Mengapa Harus Kecewa Menonton Film Hasil Adaptasi Novel?

Novel adalah novel dan film adalah film. Karya berbeda. Novel ditulis dalam kesendirian, film dibuat dalam kebersamaan.

Rabu, 16 September 2020 | 07:46 WIB
0
18
Mengapa Harus Kecewa Menonton Film Hasil Adaptasi Novel?
Seni mengubah wajah (Foto: art-critique.com)

Mengapa kita sering kecewa menonton film hasil adaptasi dari sebuah novel?

Pertanyaan ini juga berlaku buat saya, pelahap sejumlah novel yang jatuh kecewa sedalam-dalamnya saat menonton film layar lebar hasil tafsir penulis skenario atas sebuah novel yang ditulis novelis. Tidak semua sih, ada beberapa yang suka, bahkan saya nilai lebih "seru" dari novelnya.

Saya sadar, tidak seharusnya pula saya menyalahkan penulis skenario, sebab film adalah hasil karya bersama antara penulis novel, penulis skenario, sutradara sampai kepada artis pemeran sosok yang menjadi karakter novel itu.

Tetap saja pertanyaan yang menggantung di benak, mengapa saya kecewa usai menonton film yang diadaptasi dari novel?

Saya membaca buku Frankenstein or The Modern Prometheus karya Mary Shelly dengan saksama. Mengagumkan. Kekaguman saya terhadap novelis berkebangsaan Inggris ini bertambah selain karena novel di mana kata "Frankenstein" sudah menjadi milik dunia itu, Shelley menulis novel itu saat berusia 18 tahun, masih milenial alias ABG!

Tetapi apa yang terjadi saat saya menonton sejumlah Film Frankenstein hasil adaptasi novel Shelley itu? Kecewa. Kecewa berat, bahkan. Saya tidak tahu apakah karena tuntutan pasar hampir semua film Frankenstein terjerembab pada gambaran ecek-ecek mengenai mistisisme, makhluk ghaib, jauh dari apa yang digambarkan Shelley dalam novelnya.

Bayangkan saja, publik atau masyarakat umum pun memberi stigma seolah olah "Frankenstein" itu adalah mahhluk si buruk rupa yang bengisnya luar biasa. Please deh.... salah besar itu, Bro.

Victor Frankenstein adalah periset muda yang terobsesi buku kuno yang dibacanya, bahwa manusia bisa diciptakan oleh manusia itu sendiri. Cukup dari "onderdil bekas" orang mati yang dialiri listrik, jadilah dia manusia.

Baca Juga: Mengenang Frankenstein Saat Mendayung Perahu di Danau Bang Abak

Kalau kamu suka filsafat atau bahkan ilmu agama, kamu akan dihadapkan pada apa yang disebut "proses penciptaan" ala Shelley yang pasti bertabrakan dengan proses penciptaan manusia menurut agama yang kamu anut.

Padahal yang terjadi, "makhluk menyeramkan" yang berhasil diciptakan oleh Frankenstein itu sesungguhnya belum bernama dan Victor memang belum sempat memberinya nama. Ia keburu benci kepada dirinya sendiri, pada apa yang diciptakannya sendiri. Ini model kegundahan para periset.
Kemudian, apa yang digambarkan sekaligus tergambar di benak publik? Frankenstein itulah yang justru si makhluk menyeramkan itu!

Kalau kamu membaca tuntas buku Shelley, niscaya kamu akan jatuh cinta kepada makhluk buruk berwajah menyeramkan, sebab dia mempunyai sifat lemah-lembut, welas asih dan penyayang, yang ajaibnya; tidak ada yang mengajarinya peradaban semacam itu, bahkan penciptanya sendiri.

Sebaliknya, kamu akan geram dengan sifat egois Victor Frankenstein yang tidak mau berempati hanya karena pikirannya terkuasai persepsinya sendiri bahwa satu makhluk buruk itu saja sudah menjadi mesin pembunuh, apalagi kalau dia menciptakan lagi pasangan hidup bagi si mahluk buruk (sebagaimana yang dituntutnya) kemudian beranak-pinak. Maka, dunia dalam sekejap akan dikuasai para makhluk buruk yang memiliki kekuatan fisik berpuluh-puluh kali lipat kekuatan manusia biasa.

Karena egois, mengabaikan permintaan si makhluk setengah jadi hasil ciptaannya agar ia menciptakan makhluk serupa berjenis kelamin perempuan, akhirnya satu-persatu orang dekat Victor menjadi sasaran kemarahannya.

Satu persatu orang tercinta Victor mati terbunuh secara mengenaskan. Tinggalah si makhluk itu berburu penciptanya sampai ke ujung dunia yang paling sepi; Kutub Utara.

Tuntutannya, meminta Frankenstein menciptakan satu makhluk buruk lagi sebagai pasangannya. Apakah Frankenstein menyerah dan meluluskan permintaan si makhluk ciptaannya? Cerita digantung sampai di situ, the hanging story.

Nah, semua gambaran di kepala hasil membaca buku Shelley itu tidak saya temukan di film-film Frankenstein yang saya tonton. Kecewa berat. Mungkin kamu juga akan mengalami hal serupa setelah menonton "Sang Penari" atau "Bumi Manusia" di mana kamu telah membaca novel sebelumnya.

Ian McEwan (Foto: Star Tribune)

Saya membayangkan, betapa kecewa Mary Shelley (lahir 30 Agustus 1797, meninggal 1 Februari 1851) kalau menonton semua film Frankenstein hasil adaptasi dari novel yang ditulisnya itu. Tetapi beruntung saya mengetahui novelis/penulis Ian McEwan yang mengatakan, "Skenario adalah resep, tetapi bukan makanan itu sendiri".

Mungkin Shelley akan senang jika saja sempat mengetahui pendapat McEwan atas film-film Frankenstein yang tentu saja tidak akan pernah ditontonnya itu karena berbeda waktu (zaman). Senang karena ada pelipur lara.

Menurut McEwan, novel adalah hal yang sudah selesai, benar-benar berdiri sendiri dan novelis adalah satu-satunya "aktor" pembuatnya. Kalau ada seorang editor membuat catatan atau ada kata pengantar dari pihak lain, itu biasa, tetapi secara keseluruhan novel yang ditulis ya milik novelis itu sendiri.

"Saya menganggap skenario lebih seperti resep, tetapi bukan makanannya sendiri. Saya tidak merasa frustasi karena saya memiliki kehidupan lain sebagai novelis dan saya telah menghabiskan banyak waktu sendirian bermain sebagai Tuhan (baca: pencipta/penulis novel), dan sebenarnya menulis skenario adalah kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang lain yang cukup menyegarkan," kata McEwan.

Baca Juga: "Bumi Manusia" Panggung untuk Nyai Ontosoroh

Sungguh menentramkan ucapan McEwan ini. Sebagai novelis dari 11 novel lan tujuh novel adaptasi/saduran, ia paham betul bahwa penulis skenario bukanlah dirinya sebagai novelis. Ia adalah orang lain yang berhak menafsirkan apapun yang ditulisnya.

Di atas penulis skenario ada sutradara yang mengarahkan cerita, pun ada sejumlah aktor/aktris yang memerankan tokoh-tokoh yang tersebut dalam novel, bahkan ada produser yang memberi bumbu-bumbu penyedap rasa.

Novel adalah novel dan film adalah film. Karya berbeda. Novel ditulis dalam kesendirian, film dibuat dalam kebersamaan.

Jadi apa yang harus disesalkan?

***