Kejuaraan Dunia Bulutangkis, Beijing 1987

Tahun 1980-1990 praktis Indonesia mati kutu. Banyak keok di berbagai turnamen yang dulu mereka juarai, lantaran merajalelanya China ini.

Sabtu, 9 April 2022 | 06:32 WIB
0
98
Kejuaraan Dunia Bulutangkis, Beijing 1987
Saya diapit Lim Swie King dan Edy Hartono (Foto: Rudy Hartono)

Situasi bulu tangkis Indonesia menjelang Kejuaraan Dunia di Beijing 1987 sungguh serba tanggung. Generasi “The Magnificent Seven” - Rudi Hartono, Liem Swie King, Tjun Tjun, Johan Wahyudi, Christian Hadinata, Iie Sumirat dan Ade Tjandra – sudah mulai dimakan umur. Sementara ada gap prestasi cukup jauh, lantaran generasi muda pengganti di bawahnya, Alan Budikusuma, Ardy B Wiranata dan putrinya Susi Susanti juga serba tanggung. Prestasi generasi pengganti masih belum memuaskan. Dari sisi usia, yunior kagak, senior juga belum.

Sementara di dunia, semenjak masuknya China ke Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF) tahun 1981, lagi jaya-jayanya. Dan bahkan China superior sekali jika dibandingkan dengan negara manapun di dunia pada saat itu. Hanya selang setahun setelah meninggalkan federasi mereka, WBF (World Badminton Federation sejak 1972-1981), China langsung menggebrak dunia. Tidak tanggung-tanggung, menjuarai turnamen perseorangan yang paling bergengsi seperti All England, ataupun kejuaraaan beregu dunia Piala Thomas di putra dan Piala Uber di putri pada tahun 1982. 

Indonesia terlalu lama terlelap kemenangan sebelum munculnya China di IBF 1981. Bahkan sejak era Tan Joe Hok ketika tampil sebagai orang Indonesia pertama yang mampu juara di turnamen bulu tangkis paling bergengsi di dunia, All England 1959. Disusul kehebatan Rudy Hartono menjuarai tunggal All England delapan kali dalam rentang waktu antaara 1968-1976. Dan di ganda pun, silih berganti ganda putra Indonesia Tjuntjun dan Johan Wahyudi enam kali juara pada 1974, 1975 dan 1977-1980, serta sebelumnya Christian dan Ade Chandra dua kali 1972 dan 1973. Christian bahkan sempat tampil di final tunggal putra 1973 kalah sama Rudy Hartono. Indonesia lupa membangun pemain pelapis kedua di bawan para jagoan-jagoannya.

Menang di ganda All England? Publik bulutangkis Indonesia 70-an dan 80-an ngga cukup puas. Seperti nggak dianggep juara kalau hanya menjuarai nomor ganda. Kudu menang di nomor tunggal, itu baru dianggap juara. Apalagi menang ganda campuran. Publik bulu tangkis di Inggris sampai bosen, melihat bergantian pemain Indonesia tampil sebagai juara, menyaingi jagoan Eropa pada masa 1970-an itu, yakni Denmark sejak Erland Kopps (1968) serta Flemming Delfs (1977) dan kemudian Morten Frost Hansen di era 1980-an. Malaysia yang merajai bulu tangkis All England tahun 1950-an melalui Wong Peng Soon dan Eddy Choong, pada era 80-an itu juga sedang tenggelam, terlambat membina pemain pengganti Wong Peng Soon dan Eddie Choong.

Masuknya China ke IBF tahun 1981 benar-benar membuat buyar peta bulu tangkis dunia. Lantaran sejak 1981, pemain-pemain China mampu mengalahkan siapa saja yang hebat di dunia. Termasuk Indonesia.

Dan baru mulai merangkak muncul, kekuatan Korea Selatan, menyusul kemudian bangkit lagi, Malaysia tahun 1990-an. Indonesia pernah mengirimkan ke dua turnamen yang di bawah IBF, maupun WBF. Bahkan Iie Sumirat pernah juara Asia di turnamen yang digarap WBF.

Tahun 1982 sampai awal 1990-an, China tak habis-habis mengeluarkan pemain-pemain juara. Silih berganti menjadi juara dunia, atau All England. Dari Han Jian, Chen Chang Jie, Luan Jin, Xiong Guobao sampai generasi pemain kidal yang sangat ditakuti dunia, Zhao Jianhua, Yang Yang. Juga di ganda, dirajai Li Yongbo dan Tian Bingyi. Justru Korea Selatan yang berhasil memunculkan pemain ganda kelas dunia, saingan China dan batu sandungan bagi Indonesia, yakni Park Joo Bong dan Kim Moon So juara All England 1985, 1986.

Mendadak China ini tentu saja bisa terjadi. Lantaran, ketika China masih memisahkan diri dalam federasi bentukan mereka, WBF, mereka dilarang ikut serta turnamen-turnamen terkenal dunia yang kebanyakan diselenggarakan oleh federasi IBF. Mereka punya juara-juara dunia sendiri, yang notabene adalah eks warga negara Indonesia yang lari ke China daratan setelah huru-hara politik 1965 di Indonesia. Mereka adalah jago-jago dunia, Hou Zhiachang, Tang Xienhu, di ganda Chen Fushou. Juara tunggal putri pun Liang Chiushia, adik Tjuntjun. Juga pemain asal Semarang yang hijrah ke China, Chen Yuniang.

Tahun 1980-1990 praktis Indonesia mati kutu. Banyak keok di berbagai turnamen yang dulu mereka juarai, lantaran merajalelanya China ini. Hanya sedikit pemain Indonesia yang mampu mengimbangi mereka, itupun sudah mulai memudar, Liem Swie King juara tiga kali All England 1978, 1979, 1981.

Di putri bahkan lebih gila lagi. Yang namanya tunggal dan ganda, susah menandingi juara-juara dunia Li Lingwei dan juga Han Aiping. Mereka bisa tampil di tunggal dan ganda sekaligus juara. Di bawah Li Lingwei dan Han Aiping ini buanyak sekali pemain putri yang berkelas juara. Ada Zhang Ailing, pendahulu mereka yang dua kali juara All England, atau Wu Jianqiu, Qian Ping dan menyusul kemudian Huang Hua yang seumur Susi Susanti.

Jelang Olimpiade

Mulai dipertandingkannya cabang Bulu Tangkis perseorangan (bukan beregu) untuk pertama kalinya di Olimpiade Barcelona 1992, juga menjadi pemacu semangat tersendiri, bagi negara-negara bulu tangkis seperti China, Indonesia, Denmark, Korea Selatan untuk mencari peluang bertanding di Barcelona. Meski hanya mempertandingkan nomor-nomor perseorangan di Olimpiade, akan tetapi sudah cukup kiranya membuat pemicu semangat bagi negara-negara bulu tangkis dunia untuk tampil sebagai juara Olimpiade.

Indonesia pada tahun 1987 itu juga memasuki masa peralihan, dari semula selalu dipimpin oleh “orang bulu tangkis” sejak Dick Sudirman tahun 1960-an dan Ferry Sonneville tahun 1980an, menjadi dipimpin oleh orang yang sama sekali berasal dari kalangan non bulu tangkis.

Munculnya Try Sutrisno, seorang Jendral KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat di era Soeharto) dan kemudian menjabat Wapres saat memimpin Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) periode 1985-1989, 1989-1993 juga merupakan perubahan atmosfer tersendiri bagi perkembangan bulu tangkis Indonesia.

Meski pembinaan mulai berbau militeristik, dengan di antaranya di kemudian hari dipelatnaskan di sebuah tempat pemusatan khusus Cilangkap, markas Hankam di Jakarta Timur, namun Try Sutrisno melakukan satu hal yang di kemudian hari berguna bagi bulu tangkis Indonesia. Yakni “Menuju Barcelona 1992” dengan membuat berbagai pelatnas (pemusatan latihan nasional) dan pelatda pemain-pemain pelapis generasi The Magnificent Seven yang sudah surut satu persatu.

Di luar The Magnificent itu, memang juga muncul, hasil dari pembinaan klub lokal, Icuk Sugiarto dari Pelita grup (Aburizal Bakrie), Eddy Kurniawan (Jaya Raya Jakarta), Lius Pongoh (Bimantara Jakarta), Hastomo Arbi (Djarum Kudus). Sesekali mereka merepotkan pemain China, bahkan Icuk sempat jadi juara dunia di Copenhagen 1983. Juga nantinya, Joko Supriyanto di kejuaraan dunia 1993. 

Langkah Try Sutrisno membuat Pelatnas Pratama – khusus pemain-pemain muda yang belum jadi seperti Alan Budi Kusuma, Hermawan Susanto, putrinya Susi Susanti, Sarwendah yang dipisahkan dari Pelatnas Utama, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Joko Supriyanto, Eddy Kurniawan dan pemain-pemain ganda seperti Kartono, Heryanto, Eddy Hartono. Dengan maksud, mereka khusus diprogramkan untuk Olimpiade Barcelona 1992. Pimpro Olimpiade, dipegang oleh teknokrat lulusan Springfileds AS, MF Siregar yang jelas pernah berhasil membina tim renang Indonesia berprestasi Asia di era 70-an, serta pelatih utama Rudy Hartono di tunggal, serta Indra Gunawan di ganda.

Masa Try Sutrisno memang masa paceklik juara, selain karena merajalelanya bulu tangkis China di dunia, juga lantaran Try lebih memusatkan pembinaan yunior menjelang Barcelona 1992. Mereka tidak hanya dilatih khusus, akan tetapi juga dikirim khusus ke berbagai turnamen dunia, dengan subsidi agar mereka matang bertanding. (Saya berkali-kali mengikuti, menonton Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, dan juga Hermawan Susanto, kalah melulu ditundukkan pemain-pemain China di berbagai turnamen dunia. Baik itu di All England, Swedish Open, Danish Open, Japan Open, Taipei Open, Malaysia Open, Indonesia Open saya hampir tak kebagian nonton mereka juara).

Di Piala Thomas dan Uber pun sama. Berkali-kali gigit jari, kalah lawan China, bahkan juga kalah lawan Malaysia. Di Piala Thomas misalnya, Indonesia yang juara delapan (8) kali turnamen beregu paling bergengsi di dunia, pada periode 1980-1992 terutama setelah masuknya China, hanya kebagian satu kali juga. Itupun tahun 1984. Sementara di kandang sendiri, Piala Thomas dan Uber April-Mei 1986 di kepengurusan baru Try Sutrisno, justru China berpesta dengan “mengawinkan” Piala Thomas dan Uber justru di depan mata publik Indonesia, yang dulu disebut sebagai “kandang singa”nya bulu tangkis dunia!

Di Piala Thomas, dari rentang waktu 1980 sampai era Olimpiade Barcelona 1992, China merebut empat (4) kali gelar juara, hanya keseling Indonesia (1987) serta Malaysia (1992). Di Piala Uber? China hampir selalu juara selain tahun 1984 Jepang. Lima kali berturut-turut setelah itu, sampai era Olimpiade Barcelona 1992, China melulu juaranya.

Apalagi di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 1987 di Beijing, Indonesia jelas nggak kebagian juara. Di Beijing 1987 China melakukan Sapu bersih! Gelar juara dunia habis ludes dimakan China Semua. Dari tunggal putra, Yang Yang. Tunggal putri, Han Aiping. Di ganda putri Lin Ying dan Guan Weizhen. Ganda putra, Li Yongbo dan Tian Bingyi. Sedangkan di Campuran, Wang Pengren dan Shi Fangjing. Edyan tenaan....

Indonesia baru kebagian bersinar setelah Olimpiade Barcelona 1992. Para mantan pelatnas Pratama di zaman Try Sutrisno, mulai “meraja lela”. Tidak hanya Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti yang memboyong gelar tunggal putra dan putri Olimpiade Barcelona 1992. Akan tetapi juga di Kejuaraan Dunia Birmingham 1993, tiga gelar diraih Indonesia melalui Joko Supriyanto (tunggal putra), Susi Susanti (tunggal putri) dan Ricky Subagja/Rudy Gunawan di ganda putra. Saat jagoan China Yang Yang, Zhao Jianhua serta Li Lingwei, Han Aiping mulai surut kejayaan mereka.

Di All England, Ardy B Wiranata sempat menyeruak di tengah dominasi China ketika ia juara turnamen di Wembley London itu tahun 1991, serta Heryanto Arbi 1993. Selebihnya, China, China dan China melulu. Dan yang mengimbangi mereka justru Denmark, Morten Frost Hansen di putra, serta di putri Kirsten Larsen (1987) dan bahkan pemain Korsel, Kim Jun Ja (1986).

Indonesia mulai bangkit melalui Alan Budi Kusuma, Ardy B Wiranata, juga Heryanto Arbi. Di bagian putrinya, setelah lengsernya juara dunia Verawaty Fajrin serta Ivana Lie, muncul Susi Susanti, Sarwendah dan generasi pemain pelatnas Pratama yang digarap MF Sireger, Rudy Hartono, Liang Chiushia (yang dinaturalisasi jadi WNI pada era Try Sutrisno) serta tentunya pelatih fisik Tahir Djide, Atik Jauhary.

Indonesia memang selalu butuh semacam pelatnas Pratama, pelatnas pemain-pemain lapis kedua seperti era Try Sutrisno di akhir 1980-an dan awal 1990-an. Agar pemain lapis kedua bisa tampil berprestasi menggantikan senior-seniornya. Seperti Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma yang menjadi atlet Indonesia pertama yang mampu tampil sebagai juara di arena bergengsi lima tahunan, Olimpiade.

***

JIMMY S HARIANTO (Jakarta, 15/07/202)

Keterangan foto:

Saya diapit Liem Swie King (kanan) dan Eddy Hartono (kiri) di Badaling, Tembok China. Keduanya merupakan salah satu pasangan dunia yang ditakuti oleh pemain China. Namun di Kejuaraan Dunia 1987 Beijing, mereka itu “diceraikan” demi mengamankan peringkat agar bisa bebas dimainkan demi strategi Piala Thomas, agar bisa main di ganda pertama maupun ganda kedua, sesuai kebutuhan lawan yang dihadapi.