Tilik, Di Antara Budaya "Ngganyik" dan "Nggedabrus"

Inilah film yang "sangat modern", walau pun bingkainya sangat tradisional. Tak ada lakon, tak ada hero di dalamnya. Semua kalah, semua tersungkur.

Selasa, 25 Agustus 2020 | 08:37 WIB
0
68
Tilik, Di Antara Budaya "Ngganyik" dan "Nggedabrus"
Karakter Bu Tedjo di Film

Jogja itu salah satu kota yang akhir-akhir ini berhasil memproduksi banyak sekali film-film pendek berkualitas bagus. Seolah tak habis-habisnya, sutradara muda dilahirkan dari kota ini. Salah dua yang paling saya sukai adalah film berjudul "KTP" dan "Lemantun".

"KTP" memiliki kekuatan ide aktual yang luar biasa, tapi disajikan dengan sangat jenaka. Pembelaan kepada seorang sepuh yang dianggap tidak beragama, yang karenanya dianggap tidak sah sebagai warga negara. Sedangkan, "Lemantun" sebuah kronik keluarga karya sutradara masa depan Indonesia Wregas Bhanutedja.

Gagasan film ini typical keluarga lawas, seorang ibu yang rajin koleksi lemari menandai setiap anaknya lahir. Di senja usia si ibu, lemari-lemari tersebut dibagi ke setiap anakanya. Agar adil dengan cara diundi, Di akhir cerita, nasib masing-masing lemari menunjukkan karakter masing-masing anak. Dan, pesan terbaiknya adalah justru anak yang dianggap paling kurang beruntung dialah justru yang paling bisa menghargai sejarah.

Dalam kedua film ini, benang merahnya sama. Kultur atau lebih tepatnya gaya bicara (bahasa verbal), yang dalam kultur Jogja disebut ngganyik dan nggedabrus. Jelas tak ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Ngganyik adalah cara bicara yang seolah tanpa putus, rumangsa benere dewe (merasa paling benar), dengan bibir atau moncong mulut yang mucu-mucu. "Lumrahe wong ra lumrah". Sesuatu yang dianggap biasa tapi sebenarnya tidak biasa.

Sedang nggedabrus adalah gaya bicara omong kosong, yang kadang tanpa dasar dan hanya sekedar ingin didengar. Ngganyik dan nggedabrus itu karakter yang sangat seksis. Walau bisa ditumpukan pada baik laki-laki maupun perempuan. Tapi ngganyik lebih dekat ke sifat-sifat perempuan dengan ritme bicara yang lebih cepat seolah lawan bicara tak diberi kesempatan menyela.

Sedang nggedabrus lebih cocok untuk bapak-bapak atau sinoman lanang dengan irama lebih lambat penuh tekanan yang seolah meyakin-yakinkan. Tapi keduanya berujung sama: isine mung ngapusi, atau isinya melulu boong. Apa yang hari ini disebut sebagai hoaks.

Dalam semangat yang sama, dan saya pikir lebih tendensius inilah kemudian lahir sebuah film pendek lain berjudul TILIK. Judul ini sangat bagus, karena bermakna banyak. Sesuai dengan alur ceritanya, tilik berarti menjenguk. Kebetulan yang ingin dijenguk adalah Bu Lurah yang mendadak sakit. Sedemikian mendadaknya, sehingga mereka gupuh, tergesa-gesa rela naik truk, dan bukan bis. Truk seadanya, yang digambarkan sempat mogok dan karenanya sempat ditilang di jalanan!

Di segmen ini, kelihatan sekali "power of emak-emak" yang berhasil memberangus polisi yang tak berdaya melawan kebawelan ibu-ibu, yang selalu merasa benar walau nyata-nyata salah. Polisi yang digambarkan justru pada situasi dilematis antara menegakkan hukum dan menghormati HAM. Membuktikan disini bahwa HAM adalah tempat bersembunyi paling aman dan nyaman untuk setiap pelanggaran hukum.

Tilik kedua, lebih bernilai filosofis. Berusaha menilik ulang, melihat lagi wajah masyarakat hari ini. Masyarakat yang babak bundhas, karena larut dalam kacau balau gerak zaman yang tak sepenuhnya mereka pahami.

Sebuah ironi, karena walau mereka sudah "berpakaian seragam", berkerudung yang menyiratkan apa yang dianggap secara salah sebagai hijrah, dapat hidayah, kaffah, syariah, bla bla bla. Tapi sesungguhya tak mengubah apa-apa dari sifat dasar mereka sebagai manusia apalagi komunitas. Ini adalah sebuah ejekan yang saya pikir sangat satir dan ironik bahwa apa yang disebut sebagai perubahan itu ya sesungguhnya tak lebih sebuah mode. Dan di sini berpakaian adalah bagian dari mode itu!

Tak lebih. Mereka tetap saja hobi ngrasani liyan yang dalam bahasa yang dianggap keren hari ini disebut ghibbah. Ngrasani sebagai bagian menjaga eksistensi, meluaskan pengaruh, terlepas ada atau tidak manfaatnya. Apalagi jauh apabila harus diletakkan pada titik benar salahnya. Tidak penting betul....

Bagi saya, dibanding kedua film di atas. Sejujurnya saya sangat tidak suka! Plot yang sejak awal dibangun secara menarik, tapi di ujung cerita seolah terasa tidak adil dan sangat selfish. Tokoh Dian, yang di sepanjang film dikontroversikan, diperdebatkan baik buruknya. Tiba-tiba masuk ke dalam mobil, menemui seorang laki-laki yang lebih pantas sebagai bapaknya. Dan publik dengan mudah akan menjudge dirinya sebagai pelakor.

Bagian yang tidak fair-nya, ia adalah perempuan yang "tidak berkerudung". Sebuah negasi yang saya pikr sangat keji: seolah semua yang di luar yang sok agamis itu sudah pasti jelek dan buruk. Sedih saya dengan pilihan si penulis naskah. Kalau si sutradara, siapa pun dia saya pikir tinggal mengeksusinya barangkali....

Saya tentu tidak tahu, bagaimana alur berpikir Tim Pembuat Film ini. Sebuah film yang didanai Pemprov DIY, yang akhir-akhir ini tampak kaya sekali dengan Danais yang seolah mengular sampai menyentuh hal remeh temeh seperti ini. Saya hanya ingin berpendapat bahwa fatalistik itu nyata. Kekacauan itu memang holistik. Apa yang dituduhkan, itu bukan isapan jempol.

Hoaks itu nyata, karena ia diharapkan menjadi benar adanya. Sulit untuk menganggap film ini bertujuan melawan terhadap berita palsu. Karena film ini secara tidak langsung, justru meneguhkan bahwa hoaks adalah satu langkah sebelum kenyataan tersebut terwujud benar adanya. Film yang terasa berat, seolah kita akan terhibur. Padahal justru menggiring kita untuk tidak happy, dan memerintah kita harus menilik lagi, pulang kepada nurani diri kita masing-masing.

Inilah film yang "sangat modern", walau pun bingkainya sangat tradisional. Tak ada lakon, tak ada hero di dalamnya. Semua kalah, semua tersungkur. Ia adalah produk kultur nggayik dan nggedabrus itu. Semua adalah omong kosong, sekosong jiwa-jiwa yang setiap hari berbicara kebaikan dan sebaiknya itu. Tak ada keluhuran, tak ada kebenaran. Semua adalah tong kosong, hanya tampak nyaring saja bunyinya....

Oh ya, ngomong-omong siapa lelaki yang ditemui Dian? Misterius, dan tak jelas! Saya sih berharap itu suaminya Bu Tedjo....

***
.