Cerpen | Perempuan Bodoh dari Besipa'e

Saya sebetulnya ingin melanjutkan ucapan itu. Tapi belum sempat saya lanjutkan, tiba-tiba saya lihat matanya mulai berbinar, dan ia kembali berkata, “Perempuan bodoh! Sekarang saya mengerti."

Minggu, 17 Mei 2020 | 23:05 WIB
0
3772
Cerpen | Perempuan Bodoh dari Besipa'e
Ilustrasi: Perempuan Bodoh Dari Besipa'e

“Perempuan bodoh!”

“Perempuan bodoh?”

Saya tak mengerti: kenapa ucapan itu terdengar pelan. Bukankah ia sedang menghina saya? Kenapa ia tak berani lantang? Beberapa detik saya pikirkan. Oh, mungkin karena ia sudah terlalu lelah. Berjam-jam ia memeriksa saya. Sejak kemarin lusa, ini pemeriksaan kali kedua. Tapi sampai sekarang ia belum juga mendapatkan apa-apa.

Saya menatapnya, ia duduk menghadap ke arah saya di seberang meja. Sebagai seorang polisi, ia sudah menjalankan aturan sebagaimana mestinya. Ia tak seperti kebanyakan polisi lainnya, ia lepaskan seragamnya sewaktu memeriksa saya. Ia ganti dengan sebuah kemeja. Memang, sudah semestinya begitu.

“Perempuan bodoh? Maksud Bapak apa?”

Raut wajahnya berubah. Ia terlihat tegang dan mulai ketakutan.

Saya bisa saja melaporkan dia atas tuduhan penghinaan dalam pemeriksaan perkara. Atau setidak-tidaknya saya bikin laporan ke Propam, untuk pelanggaran kode etik. Akan tetapi, saya tidak tega. Lihatlah raut wajahnya, dia sangat lelah.

Berjam-jam ia memeriksa saya. Seharusnya ada pengganti, atau setidak-tidaknya ada yang mendampingi. Tidak seperti saat ini, hanya dia sendiri. Berdua dengan saya di ruangan Reskrim ini.

“Sumpah, saya tidak bermaksud demikian," Ia mencoba meyakinkan saya.

“Empat jam saya diperiksa, tapi Bapak melecehkan saya. Tidakkah Bapak seharusnya bisa lebih sopan?”

“Iya, iya,” ia menjawab gugup, “saya minta maaf". Saya tidak berniat menghina Mama. Saya hanya lelah. Saya hanya butuh sedikit istirahat. Saya minta maaf .”

Saya mencoba memahaminya. Dia memang belum mendapatkan keterangan yang berarti dari saya, tapi lelah sudah menyergap tubuhnya.

“Jujur,” katanya, “saya tidak mau mama melaporkan saya.”

“Kenapa?”

“Karena saya sudah mengalami trauma.”

“Trauma? kenapa?”

“Iya, mama” katanya. “Sudah dua kali saya ditegur Komandan.”

“Ditegur kenapa?”

"Karna emosi saya sering tidak terkendali. Setiap ada terperiksa atau tersangka yang datang, saya langsung jadi kesal. Awalnya hanya ucapan kekesalan, tapi karena terlalu sering, akhirnya jadi kebiasaan. Seperti tadi yang mama dengar. Saya kesal. Saya belum juga mendapatkan keterangan kunci. Sedangkan saya sudah lelah. Akhirnya….”

“Akhirnya pak menghina saya bodoh begitu?”

“Iya, mama! Tapi saya tidak maki.”

Saya mengerti. Ia kesal karena belum mendapatkan keterangan soalnsiapa yang menyuruh kami memprotes dengan bertelanjang dada. Saya tahu, sebab sejak tadi, ia melontarkan pertanyaan tentang siapa yang memprovokasi kami untuk melakukan seperti itu. Selain belum mendapatkan keterangan, sebenarnya dia juga kesal karena tak ada petugas pengganti. Padahal ia kelihatan sudah dangat lelah.

“Saya harap mama mengerti. Saya tidak ada maksud menghina.”

“Baiklah,” kata saya. “Tapi bolehkah saya tahu kenapa pak memilih kalimat 'perempuan bodoh’ untuk menunjukan kekesalan? Kenapa tidak ucapkan kata yang lain saja?”

“Ada,” katanya. “Hanya saya sudah terbiasa menggunakan kalimat itu.”

“Kasihan,” kata saya.

“Kasihan?”

“Ya. Karna perempuan masih saja dihina dan dilecehkan seperti itu. Padahal pak dilahirkan dari rahim seorang perempuan. Pak tahu kalau perempuan adalah makluk paling teraniaya didunia ini?”

“Maksudnya?”

Betapa bodohnya dia sehingga tak mengerti maksud saya. “Baiklah. Saya jelaskan. Pak pernah urus kasus perselingkuhan?”

“Pernah,” katanya.

"Tau istilah pelakor?"

"Iya. Saya tahu," ia menjawab lagi.

“Itu kebiasaan kaum laki-laki. Mereka yang memulai, tapi saat ada masalah, mereka berpura-pura jadi korban.”

“Siapa suruh jadi pelakor?”

“Istilah pelakor itu ciptaan laki-laki, pak.”

“Hah, ciptaan laki-laki?”

“Iya, pak. Laki-laki lah yang lebih dulu menggoda. Biasanya, saat menggoda itu, ia suka menipu perempuan bahwa ia belum memiliki kekasih atau belum menikah. Tapi ketikan terjadi masalah, ia tiba-tiba mengubah posisi seolah-olah menjadi korban.

Ia menggeser beberapa buku diatas meja kesamping. "Trus?", Ia meminta saya melanjutkan cerita.

"Dan disaat-saat seperti itulah perempuan yang disalahkan. Padahal perempuanlah yang seharusnya menjadi korban dari tipu daya si laki-laki. Oh iya, istilah pelakor itu juga awalnya hanya ucapan biasa, lama kelamaan jadi kebiasaan dan stigma untuk mendeskreditkan sesama perempuan."

"Awalnya ucapan biasa tapi menjadi kebiasaan, maksudnya?" Ia bertanya.

"Iya, Pak! Awalnya hanya ucapan biasa seperti kalimat 'perempuan bodoh' yang tadi bapak ucapkan kepada saya. Tapi lambat-laun menjadi kebiasaan."

Ia menatap saya dengan serius.

Saya lalu melanjutkan." Pak pernah dengar kasus di Desa Kiubaat? "

"Kasus apa?" Ia penasaran.

"Kasus perselingkuhan seorang laki-laki yang sudah menikah. Ia meninggalkan istrinya yang telah memberikan 3 orang anak kepadanya."

"Yang benar?"

"Sumpah, pak! Ia membawa perempuan hasil perselingkuhan itu ke rumahnya. Ia lalu mengusir istinya yang sah."

"Trus..?"

"Perempuan itu akhirnya pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa tiga orang anaknya. Dua bulan kemudian, ia berangkat ke Malaysia untuk menjadi TKW."

"Kenapa harus ke Malaysia? Kan bisa bekerja disini saja," Katanya.

"Kalau disini, ia pasti akan dihantam beberapa masalah sekaligus. Ia akan tersakiti kalau melihat suaminya bersama perempuan yang lain. Ia juga harus menahan malu dengan ucapan orang-orang disini. Pak, tahu istilah dalam Bahasa Dawan untuk seorang janda? "

"Tidak! apa?"

"Disini orang biasanya menyebut orang yang sudah diceraikan dengan istilah "Mpoli".

"Artinya?" Ia bertanya.

"Mpoli itu artinya buangan, bekas, sampah!"

Ia hanya menunduk. Saya kemudian melanjutkan,

"Laki-laki sepandai apa pun, ia tak bisa merasakan langsung perasaan yang dialami perempuan."

Iya mengangguk.

"Laki-laki juga tidk bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi perempuan yang tanahnya dirampas. Ia juga tak bisa melihat hubungan antara tanah dan pangan. Ia tak tahu sebab ia tak pernah mengurus stok makanan di dapur. Ia juga tak pernah berpikir soal anak-anak yang berbisik dikala lapar."

"Tapi tidak semua laki-laki begitu kan?"

"Benar! Tidak semua! Tapi sebagian besar seperti itu. Apa lagi laki-laki yang hidup di kota. Mereka hanya sibuk bicara soal sopan-santun, moral dan merasa sok tahu soal tubuh perempuan. Padahal, banyak tubuh perempuan yang mereka perlakukan semana-mena. Mereka juga..."

"Tapi kan kasus kemarin itu, ada juga perempuan yang mencibir mama dan teman-teman yang bertelanjang dada saat melakukan protes?"

"Saya tahu, Pak! Tapi saya tak bisa menyalahkan mereka. Perempuan-perempuan seperti itu sebetulnya karna ia sudah terbiasa berpikir dari sudut pandang laki-laki. Pokoknya, persis seperti perempuan yang suka berkelahi dengan sesama perempuan di saat suami atau kekasihnya selingkuh. Mereka marah karna terbiasa melihat dari sudut pandang laki-laki. Mereka tak sadar bahwa kami sesama perempuan adalah korban dari tipu daya laki-laki."

Saya melihat ia sungguh-sungguh mendengarkan penjelasan saya.

"Perempuan yang melihat dari sudut pandang laki-laki juga seperti itu. Awalnya cuma sesekali, lama-lama menjadi kebiasaan, jadi hobi."

"Hah, hobi?"

"Iya. Hobi menyalahkan sesama perempuan."

"Ah, masa?"

"Sungguh ! Coba Bapak cermati saja kalau ada kasus perselingkuhan. Alasan yang sering disampaikan bahwa hal itu terjadi karna perempuan tak bisa memberikan kepuasan kepada suaminya, tak bisa memoles diri dan lain-lain. Padahal, laki-laki yang tak bisa mengatur hasratnya.

Ia tiba-tiba menarik napas lalu menghembuskan.


Saya melanjutkan, " Kasus pemerkosaan, kasus KDRT, kasus perampasan lahan, kasus perselingkuhan dan kasus yang lain juga seperti itu. Perempuan juga yang pada akhirnya jadi korban."

"Kasus pemerkosaan juga seperti itu?"

“Ya,” jawab saya.

Ia diam, mungkin menunggu kelanjutan.

“Saat masih muda. Saya juga pernah diperkosa."


“Hah? Mama pernah diperkosa?”

“Pernah,” kata saya.

"Saat itu mama melapor ke polisi?"

"Tidak!"

Ia mengerutkan keningnya menandakan ketidakmengertian. “Ceritanya bagaimana sampai mama bisa diperkosa?"

Saya tak menjawab

"Mama, kenapa?"

Saya hanya diam. Air mata tiba-tiba membasahi pipi saya. Saya teringat kejadian saat itu.

"Mama, bisa ceritakan untuk saya?" Ia bertanya.

“Bisa,” kata saya. “Tapi kita harus kembali dulu ke materi pemeriksaan.” Saya berbicara sambil mengusap air mata dengan selendang yang melingkari leher saya."

“Maksudnya?”

“Seperti yang pak ingin tahu. Pak kan mau mengorek keterangan kunci dari saya tentang siapa dalang dan kenapa kami memprotes dengan bertelanjang dada. Nah, supaya pak tidak bertanya dan berbicara diluar kasus itu. Sebaiknya langsung saja saya sampaikan saja.”

“Silakan!” katanya.

Saya lihat ia sungguh-sungguh mendengarkan.

“Begini,” kata saya, “saya tahu dalangnya siapa. Dalangnya adalah pemerintah."

"Dalangnya pemerintah?"

“Ya.”

“Alasannya?”

“Karna itu adalah tanah leluhur kami. Ayah saya dulu ditipu oleh pemerintah. Mereka berjanji bahwa kalau kami memberikan tanah kami untuk di kontrakan maka hidup kami akan berubah."

Ia menatap saya dengan serius.

"Tapi apa yang kami dapat? Sampai habis masa kontrak hak pakai atas tanah usai , hidup kami tak kunjung berubah."

"Iya, tapi apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang untuk membuka lapangan pekerjaan. Nanti mama dan teman-teman bisa kami pekerjakan ditempat itu."

" Janji memang seperti itu. Selalu indah. Tapi kenyataan dan pengalaman sering berbicara lain."

"Pengalaman seperti apa?"

"Banyak, pak! Mulai dari tambang marmer, mangan, hingga batu warna di Kolbano. Semua itu juga dulunya dengan alasan untuk membuka lapangan pekerjaan. Tapi yang ada, kami justru semakin miskin."

Ia tampak kaget dengan ucapan saya.

Saya kemudian melanjutkan," dulu Kabupaten TTS dijuluki dengan 'istana sapi' dan 'gudang cedana', tapi apa dampaknya buat kami masyarakat? Tidak ada! Daerah kita juga sejak dulu sampai sekarang tetap masuk dalam kategori daerah termiskin. Pohon cendana yang dibanggakan itu, kini hanya jadi lampang dipakian dinas para pegawai negeri saja, tapi pohonnya tak pernah lagi terlihat.

Ia menarik napas panjang.

"Kalau alasannya untuk membuka lapangan pekerjaan, seharusnya daerah kita bukan penyumbang TKW dan TKI terbanyak. "

Ada segelas air mineral didepannya. Ia teguk sebentar lalu berkata, "lanjut omong mama."

"Pak tau kenapa daerah kita penderita stunting dan gizi buruk terbanyak?" Saya bertanya.

Ia menggelengkan kepala.

"Itu karna pemerintah tidak mampu melihat hubungan antara kerusakan lingkungan, kekeringan, masalah pangan, dan hubungannya dengan masalah perempuan."

"Mama omong jangan melebar kemana-mana. Kita kembali ke pokok masalah saja. Sejak kapan tanah itu disewakan?"

"Sejak tahun 1987 hingga tahun 2012."

Ia tiba-tiba menunduk.

"Setelah usai masa kontrak, seharusnya tanah itu dikembalikan kepada kami."

"Memang seharusnya seperti itu."

"Benar! Seharusnya seperti itu! Tapi kejadian ini malah sebaliknya. Pemerintah justru mau merampas tanah kami."

Ia mengangkat kepala sambil menatap saya.

"Ini kan seperti kita menyewa sebuah mobil, pak. Kalau jangka waktu sewanya sudah selesai, mobil harus dikembalikan kepada pemiliknya. Bukan justru sebaliknya. Iya kan?"

"Tapi kan pemerintah tak merampas tanah itu, hanya mau memperpanjang kontrak saja."

"Betul, pak! Tapi kalau mau melanjutkan kontrak pun harus ada kesepakan dengan kami sebagai pemilik tanah. Bukan membuat kesepakatan sepihak seperti saat ini. Saya memang tidak sekolah, tapi saya mengerti hal seperti itu."

Ia mengangguk.

"Lalu kenapa mama dan teman-teman melakukan protes dengan bertelanjang dada?" Ia bertanya.

"Pak belum mengerti kenapa kami melakukan hal itu? Itu perlawanan simbolik. Hanya itu satu-satunya cara menarik urusan privat (tubuh) ke urusan publik (politik). Tapi pemerintah tak pernah melihat dari sudut pandang kami. Mereka selalu melihat dari sudut pandang laki-laki. Sudut pandang yang katanya dapat merangsang nafsu. Persis seperti kasus-kasus yang lain.

"Tapi kan bisa dibicarakan baik-baik to?"

"Bicarakan baik-baik?"

"Itu yang kami inginkan, tapi pemerintah selalu saja menolak. Kami malah digusur beberapa bulan lalu. Saat kami digusur, orang-orang yang sok suci diluar sana hanya diam membisu. Para pumuda yang setiap hari berdebat di Facebook pun hanya memilih aman. Kami akhirnya berjuang sendiri. Tak ada yang membela kami."

Ia tiba-tiba menunduk.

Saya sebetulnya ingin melanjutkan ucapan itu. Tapi belum sempat saya lanjutkan, tiba-tiba saya lihat matanya mulai berbinar, dan ia kembali berkata, “Perempuan bodoh! Sekarang saya mengerti."


***
Rumah biru, Mey 2020.


Honing Alvianto Bana. Lahir di Kota Soe - Nusa Tenggara Timur. Suka bertani dan beternak. Ia juga suka melamun. Tulisannya terpercik dibeberapa media.