Irene dan Chelsea Bukan Komentar Kaleng-kaleng

Kemampuan dari Irene ini membuatnya beberapa kali diundang untuk menjadi komentator tamu saat ada turnamen-turnamen papan atas.

Kamis, 20 Mei 2021 | 09:49 WIB
0
112
Irene dan Chelsea Bukan Komentar Kaleng-kaleng
Irene Kharisma Sukandar (Foto: Instagram Irene Kharisma Sukandar)

Pecatur wanita nomor satu Indonesia IM Irene Kharisma Sukandar dan WIM Chelsie Monica Sihite dipilih untuk menjadi komentator Japfa Grandmaster Duel Match selama dua hari yang mempertemukan GM Susanto Megaranto dengan GM Novendra Priasmoro yang memperebutkan satu tempat di Piala Dunia.

Ibarat permainan bola voli, mereka pasangan yang serasi, Chelsie memberikan umpan-umpan lambung yang manis, sementara Irene menyelesaikannya dengan smash-smash tajam menghunjam.

Menjadi komentator catur itu tidak mudah apalagi catur adalah olahraga yang membosankan untuk ditonton karena biasanya berlangsung panjang. Rata-rata pertandingan catur klasik menghabiskan waktu lebih dari 3 jam lamanya.

Selama itu pula seorang komentator harus tetap konsisten dalam memberikan panduan. Ia harus cerdas mengeksplor bahan pembicaraan dan berimprovisasi. Itulah sebabnya komentator harus berwawasan luas agar topik sekecil apapun bisa diolah menjadi bahasan menarik.

Tanpa kehadiran komentator, jalannya sebuah pertandingan catur di televisi atau Yotube menjadi hambar, monoton dan kurang enak untuk disaksikan. Kehadiran komentator membuat pertandingan menjadi lebih hidup. 

Irene adalah komentator catur yang sangat ideal. Selain ia memiliki gelar Master Internasional, wanita berwajah cantik ini juga kaya akan pengalaman bermain di turnamen-turnamen besar.

Dia juga memiliki pengetahuan mendalam soal teknis catur, sehingga Irene tidak perlu riset terlalu mendalam saat memandu jalannya pertandingan. 

Irene yang akan bermain di Piala Dunia Wanita bulan Juli mendatang ini juga memiliki kemampuan verbal dalam berkomunikasi, intonasi suara, pengetahuan soal kosa kata yang luas, serta pemilihan kata membuat penjelasannya sangat runut dan gampang dicerna penonton bahkan yang awam catur.

Irene juga menguasai data statistik kedua pemain, selain membaca dari media, juga karena sering berkomunikasi di pelatnas-pelatnas catur yang mereka ikuti. Tidak heran jika Irene mengetahui jalan pikiran Susanto Megaranto misalnya saat akan menjalankan langkah berikutnya.

Kemampuan dari Irene ini membuatnya beberapa kali diundang untuk menjadi komentator tamu saat ada turnamen-turnamen papan atas salah satunya seperti turnamen New In Chess Classic Final misalnya yang digelar ChessBase India.

Saya berharap bisa menonton Irene nanti saat mengupas jalannya pertandingan kejuaraan dunia antara GM Magnus Carlsen dengan GM Ian Nepomniachtchi di Chess24 sebagai komentator tamu atau paling tidak di akun Youtube-nya.

***