Eyang Doktor Kena COVID

COVID-19 tidak pilih-pilih mau menyerang siapa, dan kalau kena, ambyar. Mungkin kita kena hanya gejala ringan seperti Eyang Doktor Rossi, atau tanpa gejala.

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 08:45 WIB
0
36
Eyang Doktor Kena COVID
Valentino Rossi (Foto: skor.id)

Sekitar jam 02.30 pagi ini, saya masih rebahan di tempat favorit saya: balkon depan kamar. Saya baru bangun, sebelumnya tidur dari jam 22.30. Iseng-iseng lihat story WhatsApp seorang kawan, rasanya kaget sekali.

Dalam story tersebut isinya foto yang menerangkan bahwa Eyang Doktor Valentino Rossi tidak akan ikut balapan GP Aragon akhir pekan ini, dan mungkin juga balapan GP Teruel yang diselenggarakan di sirkuit yang sama minggu depan. Bukan karena cedera parah. Bukan juga karena mendadak menuruti saran sebagian khalayak untuk pensiun. Sebabnya sepele: barang mikro setengah hidup bernama SARS-CoV-2.

Saya segera melek dan buka portal-portal berita balapan. Bukan mau mempertanyakan valid atau tidaknya, karena foto yang di story WA kawan saya ini secara cepat dapat saya anggap valid. Saya lebih ingin mencari detail kejadiannya.

Seperti dilansir Crash, tanggal 11 Oktober setelah GP Perancis, Eyang Doktor pulang ke rumahnya di Tavullia, Italia. Eyang Doktor kemudian menjalani tes PCR rutin pada tanggal 13 Oktober, dan hasilnya negatif. Besoknya juga Il Dottore masih beraktivitas di rumah seperti biasa, berlatih untuk balapan, tanpa mengalami gejala apapun.

Ndilalah Kamis pagi waktu setempat, tanggal 15 Oktober, Eyang Doktor bangun dan 'pating nggreges'. Badannya ngilu-ngilu terutama di tulang, dan juga ada demam. Eyang Doktor segera panggil dokter, dan menjalani dua tes PCR: PCR kilat dan PCR standar. Tes PCR kilat hasilnya keluar, negatif, namun hasil tes PCR standar ternyata positif. 

Satu hal yang melegakan, Eyang Doktor selama tanggal 11-15 Oktober tidak berkontak erat dengan anggota tim Yamaha, anggota Akademi Pembalap VR46, staf perusahaan VR46, atau orang-orang lain yang saat ini sudah berada di sirkuit Motorland Aragon. Artinya, murid-murid Eyang Doktor seperti Pecco Bagnaia dan Franco Morbidelli masih bisa balapan, teknisi-teknisi yang biasanya bekerja dengan Eyang Doktor, atau pegawai bisnis VR46 yang sudah di trek, tidak perlu di-tracing dan dites ulang. 

Pertanyaannya, Eyang ketularan dari mana? Memang baru-baru ini ada enam teknisi Yamaha yang positif COVID-19 dan harus dikarantina, namun mereka tidak pernah berkontak dengan Eyang Doktor. Jadi kemungkinan terbesar, Eyang ketularan saat melakukan perjalanan pulang ke rumah, atau dari orang rumah seperti ibunya, Stefania, atau pacarnya, si cantik Francesca Sofia Novello.

Kemungkinan juga secara tidak sengaja Eyang terpapar virus dari lingkungan paddock, mengingat akhir-akhir ini banyak kasus positif di kalangan teknisi dan pembalap di kelas rendah, salah satunya Jorge Martin (Red Bull KTM Ajo Moto2). 

Apes, jelas. Habis jatuh tiga kali berturut-turut, dan kena COVID-19 ini bisa bikin kehilangan dua balapan sekaligus. Hal ini karena balapan di Aragon berlangsung dua kali berturut-turut. Eyang Doktor infeksi bergejala ringan, setahu saya berdasarkan guideline WHO harus isolasi minimal 10 hari + 3 hari bebas gejala, tidak cukup waktunya.

Meski nantinya gejala Eyang hilang dan hasil PCR negatif (orang kayak Eyang Doktor sih, tiap hari PCR juga bisa), tetap saja ada minimal 10 hari isolasi, nggak bisa ditawar. Alamat 5 balapan berturut-turut tanpa poin, dan berarti total 6 balapan tanpa poin. Eyang sudah kena masalah mesin di balapan pertama, dan dengan ini maka Eyang tidak akan mungkin bersaing jadi juara dunia MotoGP 2020.

Siapa yang bakal gantikan The Doctor? Yamaha belum umumkan, namun ada kemungkinan Jorge Lorenzo ikut balapan lagi. Yang ini meskipun paling tidak bakal terjadi di GP Teruel, saya ragu ini merupakan keputusan tepat, sebab meski posisinya sebagai test rider Yamaha, Lorenzo jarang sekali ikut sesi tes resmi, dan belum pernah bawa Yamaha M1 spek 2020. Bisa juga tidak ada pengganti, yang ini juga kecil kemungkinan terjadi karena apabila pembalap tetap berhalangan lebih dari 10 hari, maka harus dicarikan pengganti.

Namun, dari sini ada pelajaran yang bisa kita ambil. COVID-19 tidak pilih-pilih mau menyerang siapa, dan kalau kena, ambyar. Mungkin kita kena hanya gejala ringan seperti Eyang Doktor Rossi, atau tanpa gejala.

Namun, dengan kewajiban minimal 10 hari isolasi mandiri apabila kena COVID-19, akan banyak sekali agenda kita yang jadi ambyar. Oleh karenanya, mari kita tingkatkan kewaspadaan, selalu patuhi protokol kesehatan, jaga jarak di tempat umum, cuci tangan pakai sabun/hand sanitizer, dan SELALU PAKAI MASKER! 

***