Cerpen | Suara Tangisan itu

Semesta begitu hening. Tak ada suara selain tangis yang penuh kesedihan itu. Tangis yang terus mengalun mengalir hingga galaksi-galaksi paling jauh.

Kamis, 21 Mei 2020 | 22:57 WIB
0
163
Cerpen | Suara Tangisan itu
Ilustrasi: tangisan perempuan.

Sudah seminggu terakhir, orang-orang dikampung itu mendengar suara tangisan seorang perempuan. Suara itu terdengar hampir setiap malam. Lantaran sudah terbiasa mendengar suara-suara aneh seperti itu, mereka tak lagi mempedulikannya. Tapi karna sudah hampir sebulan tangisan itu belum juga berhenti. Akhirnya, beberapa orang mulai merasa terganggu.

Suara tangisan itu sangat pedih. Ia seperti mengingatkan siapapun pada banyak kesedihan yang diam-diam ingin dilupakan. Kadang seperti suara tangisan seorang perempuan yang menangis sambil berbicara menggunakan Bahasa Dawan dihadapan saudaranya yang terbujuk kaku. Tapi kadang seperti suara seorang bayi yang merengek-rengek minta diperhatikan. Sungguh, suara tangisan itu begitu menyedihkan.

Karena sudah keseringan, beberapa orang akhirnya mendatangi rumah Pak RT.

“Itu suara siapa yang menangis?!”

“Bikin diri macam tidak ada kerja selain menangis. Bikin jengkel saja!”

“Suruh dia berhenti.”

“Ah itu pasti suara Tanta Mince,” ujar Joni, seorang tukang ojek dipangkalan Besipa'e. “Dia pasti masih sedih karena suaminya meninggal beberapa minggu lalu .”

Orang-orang yang mendengar hal itu tiba-tiba terdiam. Mendadak saja mereka teringat Om Antonius yang pendiam dan baik hati itu. Ia meninggal minggu lalu saat hendak mengambil air disungai. Jasadnya ditemukan 5 meter dari mata air, diantara 2 buah jerigen dan sebuah ember berwarna hitam.

Mendengar hal itu, beberapa orang segera menuju rumah Tanta Mince di Dusun Kuafeu. Saat tiba, mereka kaget sebab rumah itu sepi dan terkunci. Tak ada suara tangisan yang keluar dari dalam. Herannya lagi, suara itu justru terus mengambang di udara yang entah berasal dari mana. Seperti menggenang dan mengepung mereka. Mereka lalu mendatangi setiap rumah di Desa itu, tapi tak menemukan seorang pun yang menangis dengan begitu sedih. Suara tangisan itu kadang terdengar seperti suara tangisan seorang bayi. Kadang seperti suara seorang perempuan yang terisak setelah diputuskan oleh kekasihnya. Kadang terisak panjang. Kadang seperti keluhan. Kadang seperti sayatan panjang yang mengiris malam.

Setiap malam, tangisan itu terdengar timbul-tenggelam dalam kesedihan yang paling memilukan. Banyak warga mengeluh saat mendengar suara itu. Hidup sudah susah kenapa harus ada suara tangisan yang begitu menyedihkan seperti ini lagi.

“Ini sudak keterlaluan!” geram Defri, seorang pemuda lulusan Undana yang baru wisuda beberapa bulan lalu. “Saya tidak melarang orang menangis, hanya harus tau waktu dan tempat. Masa menangis setiap malam tanpa berhenti.” Mereka lalu kompak untuk mengadu pada Om Nuel, seorang Kepala Desa yang sudah menjabat selama dua periode.

“Kami harap Bapa Desa tolong cari tahu siapa yang menangis…”

“Apa salahnya kalau orang menangis. Kadang menangis memang diperlukan to?" ujar Kepala Desa.

“Kalau menangis hanya sebentar tidak apa-apa. Tapi kalau menangis terus setiap malam ya bikin jengkel.”

“Jujur, sebenarnya kami juga kadang ikut sedih kalau mendengar suara tangisan seperti itu”

“Jadi sedih dan kepingin ikut menangis…”

“Itu namanya mengganggu ketertiban!”

“Pokoknya orang itu harus segera diamankan!”

Tak ingin terjadi hal-hal yang makin meresahkan, Kepala Desa akhirnya menghubungi Pak Camat. Barangkali yang terus-terus menangis itu dari desa sebelah. Memang dua minggu lalu ada seorang perempuan yang meninggal saat melahirkan. Anaknya selamat, tapi ibunya meninggal. Mungkin roh perempuan itu yang masih bergentayangan dan terus-terus menangis. Namun Pak Camat menjelaskan kalau suara tangis itu memang terdengar di seluruh Desa.

“Warga di Desa lain juga cerita, kalau mereka siang malam mendengar suara tangis itu,” kata Pak Camat. “Makanya, kalau sampai nanti malam suara itu masih terus terdengar, saya akan lapor Pak Bupati.”

***

Pada minggu ke-3, suara tangis itu terdengar makin panjang dan menyedihkan. Tangisan itu terdengar begitu dekat, tetapi ketika didatangi seakan berasal dari tempat yang jauh. Tangis itu seperti banjir yang meluber ke mana-mana. Orang-orang yang mendengar tangisan itu makin lama makin sarat rintihan dan kepedihan. Tangisan yang mengingatkan siapa pun pada kesedihan paling pedih dan tak terbahasakan. Entah siapa yang terus-terusan menangis penuh kesedihan seperti itu?

Seandainya orang itu menangis karena penderitaan, itu pasti karena penderitaan yang ia alami benar-benar sudah tak bisa lagi ditanggung, kecuali dengan menangis terus-menerus sepanjang hari.

***

Pada minggu ke 4 seluruh orang dikabupaten sudah digelisahkan oleh tangisan itu. Para aparat Desa, Polisi, TNI, Camat, anggota DPRD, dan Bupati sudah berusaha mencari sumber dari suara itu. Mereka mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukan orang yang terus-terus menangis seperti itu. Tangis itu telah membuat banyak orang-orang tidak lagi nyaman. Sangat mengganggu.

Radio dan koran-koran lokal dikabupaten itu ramai memberitakan kejadian itu. Mereka mencoba mencari tahu siapa yang terus- menerus menangis sepanjang hari hingga berminggu-minggu…

Banyak masyrakat dikabupaten itu hanya bisa menduga-duga asal tangisan itu. Siapakah yang bisa menangis terus-menerus seperti itu.

“Mungkin itu suara tangisan anak-anak desa yang bersekolah dikota tapi disiksa…”

“Mungkin itu tangisan mama-mama penjual sayur dibibir-bibir pasar yang menangis karna jualannya tak laku.”

“Mungkin itu tangisan para petani yang sedih karna gagal panen pada tahun ini…”

“Barangkali itu tangisan sepasang suami-istri yang tak pernah tersentuh bantuan apapun dari pemerintah…”

“Barangkali itu tangisan perempuan dan anak-anak di Besipa'e yang diusir dari tanah mereka.”

“Atau bisa jadi itu tangisan kuntilanak…”

“Atau mungkin tangisan seorang ibu yang rindu pada anaknya diperantauan…”

Tangisan itu seakan mengalir sepanjang jalan, sepanjang sungai, sepanjang hari, sepanjang malam, melintasi perbukitan kering, merayap di hamparan sawah-sawah, dan terdengar gemanya yang panjang hingga ngarai dan lembah yang kelabu sampai ke dusun-dusun paling jauh di Desa Fatu'ulan.

Tangis itu mengalun sayup-sayup bersama galau angin yang melintasi padang sabana dan hutan-hutan yang sunyi hingga ke pantai-pantai indah diujung selatan. Tangisan itu seakan mampu meredakan deru ombak hingga laut terlihat bening dan datar berkilauan di bawah cahaya bulan yang keperakan. Orang- orang termangu diluapi kesenduan setiap mendengar tangisan yang timbul tenggelam itu. Beberapa penyair menuliskan sajak-sajak perihal kesenduan dan kesedihan tangis itu seakan-akan itulah tangisan paling menggetarkan yang pernah mereka dengar.

***

Pada minggu ke-12, tangis itu sampai juga ke kediaman Gubernur yang asri dan megah di Ibu Kota Provinsi. Tangis itu menyelusup lewat celah jendela, dan membuat Gubernur tergeragap dari kantuknya. Ia menyangka itu tangis anaknya yang masih kecil. Mungkin dia mengigau atau kehausan sehingga menangis ditengah malam, batin Gubernur, lalu ia bangkit menuju kamar sebelah. Tapi anaknya yang ganteng dan putih itu tampak terlelap dalam tidur. Lalu siapa yang menangis? Seperti terdengar dari luar sana. Pelan-pelan Gubernur membuka jendela, tapi yang tampak hanya bayangan sebatang pohon ketapang didepan rumah jabatan Gubernur.

Mendadak istrinya sudah di sampingnya.

“Ada apa, Bapa?”

“Saya seperti mendengar suara orang menangis…”

“Siapa?”

“Entahlah…”

“Sudah, tidur saja. Besok kamu mesti bertemu dengan beberapa investor untuk membuka pabrik semen di Manggarai,” kata istrinya.

Gubernur hanya tersenyum. Tetap berusaha tampak anggun dan tenang. Lalu menutup jendela.

***

Sementara tangisan itu terus mengalun dan angin perlahan-lahan bagai susut. Segala suara bagai meredup dan mengendap dalam gelap. Semesta terkesima dan seketika terdiam. Seekor kelelawar yang terbang melintas malam mendadak berhenti di udara. Sebutir embun yang bergulir mendadak tergantung beku di ujung daun. Beberapa ekor kunang-kunang dengan cahaya kuning yang redup pucat terlihat diam mengapung dalam dingin. Semesta begitu hening. Tak ada suara selain tangis yang penuh kesedihan itu. Tangis yang terus mengalun mengalir hingga hati yang paling jauh dan dalam.

Apakah kau dengar tangisan itu?

***
Rumah biru, Mey 2020.


Honing Alvianto Bana. Lahir di Kota Soe - Nusa Tenggara Timur. Suka bertani dan beternak. Ia juga suka melamun. Tulisannya terpercik dibeberapa media.