Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan: “Saya Percaya Shin Tae-Yong, Tak Ada Lagi Pemain Titipan”

Mochamad Iriawan punya kesempatan untuk membawa sepakbola Indonesia bersih, profesional, dan maju berprestasi.

Kamis, 29 April 2021 | 10:41 WIB
0
19
Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan: “Saya Percaya Shin Tae-Yong, Tak Ada Lagi Pemain Titipan”
Saya dan Mochamad Iriawan (Foto: dok. Pribadi)

Baru sekali ini seorang polisi, dalam sejarah panjang sepakbola Indonesia, dapat menjadi Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Adalah Mochamad Iriawan, purnawirawan perwira tinggi kepolisian dengan pangkat bintang tiga, terpilih sebagai Ketua Umum PSSI 2019 - 2023 dalam Kongres Luar Biasa PSSI yang berlangsung di Jakarta pada 2 November 2019 lalu.

Sebelum menjadi Ketua Umum PSSI ayah lima orang anak ini mengabdikan dirinya kepada negara selama lebih dari 36 tahun, usai lulus dari Akademi Kepolisian tahun 1984 sampai purna bhakti pada tahun 2020 lalu sebagai Sekretaris Utama Lembaga Pertahanan Nasional (Sestama Lemhanas) dengan pangkat Komisaris Jenderal Polisi.

Sebagai polisi Mochamad Iriawan lama berdinas di Satuan Reserse. Kariernya di kepolisian terbilang cemerlang. Tiga kali menjadi kepala kepolisian daerah, yaitu Kapolda NTB, Kapolda Jawa Barat, dan Kapolda Metro Jaya. Ia juga pernah menjadi Asisten Operasi Kapolri. Dan sembari menjadi Sestama Lemhanas ia dipercaya Presiden Jokowi sebagai Pejabat Gubernur Jawa Barat.

“Saya akan fokus membenahi PSSI agar sepakbola Indonesia bersih, profesional, dan maju berprestasi. Sudah banyak yang saya dapatkan dari negara selama menjadi polisi. Sekarang saatnya saya mengembalikannya dengan melakukan yang terbaik untuk negara melalui sepakbola,” ungkap Mochamad Iriawan usai berbuka puasa bersama pengamat sepakbola dari SOS (Save Our Soccer), Akmal Marhali dan Llano Mahardika, di rumahnya pada Rabu (28/4) malam.

Berikut petikan wawancara eksklusif dengan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan sembari makan somay dan pempek kesukaannya tentang Piala Menpora 2021, Pelatih Timnas Shin Tae-Yong, dan masa depan sepakbola Indonesia:

Tanya (T): Bagaimana ceritanya Anda suka sepakbola?

Jawab (J): Saya dulu pemain sepakbola dan kepingin sekali jadi pemain sepakbola profesional. Sampai satu saat, menjelang lulus SMA, ayah saya tanya mau serius main bola atau masuk Akpol (Akademi Kepolisian) jadi polisi. Akhirnya saya pilih jadi polisi tapi tetap suka sepakbola.

T: Setelah lebih 36 tahun jadi polisi, dengan latar belakang reserse, kini Anda dipercaya memimpin PSSI, dipercaya mengelola olahraga nomor satu yang paling disukai rakyat Indonesia....

J: Saya terpilih jadi Ketua Umum PSSI dengan meraih 82 suara. Saya menerima tugas untuk membenahi sepakbola kita ini agar bersih, profesional, dan maju berprestasi. Sudah terlalu banyak yang saya dapat dari negara selama saya jadi polisi, pangkat bintang tiga dan tiga kali jadi kapolda, bahkan saya dipercaya Presiden Jokowi untuk melaksanakan tugas sebagai Pejabat Gubernur Jawa Barat. Sekarang saatnya saya mengembalikan itu semua dengan melakukan yang terbaik untuk kemajuan sepakbola kita.

T: Anda tahu, kan, mengurus sepakbola kita sangat rumit dan banyak tangan-tangan yang tak terlihat yang mengatur sepakbola kita....

J: Saya tahu itu. Saya tahu tidak mudah membereskan begitu banyak masalah yang ada di sepakbola kita. Ketika terpilih sebagai Ketua Umum PSSI saya katakan kepada seluruh pengurus, terutama anggota Exco (Executive Committe) PSSI, untuk menuliskan lembaran putih dengan tinta emas. Bukan dengan tinta warna lain. Saya ingin PSSI menjadi organisasi yang bersih, profesional, dan maju berprestasi. Saya tahu ini sulit - beda dengan di kepolisian yang sesuai garis komando sementara di PSSI tidak bisa begitu - tapi saya akan melakukannya untuk memajukan sepakbola kita.

T: Apa yang akan Anda lakukan?

J: Saya akan berusaha mengelola sepakbola kita sebaik-baiknya. Saya yakin bahwa sepakbola itu akan mempersatukan kita sebagai sebuah bangsa. Dan ini menjadi tanggungjawab kita bersama. Saya akan merangkul seluruh pemangku kepentingan. Termasuk kementerian-kementerian dan lembaga-lembaga negara. Dulu masyarakat menilai PSSI itu arogan dan seperti berseberangan dengan pemerintah, merasa diri paling benar dengan mengatasnamakan FIFA, terutama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Tapi saya sekarang justru merangkul Menpora mengajak bersama-sama memajukan sepakbola kita. Melalui pelaksanaan turnamen Piala Menpora 2021, sebagai ajang pemanasan menjelang kompetisi Liga 1, PSSI justru mendapatkan dukungan dan fasilitas dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.

T: Selain itu?

J: Saya akan mengajak kementerian-kementerian dan lembaga-lembaga negara lainnya bersama PSSI membangun sepakbola Indonesia. Saya sudah sampaikan kepada Menteri BUMN. Saya sudah bertemu juga dengan Panglima TNI, Kapolri, KSAD, KSAU, dan KSAL. Saya akan ajak pula para pelaku usaha. Bahkan saya mendengar aspirasi dari generasi milineal dengan berdiskusi bersama Mas Kaesang yang kini mengelola Persis Solo selama tiga jam tentang sepakbola kita. Saya juga akan memperkuat kerja sama dengan Kepolisian RI dan Satgas Mafia Bola menjelang pelaksanaan kompetisi Liga 1. Singkatnya, saya akan merangkul dan bekerja sama dengan semua pihak yang memiliki keinginan untuk memajukan sepakbola Indonesia.

T: Apa penilaian Anda dengan penyelenggaraan Piala Menpora 2021 yang dapat dikatakan sukses di tengah pandemi.

J: Piala Menpora 2021 itu adalah hasil curhat (curahan hati) saya kepada pemerintah. Saya laporkan kepada pemerintah (Presiden Jokowi) bahwa sepakbola harus bergulir di tengah pandemi dengan melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. Karena banyak pemain yang hampir putus asa karena tak ada kompetisi. Mereka banyak yang main tarkam (tarikan kampung istilah untuk para pemain profesional yang disewa bermain untuk satu klub kampung dengan bayaran uang atau kambing). Ada yang mau jualan bakso. Ini sangat menyedihkan. Dan saya bersyukur Menpora bisa mewujudkan ini sebelum kompetisi Liga 1 bergulir pada awal bulan Juli 2021 mendatang.

T: Anda puas dengan Piala Menpora 2021?

J: Saya puas karena Piala Menpora 2021 dapat berlangsung dengan menerapkan dan melaksanakan protokol kesehatan di tengah pandemi. Melakukan Swab Test kepada undangan terbatas yang hadir di dalam stadion, termasuk Menteri-menteri dan Kapolri yang hadir pada saat final. Saya berterima kasih kepada para suporter yang mendukung Piala Menpora 2021 dengan menonton di rumah melalui televisi. Terbukti bahwa para suporter mencintai klubnya dan para pemain walau hanya menyaksikan dari layar kaca. Saat ini PSSI sedang mengkaji kemungkinan menggelar pertandingan dengan 1000 penonton dengan melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. Kalau itu (1000 penonton) berhasil akan kami kaji lagi untuk kemungkinan dengan jumlah penonton yang lebih banyak dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat di tengah pandemi ini. Tapi pertandingan dengan penonton itu masih dalam kajian belum merupakan sebuah keputusan resmi PSSI yang tentu saja harus melibatkan banyak pihak dalam pelaksanaannya.

T: Bagaimana dengan kualitas permainan klub-klub yang tampil di Piala Menpora 2021?

J: Harus diakui karena pandemi ini dan vakum lebih dari setahun tidak bermain di kompetisi membuat stamina dan fisik para pemain anjlok. Para pemain yang terlihat bugar adalah para pemain muda yang masuk tim nasional yang ditangani Pelatih Shin Tae-Yong dan mengikuti pelatnas di Kroasia.

T: Anda begitu percaya Pelatih Shin Tae-Yong?

J: Saya percaya Shin Tae-Yong! Saya percaya dia. Shin Tae-Yong adalah pelatih kelas dunia. Dia pelatih tim nasional Korea Selatan di Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia. Saya percaya tim nasional kita akan maju di tangannya. Saya lihat dia punya program yang bagus dengan memprioritaskan fisik dan stamina para pemain, disiplin, dan tegas. Program fisik yang dia terapkan sungguh berat. Banyak para pemain yang muntah-muntah. Dia tahu bahwa para pemain masih memiliki kekuatan di atas batas kemampuan terbaiknya. Shin Tae-Yong ingin para pemain kita bisa bermain bola dengan nafas yang panjang selama 2 x 60 menit. Dia tak mau kompromi soal fisik. Dia memilih para pemain tim nasional dengan tinggi di atas 170 centimeter, bahkan dia akan merekrut pemain belakang dengan tinggi 196 centimeter. Saat ini kiper tim nasional kita tingginya 183 centimeter. Sepakbola modern memang membutuhkan para pemain yang harus kuat fisiknya karena di lapangan akan sering terjadi body charge dan benturan fisik secara langsung. Saya percaya Shin Tae-Yong untuk menangani tim nasional sepakbola Indonesia.

T: Bagaimana dengan para pemain titipan di tim nasional?

J: Sekarang tidak ada lagi para pemain titipan di tim nasional Indonesia. Semua pemain adalah pilihan Shin Tae-Yong. Ada yang coba-coba mendekati saya untuk menitipkan pemain masuk tim nasional. Saya bilang silakan saja bicara langsung ke Shin Tae-Yong. Dan saya tahu Shin Tae-Yong tak akan mau menerima pemain titipan. Dia memilih para pemain tim nasional Indonesia dengan kriteria tinggi yang dia miliki sebagai pelatih kelas dunia.

Tanpa terasa wawancara dengan Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan berlangsung hampir selama tiga jam saat melihat jam di dinding di ruang tamu halaman belakang rumahnya menuju angka jam 12 malam.

Mochamad Iriawan punya kesempatan untuk membawa sepakbola Indonesia bersih, profesional, dan maju berprestasi.

Yang jelas, sudah tigapuluh tahun ini tim nasional Indonesia tidak punya prestasi yang membanggakan lagi setelah merebut Medali Emas Sepakbola SEA Games di Manila, Filipina, tahun 1991. Bahkan Indonesia belum pernah sekalipun meraih gelar juara di level kawasan paling rendah, Piala AFF, untuk negara-negara Asia Tenggara.

Yang tampak jelas justru kisruh di sepakbola kita. Seperti saling tikam dan kudeta untuk posisi Ketua Umum PSSI, pengelolaan klub yang masih jauh dari profesional, rusuh suporter, dan yang paling memuakkan dan memalukan: pengaturan skor dan pengaturan klub mana yang harus jadi juara oleh bandar judi.

Mampukah Mochamad Iriawan sebagai Ketua Umum PSSI, yang selama ini dikenal sebagai polisi dengan rekam jejak penuh prestasi, mereformasi PSSI dan membawa sepakbola Indonesia maju berprestasi setelah tak pernah berprestasi selama tiga puluh tahun ini?

Kita tunggu saja. (*)

Akmal Marhali LLano Mahardika