John McEnroe vs Djokovic, Matinya Servis dan Voli

Dunia memang tengah menunggu, pemain lengkap, selengkap Pete Sampras penyandang 14 gelar Grand Slam yang komplet pukulannya.

Minggu, 11 Juli 2021 | 07:03 WIB
0
43
John McEnroe vs Djokovic,  Matinya Servis dan Voli
Djokovic vs McEnroe (Foto: Facebook/Jimmy S. Harianto)

Ha ha ha... Judul itu memang bercanda. Tetapi setidaknya itu mewakili sebuah pemikiran akan hilangnya sebuah gaya permainan yang pada dekade lalu dipuja yakni permainan agresif “serve and volley game” di dunia tenis. Petenis hebat masa kini tidak ada yang bergaya serve and volley game. Mereka hanya maju ke depan net, bila diperlukan untuk mengakhiri permainan lawan lebih cepat pada saat yang tepat, seperti dilakukan Roger Federer, juga Novak Djokovic, Rafael Nadal.

Tetapi mereka bukan membawa gaya “rush to the net” menjadi tontonan yang asyik seperti dekade 1980-an, 1990-an seperti John McEnroe, Stefan Edberg, Boris Becker, Richard Krajicek. Di putrinya? Dulu ada Martina Navratilova.

Dua atau tiga dekade lalu, tenis dunia memang disuguhi permainan yang seperti tegas dipisahkan, antara pemain bergaya “baseliner” yang hanya berkutat dengan pukulan keras dari garis belakang. Versus pemain “serve and volley game” langsung merangsek ke depan net, menyergap net setelah pukulan servis keras, ataupun servis yang akurat. Secara alami, memang dua dekade lalu tengah marak-maraknya tampil pemain dunia dengan gaya berlainan, sama-sama hebat. Menjadi puncak tontonan di panggung tenis dunia.

Kayak apa gemuruhnya penonton, jika dua (disebutnya) musuh bebuyutan John McEnroe berhadapan dengan Bjorn Borg, petenis Swedia yang biarpun dunia runtuh sekalipun dia akan tampil bermain di belakang garis. Bak, buk, bak, buk. Menembak ataupun mematikan lawan dari garis belakang, baseline. Seperti gunung es. Sementara yang satunya tak henti-henti menyergap lawan dengan rush to the net, main serve and volley game, berapi-api.

Entah sudah berapa kali final turnamen Grand Slam, Australia Terbuka, Perancis Terbuka, Wimbledon dan AS Terbuka publik tenis dulu berharap, tampil di final John McEnroe vs “the iceberg” Bjorn Borg yang bagai es kutub. Dingin, tetapi mematikan. Ia melawan McEnroe yang selain kidal, memilik servis khas dan sulit. McEnroe, kadang “tantrum” (marah, memperjuangkan satu persatu poin yang dimainkan) dengan berargumen dengan hakim garis, bahkan wasit. Sampai tidak jarang McEnroe kena penalti “verbal abuse”, “racket abuse” atau tindakan bengal lainnya sangking marah, termasuk membanting raketnya. McEnroe seolah "dimusuhi" petugas lapangan. Tetapi dicintai publiknya.

(Untuk menghindari McEnroe McEnroe seperti itu, kini sudah ada alat komputer penghakimnya. Coba diputar ulang pukulan terakhir masuk atau out, pakai layar komputer yang menayangkan hasil rekaman penjaga garis berupa sensor. Seperti juga di sepak bola, kini wasit pun bisa "tanya komputer" yang disebut sebagai VAR, video assist referee, video pembantu wasit untuk cek pemain offside atau tidak, free kick lalu penalti atau tidak.)

Dan pertarungan antara baseliner vs serve and volley game itu bertahun-tahun terjadi. Sebelum McEnroe -- peraih tujuh gelar Grand Slam -- sudah ada pemain serve and volley game pendahulunya, Richard “Pancho” Gonzales juga dari Amerika. Petenis nomor satu pada masanya selama delapan tahun antara tahun 1950-1960. Dia juara AS Terbuka 1948 dan 1949. Zaman racket masih kayu pun, Pancho Gonzales sudah mencatat kecepatan servis 112,88 mph alias setara dengan kecepatan kendaraan 120 km perjam.

Apakah serve and volley game, main servis dan langsung merangsek untuk melakukan pukulan volley itu semata-mata mengandalkan pukulan servis keras? Baik John McEnroe, atau sebelumnya Pancho Gonzales, Jack Kramer, Rod Laver ternyata tak hanya demikian. Mereka justru mengandalkan kehebatan mereka melakukan pukulan volley (sebelum bola menyentuh tanah, sudah disambar, istilah yang juga dipakai dalam tendangan gol sepak bola), disamping kekerasan serta akurasi servisnya.

Tampilnya pemain-pemain agresif, rush to the net, dengan taktik serve and volley game, bukan sebuah kesengajaan. Selain tontonan John McEnroe vs Bjorn Borg, masih ada tontonan Stefan Edberg vs Ivan Lendl. Dan masih ada Pat Cash dari Australia, dan Boris “Boom Boom” Becker dari Jerman, ataupun yang terhebat Pete Sampras, petenis AS dengan lawan baseliner sejati dari AS, Andre Agassi.

Dan rupanya tidak hanya di lelaki. Pemain dengan gaya serve dan volley game itu seolah menghilang di tenis putri. Bertahun-tahun tenis perempuan pernah didominasi Martina Navratilova, yang ibarat tak terkalahkan dengan gaya permainan “serve and volley game”. Martina tercatat sebagai petenis putri terhebat dunia dalam rentang waktu 1975-2005.

Ia juara di 19 turnamen Grand Slam di nomor tunggal , serta 31 di ganda. Melawan jagonya baseliner, seperti Chris Evert – dan berderet-deret lebih banyak lagi, baseliner jago-jago seperti Gabriela Sabatini, Kathy Rinaldi, atau belakangan setelah Martina, ada Monica Seles yang aah, uuh, aah, uuh dari garis belakang.

Salah satu ciri permainan baseline, biasanya memiliki teknik pukulan backhand dua tangan. Bahkan secara ekstrem, jagoan Swedia Bjorn Borg itu main dua tangan, baik di sisi backhand maupun forehand. Seperti juga pemain AS hebat, lawan bebuyutan McEnroe, Jimmy Connors ia juga dua tangan di sisi backhand maupun forehand.

Novak Djokovic kini, penyandang 19 gelar Grand Slam, memang tidak selalu dua tangan backhand nya. Di lapangan rumput Wimbledon kemaren, bahkan ia sering tampil satu tangan dengan pukulan “back spin” untuk memancung bola, yang cepat mati di permukaan rumput. Juga back spin di lapangan tanah liat, seperti Roland Garros, Perancis Terbuka.

Dunia memang tengah menunggu, pemain lengkap, selengkap Pete Sampras penyandang 14 gelar Grand Slam yang komplet pukulannya. Sampras dikenal memiliki dua pukulan servis, baik servis pertama maupun servis kedua yang sama keras, sama akurat, sama mematikan lawan. Apalagi diikuti dengan gaya Sampras, yang bisa rush to the net, bisa berbahaya dari baseline.

Tetapi beruntung juga sih, masa kini masih ada petenis hebat yang bisa mengkombinasikan dua gaya itu, seperti Roger Federer dari Swiss si penyandang terhebat di muka bumi, dengan prestasinya 20 gelar juara turnamen Grand Slam. Atau Rafael Nadal yang sehebat Federer pula, dengan 20 gelar juara Grand Slam.

Kalau di bagian putri? Tak bisa komentar lain bahwa masa kini adalah dunianya pemain baseliner. Era permainan serve and volley game sudah berakhir lama di tenis putri, semenjak mundurnya Martina Navratilova pada dekade lalu. Navratilova, hanyalah sisa-sisa permainan serve and volley game yang dibawa pendahulunya, Billy Jean King dan Margaret Court. Selebihnya nyaris punah gaya permainan ini di putri... 

JIMMY S HARIANTO, (03/07/2021)

***