Bonge Citayam Disewa Toko Online

Mereka tiba-tiba menjadi berdaya, setelah jadi viral di media sosial dan media mainstream. Termasuk media televisi. Nggak perlu dicemburui, hai orang gedongan...

Jumat, 29 Juli 2022 | 20:31 WIB
0
67
Bonge Citayam Disewa Toko Online
Bonge (Foto: Tira Hadiatmojo)

Bonge ikon Citayam Fashion Week siang hari Kamis (28/07/2022) itu ‘dikawal’ serombongan orang yang tengah meminta dia syuting untuk iklan sebuah brand besar saat ini, sebuah bisnis online shopping S....E. Tidak ada si cantik ‘seleb’ Citayam Jeje Slebew kali itu. Bonge ditemani ikon Citayam fesyen lainnya, Kurma, yang seperti juga Bonge yang hitam alami terbakar matahari, maka Kurma pun ‘glowing’ matahari wajahnya. Seperti juga Bonge, Kurma pun rambutnya dicat blereng-blereng.

Begitu datang ke lokasi, remaja kurus -- yang mendadak tenar karena idenya membikin zebra cross di Jalan Tanjung Karang Dukuh Atas Jakarta Pusat itu jadi catwalk warga urban Ibu Kota --, langsung dikawal serombongan orang. Ketika tiba di trotoar Jalan Tanjung Karang, Bonge pun disambut teriakan ratusan orang yang penasaran nonton Citayam fesyen: “Bonge! Bonge! Bonge!”. Dan Bonge langsung digiring masuk ke gedung kaca di sebelah Kopi Janji Jiwa, yang persis di posisi tusuk sate zebra cross jalan Tanjung Karang. “Bonge masuk dulu yaa...,” kata salah satu anggota rombongan untuk memisahkan Bonge dari kerumunan orang banyak, guna kepentingan syuting dan bisnis tentunya. Pakai bayar cuan pula, untuk menyewa Bonge demi iklan. 

Jelas dari tingkah dan model pakaiannya, meski menyesuaikan dengan fesyen jalanan, kelihatan mereka yang menggiring Bonge dan Kurma ke gedung kaca itu orang-orang gedongan. Orang-orang yang memanfaatkan popularitas mendadak Bonge untuk kepentingan bisnis online mereka. Bukan seperti Bonge yang khas berwajah ‘glowing’ terbakar matahari. Bukan khas alami wajah-wajah anak jalanan. Tetapi mereka rombongan mulus kulit, dan rambut dicat ‘hombre’ beneran, seperti anak muda urban lainnya. Bukan model cat rambut kamar mandi, cat rambut polesan sendiri, seperti awal-awal Bonge turun di jalanan Dukuh Atas. Lokasi di sekitar zebra cross Dukuh atas itu memang lokasi seberang taman di mulut stasiun MRT tak jauh dari stasiun angkutan para Citayamers itu. Sebuah stasiun Kereta Listrik di Dukuh Atas salah satu tujuan keret dari Citayam, Bojong Gede, Depok untuk tujuan kawasan Sudirman. Tempat dulu mereka biasa nongkrong dan ngamen.

Rombongan online shopping itu ‘menitipkan’ tokoh setingan mereka, lupa saya namanya. Tetapi tubuhnya subur berbalut jaket kampus. Rambut tersisir. Tanpa polesan cat. Tubuh lebih kekar tanda terpelihara, baju jins, kaus gedongan, terlihat dari wajahnya yang tidak terlalu ‘glowing’ terbakar matahari. Ia jelas anak gedongan yang mungkin tampangnya mendekati anak-anak Citayam. Nyengungus gimana, gitu. Mungkin dititipkan agar tidak kampungan-kampungan amat tayangan iklan online itu.

Nyinyirisme

Belakangan Citayam Fashion Week memang ditimpa gejala nyinyirisme. Kecuali komentar Gubernur Bandung Ridwan Kamil yang “encouraging’, membesarkan hati dan membela anak-anak jalanan ini agar bisa terus berekspresi menurut caranya, maka komen media mainstream saat ini umumnya memang mulai menyorot dengan pendekatan negatif, seperti ajaran jurnalistik mereka, “bad news is good news”. Dari mulai naiknya kriminalitas gara-gara kehadiran Citayam Fashion Weeks, sampai merekam keluhan warga, dan juga ‘Citayam Fashion Week’ yang konon kini dilarang aparat. Padahal tidak demikian.

Lihat saja, bapak-bapak Polisi yang menjaga di sekitar zebra cross itu tidak melarang mereka. Melainkan mengatur mereka agar tidak memacetkan jalan. Dan agar mereka tidak tersambar lalu lintas di jalan. Jalan Tanjung Karang Dukuh Atas di samping kolong Jalan Sudirman itu memang tetap fungsional, untuk U turn mobil motor dari Sudirman Dukuh Atas, berbalik arah melalui kolong jalan Tanjung Karang.

“Para pejalan kaki jangan bikin konten di zebra cross yaa.... Zebra cross itu untuk pejalan kaki,” teriak megafon kendaraan polisi. Kan bukan melarang? Nyatanya yang jalan kaki berfesyen di zebra cross itu tetap jalan. Yang dilarang itu, yang ambil gambar sembari mundur-mundur di zebra cross, mengarahkan ponsel mereka pada artis dadakan yang melenggang, sehingga membahayakan dirinya sendiri. Karena kendaraan yang lalu lalang di Jalan Tanjung Karang terus harus jalan. Para fashionista dadakan ini bisa dihujani klakson, kalau masih ada yang mundur-mundur memotret pakai ponsel mereka, mengikuti lenggang lenggok para fashionista jalanan.

Nyinyirisme politik memang menggejala di media massa saat ini. Bahkan ketika menanggapi fenomena jalanan semacam ini. Terutama media mainstream, yang sering mencari sudut pandang “bad news, is good news”. Penyinyir politik ini pada mencari sisi pandang negatif dari ekspresi jalanan. Tidak seperti Ridwan Kamil, yang justru mendorong demokratisasi fesyen yang spontan ini, agar tidak dimanfaatkan nafsu monopoli bisnis seperti yang dilakukan sejumlah fashionista dan artis gedongan untuk mematenkan Citayam Fashion Week ke Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI). Fenomena yang spontan ini diperlakukan seolah trend milik nenek moyang mereka saja.

"Nasehat saya, tidak semua urusan di dunia ini harus selalu dilihat dari sisi komersil. Fenomena #CitayamFashionWeek itu adalah gerakan organik akar rumput yang tumbuh kembangnya harus natural dan organik pula," ujar Ridwan Kamil dalam instagramnya, yang dikutip media, mengritik selebriti kaya Baim Wong, yang bersama sejumlah artis lain mendaftarkan Citayam Fashion Week ke PDKI. Warganet pendukung Baim pun kontan mengritik balik Ridwan Kamil. Meski memang Baim Wong sungguh tidak ‘pener’, karena mengklaim upaya spontan orang pinggiran ini, dengan mendaftarkan Citayam Fashion Week seperti karya mereka saja.

Kalau melihat langsung di lapangan, apakah sisi negatif ini menonjol di Jalan Tanjung Karang Dukuh Atas? Nggak juga. Malah menghibur masyarakat. Seperti hari Kamis siang itu, zebra cross di Jalan Tanjung karang itu malah menjadi tumpahan hiburan warga kota. Sampai tidak bisa membedakan, apakah yang melenggang di zebra cross itu mereka orang gedongan atau orang jalanan beneran? Yang jelas, para fashionista dadakan di arena para Citayam fashionista itu meriah dengan berbagai warna. Nggak hanya fashionista a la warna-warni Harajuku saja yang berlenggang. Muncul para fashionista berjilbab, atau emak-emak berumur yang berlenggang-lenggok sembari pengen dipotret untuk konten.

Yang pasti, para Citayamers fesyen ini tidak peduli. Apakah istilah “Citayam Fashion Week” ini salah, dan seharusnya “Citayam Street Fashion” seperti pengertian akademis di kepala para gedongan. Nggak pedulilah mereka. Salah kek, itu memang brand spontan mereka. Mereka tetap jalan dengan istilah Citayam Fashion Week, brand orisinal mereka. Mereka juga tidak peduli dengan kritikan berbasis teori di buku. Karena mereka memang hanya ingin menunjukkan ekspresi jalanan, melepas himpitan beban hidup keseharian mereka.

Sehari sebelumnya, ada kejadian yang cukup lucu. Ada seorang selebgram dengan follower jutaan mendekati Kurma, seleb Citayam, untuk minta berpotret bersama. Boleh minta foto dong! Adegan ini masuk TikTok.

Dengan entengnya, Kurma si seleb jalanan itu menjawab si selegbram: Maaf, saya sedang mau bikin konten.... Juga si Jeje Slebews, jadi sasaran nyinyir, ketika ia menyibak massa: “Ntar dulu, ntar dulu minggir dong.. nanti dulu maufoto!” Gaya spontan kampungan ini dinyinyirin warganet, bahkan jadi parodi netizen. Dasar nyinyirisme politik masuk ke jalanan.

Yang jelas, kini mulai muncul gejala kecemburuan mereka yang mapan pada ekspresi jalanan yang viral ini. Bahwa aksi jalanan ini menimbulkan kriminalitas lah, bikin macet jalan lah, mulai efek negatif remaja lah, banyak copet lah. Padahal, mereka kini menjadi obyek hiburan warga kota seolah bebas lepas dari himpitan tiga tahun harus work from home, akibat pandemi.

Sebenarnya, perlu kita bisa melihat bahwa gejala fesyen di jalanan ini hanya sekadar ekspresi orang pinggiran. Mereka yang semula tak mampu, naik turun KRL dan nongkrong di tengah gebyar ibu kota. Maklum mereka warga pinggiran. Dan secara tak sengaja, mereka mengekspresikan secara tepat tajuk mereka Citayam Fashion Week, dan bukan tajuk yang sesuai pengertian text book, seharusnya Citayam Fashion Street. Karena mereka memang bukan bagian dari Fashion Week sebenarnya. Mereka bukan fashionista seperti yang terjadi di Manhattan New York, atau Paris Fashion Week sungguhan. Harus membayar sekian cuan dollar. Mereka justru memparodikan even komersial di megapolitan itu sebagai geguyon jalanan. Pameran gaya hidup kelas atas itu dijadikan hiburan jalanan, Citayam Fashion Week. Siapa saja boleh melenggang di “Abbey Road” nya Dukuh Atas, tanpa harus bayar, di Jalan Tanjung Karang kawasan Dukuh Atas...

Label Citayam pun khas. Itu sebuah lokasi pinggiran metropolitan dekat Depok yang bener-bener kampung. Bener-bener lokasi dengan jalanan sempit. Bukan tempat gedongan seperti di Dukuh atas. Nama Bonge pun nama jalanan yang sesungguhnya. Bonge dulu memang pengamen Dukuh Atas. Bonge bukan nama sok keren. Tetapi singkatan dari Bojong Gede, tempat pengamen seleb ini.

SCBD? Itu nama kawasan elit, super elit di Jakarta tak jauh dari simpang semanggi. Tak kuasa mereka mengakses gedung-gedung tinggi di SCBD ini. Maka, di mata para fashionista pinggiran ini, SCBD adalah singkatan Sudirman, Citayam, Bojonggede, Depok. Asal muasal mereka. Jangan dikoreksi lagi dengan pengertian gedongan, Sudirman Central Business Distrik. Nggak menghayati lah, mereka yang pada glowing terbakar matahari ini. Citayam Fashion Week itu ekspresi ketidak-berdayaan mereka. Tetapi mereka tiba-tiba menjadi berdaya, setelah jadi viral di media sosial dan media mainstream. Termasuk media televisi. Nggak perlu dicemburui, hai orang gedongan...

JIMMY S HARIANTO (29/07/2022)