Senjata dan Kamboja di Lorosae

Angkatan Bersenjata Portugal mengadopsi dan menggunakan MG-42 GPMG di daerah koloninya. Fretilin menggunakan senjata ini untuk menggempur TNI yang masuk ke Timor-Timur.

Jumat, 12 Juli 2019 | 16:47 WIB
0
451
Senjata dan Kamboja di Lorosae
Tentara di Timor Timur (Foto: Republika)

Jelang Operasi Seroja, TNI justru sedang melikuidasi sejumlah satuan tempur dan bantuan tempur. Persenjataan TNI juga kalah modern dibandingkan senjata Fretilin.

Satuan tugas pengamanan perbatasan. Biasa disebut Satgas Pamtas. Bertugas di wilayah perbatasan Republik Indonesia (RI) –Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Jumat (21/6/2019) lalu, satgas menyita 102 pucuk senjata api, baik standar maupun rakitan

“Dari 102 senjata itu terdiri dari 96 pucuk senjata standar dan enam pucuk senjata rakitan. Adapun senjata standar itu terdiri dari 93 pucuk senjata laras panjang dan tiga pucuk senjata laras pendek,” ungkap Komandan Satgas Pamtas RI- RDTL, Batalyon Infanteri (Yonif) Mekanis 741/GN Mayor (Infanteri) Hendra Saputra di Markas Komando Satgas, Eban, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Senjata yang disita TNI itu, mengingatkan penulis pada peristiwa 1976. Saat itu, ayah penulis membawa beberapa karung berisi senjata api ke rumah dinas. Senjata itu hasil operasi di wilayah Timor Portugis pada 1975-1976. Wilayah itu belum bernama Timor Leste maupun Timor Timur. Senjata itu dibawa setelah terjadinya integrasi Timor Timur (17 Juli 1976) menjadi bagian dari Indonesia.

Ayah penulis, Lettu (Zeni) S. Ginting, lulusan Secapazi (Sekolah Calon Perwira Zeni) 1967. Ia sebagai perwira seksi logistik (pasilog) Detasemen Zeni Satuan Tugas Gabungan (Denzi Satgasgab) Komando Tugas Gabungan (Kogasgab). Hanya sekitar satu hari senjata-senjata laras panjang itu berada di rumah dinas Mess Perwira Zeni, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Esoknya diserahkan ke Markas Komando Kostrad.

Dalam operasi militer di sejumlah tempat, biasanya memang menyisakan hasil rampasan senjata. Kondisi yang sama dalam kasus mantan Komandan Jenderal Kopassus, Mayjen (Purn) Soenarko. Sepucuk senjata yang dikirim dari Aceh adalah senjata hasil rampasan dari Angkatan Gerakan Aceh Merdeka. Senjata-senjata itu biasanya akan disimpan atau dierahkan ke satuan-satuan komando utama militer terdekat.

Resimen Pertempuran

Denzi Satgas merupakan gabungan dari satuan-satuan yang berada di bawah dua Resimen Zeni Konstruksi (Menzikon) Direktorat Zeni Angkatan Darat (Ditziad) dan Resimen Zeni Tempur (Menzipur) Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Sebagai Komandan Denzi Satgas, Mayor (Zeni) Ernest G Rumayar, alumni Akademi Militer (Akmil) Bandung 1962.

Satuan itu tergabung dalam Resimen Tim Pertempuran (RTP) 16/VIII. Satuan lainnya yang tergabung dalam RTP-16 adalah Kompi Zeni Tempur (Ki Zipur) /VIII, Kompi Kavaleri Intai (Ki Kav Tai) /VIII, Baterai Artileri Pertahanan Udara (Rai Arhanudri)/VIII, Yon Artileri Medan (Armed)-4 /VI, Yonif 126, Yonif 501, Yonif 721, Satgas 16/II, Yonif 403, dan Yonif 305.

Satuan itu melakukan operasi di setor barat. Wilayah pertempurannya berada di Suai, Ermera, dan Maliana. Hal itu terungkap dalam buku Operasi Seroja Jilid II B 1976. Mereka bagian dari pasukan gabungan yang menjalankan Operasi Seroja pertama. Perintah tugas melaksanakan Operasi Seroja, sesungguhnya sejak 31 Agustus 1975.

Sebelum dikirim ke perbatasan Timor Portugis, mereka mengikuti sejumlah latihan gabungan. Bahkan beberapa hari sebelum berangkat, masih mengikuti latihan di wilayah kesatuan masing-masing.

Sebelum pemerintah memutuskan operasi di Timor Portugis, sesungguhnya TNI sedang melakukan rencana perampingan. Di satuan zeni, misalnya; kompi-kompi alat berat serta kompi dump truk maupun Yonzikon 15 Menzikon Ditziad dilikuidasi. Begitu pula Yonzipur 7 Menzipur Kostrad serta Kizi 3 Harlap Kostrad dilikuidasi. Kostrad menyisakan Yonzipur 9 Para dan Yonzipur 10 Amfibi.

Begitu juga dengan sejumlah satuan-satuan infateri, kavaleri, armed, dan arhanud. Belum lagi persenjataan TNI saat itu masih banyak satuan yang menggunakan senjata laras panjang SP-1 buatan Pindad. Senjata ini modifikasi dari BM-59 yang kualitasnya belum bagus. Sering macet, popornya mudah patah, laras mudah lepas dan sangat panas untuk tembakan rentetan.

Kopasandha, satuan yang kini bernama Kopassus, serta Marinir dan Kopasgat (kini Korpaskhas) umumnya menggunakan AK-47. Senjata M-16 baru digunakan Kostrad beberapa bulan sebelum Operasi Seroja. Senjata tersebut baru dibeli dari Amerika Serikat. Di pihak yang akan dihadapi, Falentil atau faksi militer dari Fretilin, justru mendapatkan dukungan senjata dari Tropas, pasukan militer Portugal. Senjata mereka standar NATO.

Sukarelawan

Kogasgab Seroja merupakan komando operasionil Departemen Pertahanan dan Keamanan dalam menyelesaikan masalah Timor Portugis. Pengiriman pasukan sebagai sukarelawan dengan sasaran mendukung perjuangan rakyat Timor Portugis berintegrasi dengan Indonesia. Sebagai sukarelawan, mereka harus melepas atribut militernya.

Tugas awal yang disebutkan adalah menjaga di wilayah perbatasan. Mencegah serangan dan penyusupan yang dilakukan Fretilin, pasukan militer Timor Portugis yang berhaluan komunis. Sehingga operasi ini bersifat tertutup dan sebatas operasi darat saja. Satuan udara dan laut juga diperbantukan, meskipun masih secara terbatas. Para sukarelawan ini menggunakan pakaian jins dan potongan rambut tidak dicukur layaknya militer.

Perlahan-lahan Pemerintah Indonesia mengirimkan pasukan tambahan ke wilayah Lorosae atau tanah matahari terbit. Mereka melebur sebagai sukarelawan yang membantu pasukan gabungan Timor Portugis. Kali ini sudah melibatkan tiga matra: darat, laut, udara, ditambah kepolisian.

Kekuatan pasukan yang melaksanakan operasi perkuatan perbatasan awalnya hanya berjumlah 1.950 orang. Dalam struktur organisasinya, Kogasgab Seroja dipimpin oleh Brigjen Soeweno, komandan Pusat Sandi Yudha Lintas Udara Kobang Diklat TNI-AD.

Sukarelawan Kogasgab Seroja bergabung dengan masyarakat pendukung integrasi Indonesia. Bersama dengan tokoh-tokoh partai yang bersangkutan. Sukarelawan Indonesia ini kemudian dijadikan sebagai pasukan pemukul dari partai UDT dan Apodeti. Masuknya sukarelawan Indonesia membuahkan hasil. Mereka pun sudah berani menghadapi Falintil, pasukan bersenjatanya Fretilin. Inilah hasil latihan militer singkat dalam Operasi Komodo.

P3AD

Dalam rangkaian awal Operasi Seroja, sebagai Komandan Tim Pengendalian, Mayjen Benny Moerdani dan Wakil Komandan tim, Brigjen Dading Kalbuadi. Sedangkan Panglima Kogasgab Seroja, Brigjen Soeweno. Ketiganya alumni Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD) Bandung 1952. Cikal bakal perwira dan pelatih pasukan komando yang kini disebut Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Itulah era lulusan P3AD menjadi elite pengendali Operasi Seroja pertama, pada 1975-1976. Komandan-komandan di bawahnya, seperti komandan brigade atau resimen umumnya dipegang lulusan Akmil Breda Belanda 1955 dan Akmil Bandung 1954- 1957.

Sedangkan para komandan batalyon umumnya lulusan Akmil Bandung 1958-1961 dan Akmil Magelang 1960-1961. Di bawahnya, seperti wakil komandan batalyon maupun komandan detasemen dipegang lulusan Akmil Bandung (zeni, perhubungan dan peralatan) maupun Akmil Magelang (infanteri, kavaleri, artileri) 1962-1964.

Mulai lulusan 1965 semuanya lulusan Akmil Magelang. Hal ini setelah Akmil Bandung diintegrasikan ke Magelang sejak 1961 dan ditutup pada 1964. Akmil Bandung, awalnya bernama Akademi Genie Angkatan Darat, kemudian menjadi Akademi Zeni Angkatan Darat (Aziad), Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad), terakhir Akademi Militer (Akmil) jurusan teknik (jurtek). Menghasilkan sembilan angkatan, sejak 1956-1964.

Senjata Fretilin

Kembali ke soal senjata dalam operasi Seroja 1975-1976. Saat itu, sebagian senjata Fretilin faksi militer Timor Portugis berasal dari senjata yang ditingkalkan pasukan elite Portugal, Tropas. Beberapa persenjataan bahkan lebih modern daripada yang digunakan ABRI/TNI. Hal itu seperti dituliskan Bayu Syahputra Deparind pada AMMO chambers, Maret 2018 lalu.

Umumnya para komandan militer Fretilin membawa pistol Walther P-38/P-1. Pistol pabrikan Walther Arms Jerman merupakan pistol standar militer Portugal. Pistol semi otomatis dengan kaliber 9×19 mm. Pasukan Fretilin juga mempergunakan senapan bolt action mauser Kar98/ 937 Portuguese contract. Senapan berkaliber 7,92×57 mm. Selain itu Fretilin mempergunakan senapan mauser swedish yang mempergunakan kaliber peluru 6,5×55 mm. Ada pula SMG M948 FBP, Sub Machine Gun buatan Portugal dengan kaliber amunisi 9×19 mm.

Kemudian yang banyak diandalkan dari Fretilin adalah Battle Rifle G3. Penampilan senapan G3 ditambah kemampuan bekas militer Tropas menjadi monok bagi prajurit TNI. Saat itu masih banyak satuan TNI yang membawa SP1 Pindad. Tentu saja SP-1 tak mampu bersaing dengan battle rifle G-3 berkaliber 7,62×41 mm.

G3 memiliki kemampuan tembakan semi dan full otomatis. Industri senjata dalam negeri Portugal, Fabrica do Braco do Prata memproduksi G3 dalam jumlah besar untuk keperluan sendiri. Senjata ini merupakan service rifle di angkatan bersenjata Portugal selama puluhan tahun.

Mortir infanteri

Selain senjata laras panjang, Fretilin juga memiliki mortir infanteri. Beberapa tipe senapan mesin dan mortir yang dipergunakan Fretilin dalam menghadapi TNI saat itu, antara lain: senapan mesin ringan produk Compagnie Madsen A/S dari Denmark. Salah satu senapan mesin malam yang dipergunakan pasukan Portugis. Dirancang pada 1896. Madsen LMG salah satu senjata yang paling eksis pada Prang Dunia I, hingga konflik era 1970 dan 1980-an.

Ada pula senapan mesin multi fungsi atau senapan mesin regu, MG-34. Senjata ini mempergunakan amunisi 7,92×57 mm. Mauser ini dianggap sebagai senjata paling ‘advanced’ untuk jenisnya pada masa itu. Portugal juga mengunakan GPMG dalam kasus Timor-Timur . kemudian senjata ini jatuh ke tangan pasukan Fretilin.

Angkatan Bersenjata Portugal mengadopsi dan menggunakan MG-42 GPMG di daerah koloninya. Fretilin menggunakan senjata ini untuk menggempur TNI yang masuk ke Timor-Timur. Senjata hasil adopsi itu berasal dari MG-34. Mempergunakan amunisi berkaliber 7,92×57 mm, mauser menjadi monster bagi pasukan Sekutu saat berhadapan dengan tentara Jerman pada Perang Dunia II.

Mortir buatan Amerika Serikat M2 60 mm dikembangkan dari versi lebih beratnya yakni M1 yang mengusung kaliber 81mm. M2 untuk memberi bantuan tembakan yang lebih ringan untuk tingkat kompi. Dengan jangkauan tembakan hingga 1,8 km, senjata ini dioperasikan pasukan Portugal di Timor Timur. Kemudian menjadi andalan Fretilin melawan TNI.

Ada lagi Morteirette de 60 mm. Mortir buatan Portugis ini terbuat dari bahan kulit yang kuat. Sangat mobile dan bisa cepat memberikan reaksi bantuan tembakan. Selain itu Fretilin juga memiliki sejumlah granat. Mereka pun memiliki senjata andalan Korps Zeni, seperti ranjau darat.

Selamat Ginting, jurnalis.  Sumber tulisan Blog Selamat Ginting Associates

***