Akhir Tragis Hidup Ibnu Sina

Mereka akan selama membungkam nalar sehat, mengambat penyemaian logika berpikir dan memusuhi dialog keilmuan.

Selasa, 5 November 2019 | 19:19 WIB
0
112
Akhir Tragis Hidup Ibnu Sina
Film

Tidak semua film Hollywood yang baik, bisa diputar di Bioskop Indonesia itu lumrah. Karena di luar keterbatasan layar, juga pertimbangan bisnis dan selera penonton lokal. Yang juga tidak aneh, tidak semua film bagus, karena kadang ratingnya IMDB-nya tidak terlalu mencolok tinggi bisa kita tahu bahwa itu film yang menarik.

Tapi menemukan film bagus tanpa sengaja, itu sengat menyenangkan. Ini sebuah film yang berliku, tidak fokus, dan menurut saya terlalu banyak sudut. Typical film yang terlalu berat untuk penonton Indonesia, yang seleranya kalau gak dar der dor, atau horor yang ih syerem sambil tangannya grayangan cari pegangan itu. Ya hanya film melow-melow yang sialnya hari ini menjadi sejenis panduan jalan menuju surga itu.

Film ini sejenis epos dari abad pertengahan, sekira tahun 1000-an. Ketika Eropa konon berada pada masa kegelapan yang pekat. Pada masa Gereja sedang punya kuasa nyaris tanpa batas, mengatur segala sesuatu sampai urusan yang ranjang dan pengobatan. Konon di masa itu, Eropa mengalami kemunduran yang sangat sejak Emperium Roma berantakan.

Bahkan di Inggris, profesi dokter atau juru obat tidak dikenal. Setiap orang yang memiliki kemampuan mengobati selalu dicurigai sebagai tukang sihir. Dan bila terbukti, ia mampu mengobati orang sakit, justru akan dihukum mati. Karena dianggap menyekutukan Tuhan. Satu-satunya kedok menjadi pengobat adalah menjadi tukang cukur!

Dimana ke mana-mana, ia bisa membawa "senjata-senjata tajam" untuk mengobatii orang. Dan mereka beroperasi, sebagaimana di Tanah Jawa, hingga tahun 1970-an di Pasar. Karena Rumah Sakit belumlah lagi dikenal, berjualan obat dengan berbagai hiburan trik sulap, akrobatik dan rayuan gombal mukiyo.

Dari sini, saya memahami kenapa anggota Parlemen sesungguhnya tak lebih tukang obat yang naik kelas. Modalnya pinter ngomong, kemampuannya menipu!

Sementara di sisi lain Peradaban Islam, yang belasan ribu kilo jauhnya sedang mengalami puncak kejayaannya. Kecangghan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, bahkan telah menyebar jauh melampaui batas imajinasi antar bangsa.

Sahibul kisah, si tokoh yang sejatinya hanya pembantu si tukang cukur, mulai gelisah dengan aksi tipu-tipu si tuannya. Yang pada suatu ketika, setelah mencabut gigi pasiennya, menyebabkan meninggal. Hingga ia diamuk massa dengan dibakar tubuhnya, hingga menyebabkan kebutaan matanya. Suatu ketika, ketika sesampai di London, ia menemukan "tukang cukur" dari komunitas Yahudi yang lebih canggih dan metodologis yang bisa menyembuhkan kebutaan mata si tuannya.

Dari sinilah si tokoh diberitahu bahwa pusat segala perkembangan ilmu pengetahuan pada saat itu berada di Isfahan, suatu wilayah yang termasuk kawasan Persia. Namun sejak semula, ia diingatkan kemuskilannya ia bisa menimba ilmu karena ke-kristen-annya. Tak putus asa, ia berangkat menyeberang dari Dover hingga mencapai Mesir, untuk sekedar mengganti identitasnya sebagai seorang Yahudi.

Dari teks awal ini, sangat terlihat bahwa pada masa tersebut, Yahudi dan Islam cukup dekat. Apa simbol kedekatannya, inilah yang aneh! Karena sama-sama disunat! Dan untuk itulah, si tukang cukur muda itu menyunat dirinya sendiri untuk bisa menyaru sebagai seorang Yahudi, meninggalkan jejak ke-Kristenan-anya.

Singkat cerita, sampailah ia ke Isfahan. Dan bertemulah ia dengan sang maestro. Yang belakangan diketahui bernama Ibnu Sina atau orang biasa menyebut juga Avicenna. Diperankan dengan sangat baik oleh Ben Kingsley, aktor watak jempolan pemenang dua kali Piala Oscar. Seorang bijak yang memiliki pengetahuan yang sangat luas nyaris tanpa batas.

Sambil berpraktek sebagai dokter, ia juga mengajarkan filsafat yang tak berbatas hanya Islam saja tapi hingga menjangkau masa Yunani Kuno. Pemikiran-pemikiran Plato, Socrates atau Aristoteles hampir tersemai sepanjang film. Pada masa tersebut Isfahan sendiri berada di bawah kepemimpinan seorang Shah, yang di dalamnya unsur mahzab keagamaannya beraliran Syiah. Dimana peran kepemimpinannya yang kuat berada di tangah para Mullah.

Para Mullah ini punya kemiripan dengan para Pendeta atau Romo pada masa tersebut, di mana mereka sangat benci dan menjaga jarak pada ilmu pengetahuan. Keduanya sama meyakini bahwa Yang Maha Penyembuh hanya Tuhan semata. Ilmu Pengetahuan itu cara setan menguasai manusia!

Di titik inilah konflik sosial-politik, menjadi hidangan utama film itu. Dan diperburuk dengan kebencian mereka yang sangat kepada kaum minoritas Yahudi, yang entah kenapa dari dulu populasinya kok gak pernah jadi besar, namun justru semakin luas skala mengembara ke seluruh penjuru dunia! Saya tidak tahu benar, apakah memang demikianlah kisah sejarah sebenarnya, ndilalah, pada saat bersamaan Kaum Seljuk, dengan tentara gurun pasirnya sedang meluaskan pengaruhnya.

Seljuk adalah cikal bakal Dinasti Ottoman yang kelak akan berkedudukan di Turki dan berkuasa selama berabad-abad kemudian. Sindikasi Syiah dan Seljuk inilah, yang mengakhiri cerita tentang Ibnu Sina: seorang scientis, filosof, dan guru ilmu pengetahuan yang sangat humanis dan tanpa tanding. Ia diceritakan meninggal secara tragis, di perpustakaannya yang dibakar para Mullah. Menangis perih, dalam kesendirian. Memandangi akhir cerita buku-buku dan catatan-catatan karyanya.....

Film produksi tahun 2013 ini, memiliki dua judul: The Phisician untuk pasar Amerika dan untuk Eropa (karena ini film produksi Jerman) dijuduli Der Medicus. Dengan latar, awal mula Masa Renaissance (Pencerahan) di Eropa. Ketika profesi dokter, rumah sakit, dan metode pengobatan ilmiah diperkenankan.

Dan sebaliknya di Dunia Islam mengalami kemunduran yang sangat! Di mana para ilmuwan justru dianggap agen kemusyrikan. Mengingatkan kondisi aktual hari-hari ini (bahkan di negeri kita sendiri). Dimana gerakah-gerakan khilafah atau fundamentalis atau radikalis atau apapun itu yang nada dan gayanya nyaris sama: minum air kencing unta, bumi datar, sangat mudah menyebut orang yang tak seirama dengan dirinya sebagai sesat.

Mereka akan selama membungkam nalar sehat, mengambat penyemaian logika berpikir dan memusuhi dialog keilmuan. Mereka akan selalu berbicara tentang kepatuhan, ketaatan, kekaffahan, ketakutan.....

Pesan moral film ini: kenapa Inggris untuk rentang waktu cukup panjang (pernah) merasakan era menjadi Pax Britanica, dan diteruskan oleh anak kandungnya yang bernama Pax Amerika. Karena sesungguhnya keduanya dibesarkan oleh kultur yang sama bernama Pax Yudaica. Yang memiliki kuasa daya ilmu pengetahuan, keberanian menjelajah, dan usaha kreatif yang akan langgeng dan terus berkembang. Walau juga dengan bonus reaksi kenaifan, yang akan dimusuhi sepanjang masa. Bahkan hingga akhir zaman.

***