit luluh kalau berhadapan dengan yang “bening-bening”. Bahkan yang paling sangar sekalipun, bisa mendadak lemah lembut. Teknik Material ini anak kandung dari Teknik Mesin. Dari rumor yang beredar, konon rasio perbandingan jumlah mahasiswa perempuan dan laki-laki di Teknik Mesin adalah 1:4. Satu perempuan untuk empat angkatan. Pantesan!!!

Anggota selanjutnya adalah Bambang Untoro alias Benkbenk (yang selalu menjadi juara kelas di SMA 3 Bandung), Cacay (ini tampaknya juara sekolah waktu di Jakarta dulu), dan terakhir adalah Dwi Prasetya alias Uwi, sahabat sejak di SMA atau “pren sampai mati” istilah yang kita gunakan.

Setelah TP diterima, fase selanjutnya adalah Tes Awal. Ini adalah fase paling horor dan menentukan. Durasinya bisa 3 sampai 4 jam. Di fase ini asisten berhak menanyakan apapun dari A s.d. Z secara oral. Jika kita tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan, maka ia akan mencoret kartu kita (satu tanda silang), kita pun kehilangan satu nyawa. Artinya, satu kali lagi kena coret, harus mengulang tahun depan.

Pernah suatu ketika dalam sesi perkuliahan (bukan praktikum), salah seorang teman menanyakan pertanyaan yang ada di Tes Awal kepada dosen, Pak Bambang Widyanto,

“Pak, kenapa pada grafik uji tarik, ketika yielding terjadi fluktuasi tegangan (stress)?”
“Kamu dapat pertanyaan ini darimana? Ini topik untuk S2!” jawab Pa Bambang.
(“WTF!” *dalam hati)

Asisten berhak memulangkan kelompok yang tidak siap, berulang-ulang hingga mereka siap. Dan itulah yang terjadi di hari pertama praktikum. Pagi itu, satu kelompok dipulangkan. Beritanya pun langsung menyebar ke seluruh angkatan. Saya yang baru praktikum besok, tidak bisa tidur dibuatnya. Semua kelompok yang praktikum hari itu didatangi, dan seluruh pertanyaan asisten yang ditanyakan kepada mereka didata dan dicari jawabannya. Semua buku yang ada dibaca, bahkan laporan-laporan praktikum tahun-tahun sebelumnya pun disikat habis.

Jam standar Lab Logam menunjukkan praktikum akan dimulai lima menit lagi. Tapi Uwi belum juga datang. Kita semua tentu khawatir karena dampaknya bisa terkena satu kelompok. Uwi akhirnya datang satu menit sebelum asisten mengambil tumpukan TP di ruang praktikan. Nyaris!

Uwi bercerita, bahwa dia belum belajar sama sekali karena baru saja begadang mengerjakan tugas praktikum Statisik. Praktikum Material bukan satu-satunya praktikum di semester 3 ini. Masih ada praktikum Statistik di TI, praktikum Rangkaian Listrik di jurusan Elektro dan praktikum Gambar Mesin di jurusan Mesin. Jadi memang mencekam situasinya.

Uwi memohona agar untuk praktikum kali ini dia dilindungi, “di-cover”, jika dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan.

                “Plis ini mah, praktikum ini aja gua dicover. Ini mah tolong pisan. Gua ga sempat belajar gara-gara laporan praktikum Statistik. Gua janji. Abis ini gua bakal belajar mati-matian. Minggu depan gua yang nge-lead. Gua yang cover kalian!”

Ya sudah, daripada ia loncat dari lantai 2 ruang praktikan, bunuh diri, kita sepakat untuk meng-cover setiap pertanyaan asisten demi melindunginya.

Topik hari itu adalah uji puntir. Asisten yang bertugas, ga tanggung-tanggung, Driar, Kordas Lab Logam, bosnya para asisten. Driar yang sejatinya baik terlihat sangar hari itu. Sangar namun berwibawa dengan pakaian rapih dan sepatu boot. Tidak ada senyum sedikitpun. Walaupun Ochie sudah duduk di depan, ternyata itu tak menggoyahkan iman Driar. Yang ada tampang sepa dan jutek.

Driar melihat ke kami berlima. Sambil mendongakkan dagunya, “Tujuan praktikum?”

Ochie, Benkbenk, dan Cacay mengacungkan tangan, berebut untuk menjawab pertanyaan. Sementara Uwi terus menunduk berusaha mengkerutkan tubuhnya agar tak terlalu terlihat. Ia berusaha menerapkan teknik “bayangan hitam” Goggle Black.

“Oke kamu!” Driar menunjuk Benkbenk.

Namun segera diralat,

“Sebentar-sebentar! Kamu yang kacamata (menujuk ke arah Uwi). Kamu tebel gitu kacamatanya. Pinter kamu keliatannya. Kamu aja ke depan! Tujuan praktikum!” (Gila Si Driar tau aja *dalam hati)

Uwi yang gagal menerapkan teknik “bayangan hitam” dibuat hampir pingsan. Kita berempat tak bisa menyembunyikan ketegangan. “Habislah udah ini!”

Kalau Driar tidak puas, maka satu nyawa uwi bisa melayang. Kalau Driar masih berbaik hati mungkin hanya tugas tambahan. Jangan salah, tugas tambahan itu tidak mudah dan bisa merambat ke kelompok, bahkan angkatan. Pernah suatu ketika, rekan kami, sebutlah Romy, ia beruntung tidak dicoret namun mendapat tugas tambahan menerjemahkan textbook bahasa Inggris sebanyak 200 halaman. Atas nama solidaritas, dan untuk tetap menjaga semangat dan kewarasan-nya, setiap anak di angkatan menyumbang dua halaman terjemahan.

Uwi berjalan ke depan, kemudian mengambil spidol. Ia menulis di whiteboard, “Tujuan praktikum:“. Beberapa saat terdiam, kemudian dia berbalik menghadap kami, sambil berkata, “Ya, mungkin teman-teman saya ada yang bisa membantu? Ada yang bisa membantu?” “Ayo teman-teman saya? Mungkin ada yang bisa membantu? Ada yang bisa membantu?” dengan muka memelas sambil mengerak-gerakkan kedua-tangannya ke depan dan belakang, bak tukang parkir.

Ketegangan saat itu pecah luluh lantak. Driar yang sejak awal jutek dan jaim, langsung balik badan dan berjalan ke ruang asisten. Dia tak kuat menahan tawa! Mungkin baru pertama kalinya dalam sejarah Lab Logam, ada mahasiswa melakukan “stand up comedy” di praktikum material.

Stand up Uwi memberikan berkah tersendiri. Driar melunak. Suasana menjadi cair. Kecerdasan Ochie, Benkbenk dan Cacay, cukup mengesankan Driar. Ketiganya mampu menjelaskan lingkaran Mohr uji puntir. Padahal lingkaran Mohr tidak dibahas di perkuliahan semester ini. Ia baru diberikan semester depan dalam mata kuliah Elemen Mesin. Jangankan pelajaran semester depan, pelajaran S2 saja kita sikat. Tim berhasil “survived” Tes Awal yang menghabiskan waktu tiga jam. Tidak ada seorang pun yang mendapat tugas tambahan apalagi dicoret. Semua selamat!

Berhasil melewati tes awal tanpa coret adalah prestasi tersendiri. Tidak semua kelompok seberuntung kami. Pernah suatu ketika, sebuah kelompok dari kelas genap, menjalani Tes Awal. Sebelum memulai tes, asisten bertanya kepada setiap anggota grup,

“Kamu mau praktikum ke sini persiapanmu apa? Kamu udah baca buku apa aja?” tanya asisten.
“Dieter, Callister, De Garmo, Tata Surdia, etc.” jawab praktikan.
“Kalau kamu? Kamu? Kamu? Kamu” tanyanya sampai orang kelima.
“Kalian ini, baru baca segitu aja mau praktikum! Ga cukup itu! Kumpulkan kartu kalian.”

Dia pun memberikan satu coret tanda silang di semua kartu. Seorang teman yang sudah mengantongi satu coret dari modul sebelumnya, harus menerima kenyataan bahwa nyawanya habis. Ia gugur, dan harus mengulang tahun depan. Teman-teman sekolompoknya harus menjalani modul-modul selanjutnya dengan hanya bersisa satu nyawa. Ancaman gugur menghantui di setiap modul yang dilalui. Meleng sedikit, tahun depan kosekuensinya!

Cerita-cerita horor ini terus mewarnai hari-hari kami di semester 3. Saya yang tidak pernah berburu buku, mendadak datang ke Perpus Pusat ITB. Saya harus menemukan buku “Materials and Processes in Manufacturing” karya De Garmo, demi mempersiapkan diri sebaik mungkin agar tidak kehilangan nyawa saat praktikum. Dan itulah sekali-kalinya saya ke Perpus Pusat. Jangan dibayangkan Perpus ITB dulu seperti sekarang. Dulu itu Perpus Pusat gelap, berdebu dan angker. Hanya mahasiswa-mahasiswa yang lolos “uji nyali” yang sanggup bertahan di sana. Hanya Lab Logam yang bisa memaksa saya menerobos uji nyali Perpus ITB.

Kembali ke ruang praktikum.

Praktikumnya sendiri hanya sebentar. Tidak sampai setengah jam. Kita hanya menyaksikan baja ST-37 dipuntir dan putus, dan mencatat data-datanya. Tapi jangan salah, saat proses praktikum ini, bisa saja asisten bertanya. Dan itulah yang terjadi pada teman kami, sebutlah Ayu namanya. Saat itu Ayu dan kelompoknya sedang melakukan praktikum modul ke-6, uji impak. Ini adalah modul terakhir. Lulus modul ini, maka ia bisa merayakan kemerdekaan dan perdamaian abadi. Di tengah-tengah praktikum, asisten memberikan penjelasan sambil sesekali bertanya. Namun ternyata jawaban Ayu bukan hanya tidak memuaskan, tapi salah total.

“Wah kamu berarti ga ngerti ya? Kamu ga siap praktikum kalau begini. Mana kartumu?” sang asisten meminta kartu Ayu untuk dicoret.

Ayu yang hanya memiliki nyawa satu lagi dan sudah dekat dengan perayaan kemerdekaan, bukan menyerahkan kartu, tapi malah tertunduk, kemudian jongkok dan nangis meraung-raung. Sontak sang asisten kaget. Ia berusaha menenangkan Ayu. Namun tangisannya makin kencang, terdengar ke seantero lab. Sang asisten panik, ia pun lari ke ruang asisten, memanggil bala bantuan. Ayu akhirnya bisa ditenangkan. Tangisnya mereda. Kartu praktikum tidak jadi dicoret.

“Oh begitu toh caranya supaya lulus,” Uwi mengangguk-anggukan kepalanya.
“Itu cewe, Wi! Kalau cowo nangis, bakal di-dur-stut-ban-gojer, di-talapung ka awang-awang!”

Fasa selanjutnya adalah pembuatan laporan. Kami diberi waktu 1 x 24 jam utuk menyelesaikan laporan. Praktis, tidak ada yang pulang ke rumah, kecuali Ochie yang memang kosannya kita jadikan base camp kelompok. Kami pun begadang semalaman menyelesaikan laporan praktikum. Uwi tertidur pulas. Kami berbesar hati memaafkannya, karena malam sebelumnya ia begadang mengerjakan laporan praktikum statistik. Belum lagi iming-iming janji, dia akan jadi leader dan menjawab semua pertanyaan pada praktikum selanjutnya (janji tinggal janji, karena minggu depannya Uwi kembali minta perlindungan dengan alasan begadang menyelesaikan tugas praktikum gambar mesin. Klasik!).

Untuk menyelesaikan laporan praktikum, seringkali anak-anak membolos kuliah. Pernah suatu kali, mata kuliah “Matriks dan Ruang Vektor”, hanya dihadiri oleh empat orang. Itu pun kebanyakan angkatan atas yang mengulang. Kemana yang lainnya? Sibuk mengerjakan laporan praktikum. Bukan apa-apa, laporan praktikum bisa ditolak, dirobek-robek, bahkan dibanting ke lantai oleh para asisten. Karenanya tidak ada laporan praktikum yang asal-asalan. Karena semuanya serba eksakta, tidak ada namanya poci-poci atau bacot-bacot dengan kalimat bersayap. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Semua kesalahan akan terlihat jelas terang-benderang dari grafik dan angka-angka yang dibuat. Dan kami harus mempertanggungjwabkan setiap kata, huruf, angka, bahkan coretan yang ada dalam laporan.

Begitu laporan di-submit, kami harus langsung melakukan presentasi. Berbeda dengan Tes Awal, dalam sesi presentasi asisten tidak berhak mencoret praktikan. Namun mereka bisa memulangkan kelompok jika hasil laporannya tidak memuaskan. Tak heran, jika ada kelompok yang harus mengulang presentasi sampai lima kali.

Presentasi dilakukan di ruang asisten. Ruang paling horor se-kampus ITB. Konon para pendahulu kami harus berjalan jongkok jika lewat melintas di depannya. Di ruangan inilah kita bisa menyaksikan berbagai pembantaian dan genosida. Tidak hanya anak TI yang menjadi korban, tapi juga anak-anak Mesin, Material dan Penerbangan, semua jurusan yang mengambil mata kuliah Material Teknik. Ada yang laporannya dibanting, dirobek-robek, bahkan dilempar keluar ruangan.

Ketika kami memasuki ruangan, sekelompok anak Mesin sedang berlutut, memohon izin untuk melakukan presentasi,

                “Ampun Grand Lord!” seru mereka.

Mereka pun berdiri dan meneriakkan “Yell Boys” di hadapan para Lord dan Grand lord (panggilan untuk senior di Himpunan Mahasiswa Mesin). Semua anak Mesin belum menjadi anggota Himpunan. Ospek di angkatan kami memang sempat dibekukan. Tahun sebelumnya ospek menelan korban jiwa. Zaki Tiffany Lazuardian, mahasiswa jurusan Fisika meninggal dunia setelah mengikuti ospek. Tarik ulur perizinan ospek membuat angkatan kami banyak yang belum dilantik sebagai anggota himpunan padahal perkuliahan sudah memasuki semester 3. Maka bagi anak-anak Mesin, praktikum adalah ospek terselubung.

Di sisi lain ruangan, terlihat seorang praktikan sedang bermain catur dengan asisten. Bukan sedang happy-happy. Namun, asisten merasa frustrasi. Sudah diulang berkali-kali tapi laporan tidak pernah memuaskan. Diteruskan percuma, hopeless! Maka jalan keluarnya, kelulusan ditentukan dengan sudden death, bermain catur. Jika bisa menang melawan asisten, maka satu kelompok lulus modul tersebut!

Catur bukanlah satu-satunya jalan menuju kelulusan. Seorang teman, sebutlah Poldan namanya, bercerita bagaimana kesetiannya bertahun-tahun menjadi Bobotoh Persib menyelamatkan nyawanya. Asisten yang bertugas saat itu, sebutlah Uppo, frustrasi terhadap presentasi kelompok Poldan yang sudah hampir tiga jam, tapi belum ada tanda-tanda paham.

“Maneh ti SMA mana?” tanya Uppo.
“Siap, SMA Tiga!” jawab Poldan.
“Tiga mana? Jogja?
“Siap, pusat Kang!”
“Pantesan, bararodo kabeh!”

Uppo ternyata seorang Bobotoh juga. Kesempatan emas ini tak disia-siakan oleh Poldan. Ia memanfaatkan solidaritas bobotoh untuk bisa lolos dari ruang asisten. Namun semua itu tidak bisa ditebus secara cuma-cuma. Uppo membawa Poldan ke lokernya. Di situ terpampang foto tim Persib lengkap.

                “Mun maneh bisa nyebutkeun ngaran kabeh ieu pemaen, lulus modul ieu!” ujar Uppo.

Akhirnya ia sadar, belasan tahun ia membela Persib, ternyata ini tujuannya. Tuhan memang sebaik-baiknya pembuat skenario.

Kami berhasil menyelesaikan presentasi dalam dua jam. Laporan utuh, lengkap dan valid! Semua grafik, data dan angka bisa dijelaskan. Kami pun diperbolehkan pulang. Sujud syukur pada-Mu, Ya Rabb, akhirnya kami bisa rebahan, memejamkan mata yang sudah dua hari tak istirahat. Tapi ini baru satu modul, masih ada lima modul menanti. Dan Material Teknik ini hanya 3 sks, masih ada 6 mata kuliah lainnya, dan masih ada praktikum Statistik, praktikum Rangkaian Listrik, dan praktikum Gambar Mesin.

Bencana terjadi ketika empat praktikum bertemu dalam minggu yang sama. Hari ini praktikum Statistik, besok Material Teknik, besoknya Rangkaian Listrik, dan besoknya lagi Gambar Mesin. Keadaan akan semakin parah jika di minggu tersebut juga terjadi UTS. Tidak heran kalau anak-anak ITB selalu memakai jaket himpunan kemana-mana. Itu adalah upaya kamuflase, karena memang tidak sempat mandi dan ganti baju.

Maka hari-hari di semester 3 itu dilewati dengan penuh kehororan. Satu-satunya hiburan adalah ketika praktikum Rangkaian Listrik (RL) di jurusan Elektro. Kami akui, Tugas Pendahuluan (TP) praktikum RL, mungkin yang paling tebal diantara semua praktikum yang ada. Totalnya 40 halaman dan semuanya ketik manual dengan mesin tik. Maka mengerjakan TP praktikum RL lebih membutuhkan kekuatan fisik daripada otak. Namun praktikumnya sendiri adalah liburan.

                “Dari mana euy?” seru seorang teman.

Jika jawabannya, “Habis jalan-jalan”, bisa dipastikan mereka baru saja selesai jalan-jalan ke jurusan Elektro untuk praktikum RL. Lucunya, para asisten Elektro menempelkan kertas di pintu masuk lab yang bertuliskan, “Ruang Pembantaian”. Kami yang baru beres praktikum di Lab Logam cuma bisa tertawa dalam hati. Tampaknya kita harus mengusulkan program “asisten exchange” ke Pak Rektor, supaya para asisten Elektro ini mendapat pencerahan tentang arti kata “pembantaian” yang sesungguhnya.

Enam modul praktikum di Lab Logam akhirnya terlampaui juga. Kebahagiaan ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya seperti lulus dari ITB. Saya sudah khatam semua enam uji, sudah khatam semua laporan dan presentasi, sudah khatam semua pertanyaan, segala level, yang tersulit sekalipun, bahkan pertanyaan-pertanyaan untuk level S2. Saya berani di-adu pengetahuan uji material dengan mahasiswa darimanapun se-Indonesia.

Mungkin inilah salah satu hikmah dari kehororan Lab Logam. Lab Logam mampu memaksa para mahasiswanya berjuang mengeluarkan kemampuan terbaiknya sampai titik darah terakhir, “outstanding” dan “unbeatable, bukan hanya secara “knowledge” tapi juga fisik dan mental. Maka tak heran, jika lulusan ITB adalah manusia-manusia yang tangguh.

Saya tak mungkin menceritakan semua pengalaman di ITB dalam tulisan ini. Bisa jadi buku berjilid-jilid nantinya.

Namun kehororan itu berlanjut ke semester berikutnya, karena ternyata praktikum mata kuliah Proses Produksi II semuanya dilakukan di Lab Logam.

Ironisnya, masih ada makhluk-makhluk seperti A.A.I.S. Dewi atau Y. Sunitiyoso, yang hampir tiap semester IP-nya sempurna 4.0 (entah apa yang mereka makan). Sementara nilai-nilai saya tak jauh dari rentang C dan B.

Ya jelaslah, ketika A.A.I.S. Dewi dan Y. Sunitiyoso belajar di malam hari, saya harus melewati malam di SC (Student Centre) Timur untuk rapat Kongres Mahasiswa ITB, Lembaga Legislatif Keluarga Mahasiswa (KM) ITB. Karena kami ini adalah Kongres Mahasiswa pertama, sejak Dewan Mahasiswa dibubarkan tahun 1978 dulu, maka rapat kongres banyak dihabiskan untuk menyempurnakan Anggaran Dasar KM ITB. Dan ini sangat menyita waktu, karena dalam seminggu rapat bisa diadakan 2, 3, bahkan sampai 4 kali. Jika rapat bisa selesai sebelum tengah malam itu suatu anugerah, karena biasanya bisa sampai jam 2 dini hari, atau bahkan jam 4 subuh. Terima kasih kepada senator dari Teknik Lingkungan, sebutlah Zaid namanya, atas kontribusinya dalam memperpanjang durasi rapat.

Kongres Mahasiswa ITB adalah kumpulan para senator, wakil dari semua jurusan yang ada di ITB (kecuali Sipil dan Geologi yang masih legeg tidak mengirimkan wakilnya saat itu). Tergantung jumlah populasi, satu jurusan bisa mendapatkan kuota 1, 2 atau 3 senator. TI yang satu angkatannya mencapai 100 mahasiswa berhak mengirimkan 3 senator. Total ada sekitar 40 lebih senator di Kongres, dan semuaya hobi ngomong. Bisa dibayangkan sulitnya mensahkan sebuah pasal dalam Anggaran Dasar, karena semua merasa paling pintar dan berlomba-lomba mengkritisi konten dan redaksinya. Ketika sebuah kesepakatan tercapai, dan palu akan diketuk, maka membuka lagi diskusi hanya akan membuat “Kembali ke Start” meminjam istilah permainan Monopoly. Namun Zaid tak pernah ragu untuk mengeluarkan kata-kata andalannya, “Sebentar, sebentar, sebentar kawan-kawan!” Dan kami pun kembali ke “square one”.

Tapi banyak kok senator-senator yang IPK-nya bagus. Ya, mereka kan sering bolos rapat, makanya IPK bisa bagus. Sigit, Johan, Diding, sering rapat, tapi IPK bagus. Ya, mereka kan bukan anak TI, bau-bau Lab Logam aja mereka belum pernah mengendusnya. Wawan kan anak TI dan rajin rapat, tapi bisa lulus cum laude. Berarti memang ga ada korelasi antara ikutan kongres dan nilai IPK. Sayahna we eta mah nu kedul! ☹

Kongres membuka luas pergaulan saya. Saya jadi kenal dengan simpul-simpul kampus. Karena pada dasarnya saya senang ngobrol, maka saya menikmati setiap rapat-rapat di Kongres. Saya menikmati setiap diskusi dan perdebatan-perdebatan di sana. Apalagi yang hadir adalah orang-orang hebat dari setiap jurusan. Walau tak seberapa, namun setidaknya saya pernah berkontribusi menyumbangkan pikiran terhadap perbaikan Anggaran Dasar KM ITB. Itulah mungkin setitik sumbangsih saya untuk ITB yang bisa saya kenang. Anggaran Dasar KM ITB yang sekarang tak akan pernah ada, tanpa kontribusi kongres angkatan pertama di dalamnya. Dan kami tidak akan pernah ada, tanpa kerja keras teman-teman yang menyusun konsepnya di Muker Ciwidey, dan konsep itu tidak akan pernah ada tanpa keringat dan pengorbanan senior-senior pendahulu kami. Seperti yang pernah dikatan Newton, “If I have seen further than others, it is by standing upon the shoulders of giants.” Maka eksistensi KM ITB merupakan proses evolusi panjang yang ditopang oleh ribuan pundak dan diestafetkan dari generasi ke generasi.”

Sekali kita menjadi alumni ITB, maka se-umur hidup predikat itu akan melekat, dan terbawa kemanapun kita pergi. Itu berarti, kita memikul tanggung jawab dimanapun kita berada selamat hayat dikandung badan. Untuk berkontribusi, untuk membawa perubahan, untuk memberikan manfaat kepada semesta.

Bakti kami untukmu.
Tuhan, Bangsa, dan Almamater.
Merdeka!

Maulana M. Syuhada
13496081

Sumber foto: FB TI 96 ITB by Nope
(Kiri-kanan: Barik, Yoga, A.A.I.S. Dewi, Yani, Ochie, Sorta, Andre, Benkbenk)