Emma

Emma Raducanu jadi petenis perempuan Inggris pertama yang memenangi grand slam dalam 44 tahun terakhir, sejak Virginia Wade menjadi juara Wimbledon di tahun 1977,juga jadi juara termuda grand slam setelah Maria Sharapova di tahun 2004.

Selasa, 14 September 2021 | 08:03 WIB
0
148
Emma
Emma Raducanu (Foto: Facebook/Tomi Lebang)

Dunia tenis tetiba menggelora beberapa hari ini karena nama gadis Inggris 18 tahun ini: Emma Raducanu.

Ia datang sebagai peserta turnamen Grand Slam US Open dan -sebagai peringkat 366 putri dunia dan peringkat 12 di negaranya- memulai pertandingannya dari babak kualifikasi.

Sebelum datang ke New York, ia sudah memesan tiket pulang dengan bayangan ia takkan melangkah jauh-jauh dari babak bawah turnamen terakbar tenis yang berlangsung tiga pekan sampai final ini.

Ia cukup tahu diri. Karir profesionalnya baru dimulai tiga tahun, dia belum pernah bermain langsung sebagai peserta undian utama grand slam, dan tentu saja belum mengantongi satu pun piala tur WTA, turnamen di bawah grand slam.

Lalu, selanjutnya adalah sejarah. Di New York, Emma Raducanu menciptakan kejutan demi kejutan, rekor demi rekor. Ia terus melaju sampai ke final. Dialah petenis pertama dalam sejarah -laki-laki dan perempuan- yang menggapai babak final turnamen grand slam yang berangkat dari kualifikasi.

Dan pagi ini waktu Indonesia, petang di New York, Emma Raducanu menelentangkan diri di lapangan dengan perasaan campur aduk seusai menghempaskan perlawanan petenis Kanada, Leylah Annie Fernandez, dua set langsung.

Emma jadi jawara baru US Open 2021 di depan 24.000 penonton langsung dan ratusan juta pasang mata yang menyaksikan di layar televisi di Inggris dan seluruh dunia.

Emma juga mencatatkan rekor tak kehilangan satu set pun dalam sepuluh pertandingan yang ia lakoni, dari kualifikasi sampai final.

Emma Raducanu jadi petenis perempuan Inggris pertama yang memenangi grand slam dalam 44 tahun terakhir, sejak Virginia Wade menjadi juara Wimbledon di tahun 1977. Di usia 18 tahun kini, Emma juga jadi juara termuda grand slam setelah Maria Sharapova di tahun 2004.

Semuda itu, Emma terlihat begitu pantas berdiri di panggung juara. Ia tak merayakannya secara berlebihan. Ia hanya menyampaikan terima kasih kepada orang-orang yang berjasa mengantarkannya ke prestasi itu, juga kepada khalayak New York yang membuatnya betah serasa berlaga di rumah sendiri. Ia menjawab pertanyaan pewawancara di lapangan dengan begitu fasih, berbicara tanpa jeda dan ragu, dan kalimat yang sungguh berisi.

Emma kini pulang ke Inggris dengan kepala tegak sebagai juara. Memulai turnamen sebagai peringkat 366 dan dalam tiga minggu menggapai peringkat 23. Memulai karir dengan hadiah memenangi beberapa pertandingan sebesar 35.000-an dolar, kini dalam tiga pekan ia mendapatkan 2,5 juta dolar hadiah juara US Open.

Kejutan dunia tenis yang membuat minggu pagi begitu sempurna bagi yang ikut menikmatinya.

***