Grafis Masa Kanak-kanak Karya Ali Miri

Manusia itu tidak dilihat dari ke-Sunni-annya, atau ke-Syiah-annya, atau apa pun kotak-kotak yang lainnya. Manusia itu ya manusia, titik! Manusia terutama dilihat sikap dan perilakunya.

Minggu, 17 November 2019 | 07:54 WIB
0
92
Grafis Masa Kanak-kanak Karya Ali Miri
Grafis karya Ali Miri (Foto: Facebook/Andi Setiono Mangoenprasodjo)

Sehari lalu saya menemukan gambar yang menggambarkan masa kecil yang indah, sederhana, namun menyenangkan. Mengingatkan masa kecil, saat saya dan adik kandung saya sangat suka menginjak-injak punggung bapak dan ibu. Kebiasaan ini terus berlanjut bagi saya hingga masa SMA. Tentu tidak lagi menginjak tubuh, tapi memijat.

Ketika saya menjadi orang tua, kebiasaan ini berulang tapi gantian saya diinjak-injak oleh anak-anak. Kemudian saya baru tahu, bahwa serial gambar ini lcukup banyak. Mulanya saya pikir, ini karya seniman lokal karena sangat Indonesia sekali. Pada gambar awal yang saya temukan hanya ada tiga figur: ayah, anak laki-laki dan perempuan-nya.

Ternyata pada gambar aslinya, terdapat seorang nenek di pojokan, mbesengut, menatap kosong. Seolah membatin bahwa ia tak akan (mungkin) beroleh kesenangan yang sama. Kemudian saya berubah pikiran, mudah diduga bahwa ini "bukan Indonesia". Tapi tetap belum bisa menerka bahwa gambar-gambar ini adalah karya seorang seniman Iran.

Dari satu gambar, inilah saya melacak rekam jejak karya-nya yang saya pikir luar biasa menarik, otentik, dan dalam batas-batas tertentu bernilai sangat universal. Pantas, karya ini bertebaran dimana-mana namun cilakanya dengan "semangat curang yang sama": ingin menghapus jejak bahwa ini karya seorang Iran yang walau suatu republik islam, tapi dianggap bukan Islam.

Salah satu negara yang paling saya kagumi, di luar Cuba yang keduanya saya pikir sama-sama memiliki sikap independen sangat kuat. Keduanya berani secara terang-terangan menantang negara super power seperti AS, tanpa rasa takut. Walau diembargo selama buluhan tahun, tetap tegak berdiri dan dengan caranya sendiri bisa berkembang makin kuat!

Ali Miri adalah seorang seniman grafis, yang sepanjang hidupnya: lahir bersekolah, dan berkarya di kota Mashad. Kota terbesar kedua yang terletak di Timur laut Iran, yang termasuk Provinsi Khorasan-e Razavi yang berdekatan dengan perbatasan Turkmenistan and Afghanistan. Artinya, ia berada dalam pusaran pengaruh peradaban Asia Tengah. Di mana pada abad pertengahan, di sinilah perkembangan ilmu pengetahuan Islam mencapai puncak tertingginya.

Belakangan saya juga baru tahu, kuliner andalannya sejenis sate klathak, daging kambing yang ditusuk dan dibakar dengan jeruji besi. Pria kelahiran tahun 1975, dengat bakat alamnya sudah sejak masa sekolah menengahnya mulai menggambar dan menerima pesanan dari kawan-kawannya. Namun baru tahun 1993, karya seni pertamanya sebagai desainer diterbitkan dengan sirkulasi besar.

Tentu saat ia sudah duduk di bangku universitas. Namun baru sejak 1995, ia secara bertahap berkenalan dan bermetamorfosis dengan dunia digital, yang merevolusi proses penerapan desain grafis serta ilustrasi dengan alat bantu komputer. Yang dianggapnya di luar memungkinkan ia lebih luas mengeksplorasi tema, juga mempercepat proses menerima lebih banyak pesanan. Hingga ia berhasil menyediakan layanan artistik untuk banyak orang, perusahaan, dan unit bisnis di Iran dan bahkan di luar negeri. Keahlian yang disebutnya sebagai memberikan saran, berbagi ide, dan implementasi.

Lalu kenapa ia menjadi terkenal khusus di dunia anak?

Ia melihat dunia anak adalah dunia yang serius: membutuhkan lebih dari kecakapan khusus. Karena memiliki efek mendalam pada kehidupan seorang anak, dan itu membutuhkan komitmen dan riset yang kuat. Impiannya adalah bahwa pada suatu hari, semua orang, memiliki kehidupan yang murni dan innocent seperti anak-anak, hidup bersama dengan bahagia. Daripadanya saya makin mengerti, kenapa Iran selalu berhasil bila merepresentaskan banyak karya yang berkait dengan dunia anak.

Ali Miri bukan kebetulan. Pada kurun yang sama, di negeri ini lahir film Children of Heaven yang ditulis dan disutradarai oleh Majid Majidi. Film ini saya anggap, paling baik dan menyentuh yang pernah saya tonton sepanjang hidup saya. Sebuah cerita tentang keluarga miskin, yang daripadanya menghasilkan pesan bahwa kemiskinan itu bukanlah sesuatu yang menakutkan.

Kemiskinan selalu memiliki nilai yang agung dan keindahannya sendiri. Film yang menceritakan sepasang sepatu yang hilang ini, meraih Academy Award untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 1998. Sekali lagi bahwa sekalipun kedua negara ini saling bermusuhan dan saling menanggap setan. Kedua takluk dalam ranah budaya: berbesar hati saling menghormati.

Beredarnya banyak karya Ali Miri di dunia maya, dengan tanpa menyebutkan asal usulnya. Dan hanya menunjukkan content, hanya sekedar mengekplorasi lucu-lucuan. Adalah typical negara brengsek sejenis Indonesia. Yang selalu menganggap tidak penting hak karya cipta.

Dalam kasus Ali Miri, lebih sadis karena ruang lingkup-nya global. Menunjukkan bahwa waktak pencuri itu bukan melulu identik dengan negara berkembang, di negara maju pun begitu. Apalagi bila yang dicuri itu adalah milik negara beraliran Syiah seperti Iran. Negara paria yang dianggap publik sumber masalah, dan tidak punya kontribusi apa-apa dalam pergaulan antar bangsa di masa kini. Walau, ia sudah sangat sopan dengan memberi watermark yang tipis di sudut yang tak mengganggu.

Dalam banyak kesempatan, watermark asli dihilangkan bahkan diganti dengan "klaim jahat" bahwa itu adalah copy right miliknya. Saya sampai saat ini, selalu percaya bahwa etika watermark itu hanya boleh dilakukan si seniman asli sebagai pemilik hak cipta dan komersialnya. Lebih dari itu ya penjahat grafis! Padahal sebenarnya mudah saja, berkenalan dengan dirinya dan meminta izin memuatnya.

Jangan lupa ini abad digital, bung. Manusia mudah terhubung dalam hitungan detik, dari tidak kenal menjadi sangat akrab. Saya pun sudah melakukannya. Dan dengan simpatik ia bilang, malah berterimakasih sudah bersedia menyebar luaskan karya2nya.

Daripadanya, saya makin mengerti dan memahami: manusia itu tidak dilihat dari ke-Sunni-annya, atau ke-Syiah-annya, atau apa pun kotak-kotak yang lainnya. Manusia itu ya manusia, titik! Manusia terutama dilihat sikap, perilaku dan watak humanisme-nya. Dari rasa hormat, karya dan kebersediaan berbaginya.

***