Rumitnya Kambing

Saya dan teman-teman muda yang kini tengah mengembangkan KAMPUNG ILMU di Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat, sangat tertarik dengan upaya yang tengah dikembangkan ini.

Senin, 25 April 2022 | 06:01 WIB
0
100
Rumitnya Kambing
Kandang kambing (Foto: Dok. pribadi)

Saya tak menyangka berternak kambing ternyata sama sekali tak sederhana. Entah berapa peternak saya kunjungi. Entah berapa praktisi dan ahli saya dengarkan obrolannya. Sampai sekarang, tak juga saya merasa pasti mana cara terbaik berternak--dari membuat pakan kambing tepat guna, meramu nutrisi pas, dan menjamin kesehatan ternak yang saya ikut bidani dan pelihara.

Belum lagi bicara bibit dan jenis kambing yang dianggap unggulan. Begitu banyak jenis yang harus dipelajari. Ada kambing Saanen, Etawa, Peranakan Etawa, Boer, Kosta, Jawa Randu, Kacang dan entah apa lagi. Yang tak kalah penting diperhatikan juga "status keturunan"-nya. Ada yang namanya fullblood, F1, F2 dan sampai yang tak jelas silsilahkan. Semua menentukan kualitas dan juga harga.

Dari hasil mengembara mendengarkan banyak orang dan praktik kecil-kecilan, saya mulai paham bahwa kalau mau mendapat keuntungan dalam berternak kambing harus paham teknologi pakan-- dari sumber bahan pakan, memahami kandungan nutrisi, hingga tahu teknik pengolahanya (seperti sekedar menyediakan pakan hijauan biasa yang tepat, mencacah pakan, mencampur beragam tumbuh-tumbuhan hingga membuat silase dan fermentasi agar pakan dapat bertahan lama).

Yang paling sulit adalah menjaga kualitas dan kesehatan kambing. Urusan detail sejak kambing dikawinkan harus dikuasai--dari mencermati siapa dan jenis apa pejantannya, bagaimana menjaga kesehatan saat bunting, mengawasi saat beranak, memberi kolostrum saat cempe baru lahir, hingga menjaga kebersihan kandang secara rutin.

Semua harus memahami, tahu cara melaksanakannya dan penuh kasih sayang pada ternak yang dipeliharanya. Sekali lagi harus paham secara detail dan kongkrit! Tak bisa hanya berteori tapi harus dipraktikkan dengan tekun dan "keras kepala".

Rakyat Indonesia di tingkat bawah bisa meningkat kesejahteraannya bila peternakan dikembangkan serius. Namun saya jadi terbayang. Siapa yang harus melakukan edukasi semua ini pada masyarakat secara luas bila peternakan desa harus dikembangkan? Bagaimana para peternak yang belum paham mendapat contoh langsung cara berternak yang baik dan benar?

Seorang peternak di desa pernah bicara pada saya begini: "Intinya, jangan kuliahi kami, tapi kalau mau bantu beri contoh saja langsung di tempat, dan tunjuki caranya mengatasi masalah-masalah yang kami hadapi sehari-hari. Dampingi kami bagaimana berternak yang menguntungkan, yang dapat menjadikan sumber kehidupan sehari hari agar dapur bisa ngebul, bayaran sekolah anak bisa lancar".

Nah, itu dia. Dalam rangka mencari tahu cara terbaik dalam berternak kambing, baru baru ini saya berjumpa dengan dua praktisi yang nampaknya cukup berpengalaman. Pertama, namanya Pak Iyos yang memiliki Pesona Satwa Farm Bandung di Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jabar

Kedua, Pak Didiek yang kini menekuni peternakan kambing di Dusun Kemiri Kebo, Desa Girikerto, Turi, Sleman, Yogyakarta.

Tentu di tanah air, banyak sekali jagon-jagoan ternak kambing lain yang tersebar di banyak tempat. Namun, saya tertarik dengan kedua praktisi ini karena Pak Iyos maupun Pak Didiek, sebenarnya tidak memiliki latar belakang ilmu peternakan. Pak Iyos adalah sarjana kimia ITB, sedang Pak Didik kalau tak salah sarjana FISIP-UI.

Saat saya temui kedua tokoh ini, jelas sekali mereka memiliki "passion" sangat tinggi. Keduanya bisa berjam-jam ngobrol soal kambing karena mereka memiliki jiwa mengajar. Sama sekali tak pelit berbagi ilmu soal perkambingan. Karena itu, di lokasi peternakannya ada fasilitas tempat pelatihan. Mereka rupanya tak hanya beternak untuk mencari keuntungan semata, namun juga ingin berbagi ilmu.

Saya dan teman-teman muda yang kini tengah mengembangkan KAMPUNG ILMU di Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat, sangat tertarik dengan upaya yang tengah dikembangkan ini. Saya dan teman teman bertekat, peternakan kambing harus menjadi salah satu menu pembelajaran di KAMPUNG ILMU di samping ilmu ilmu praktis lain. Bagi yang ingin tahu gagasan berdirinya KAMPUNG ILMU yang sedang kami rintis, bisa lihat link berikut.

Tentu, saat ini, KAMPUNG ILMU masih dalam tahap merayap. Namun siapa tahu, banyak orang seperti Pak Iyos dan Pak Didiek dapat mendampingi anak-anak muda yang kini sedang berjuang di KAMPUNG ILMU, mencoba merealisasikan mimpi menjadi kenyataan. Katanya para petinggi negeri, Indonesia harus mandiri. Ternyata tak mudah melaksanakan impian itu.

Imam B. Prasodjo