OLIMO, Olie Ramah Lingkungan Temuan Anak Bangsa

Minggu, 25 November 2018 | 18:17 WIB
0
1192
OLIMO, Olie Ramah Lingkungan Temuan Anak Bangsa
OLIMO, Olie ramah lingkungan temuan Faishal Ishaq, pengasuh sebuah pondok pesantren di Jombang. (Foto: Mochamad Toha).

Seorang pengasuh sebuah ponpes di Jombang telah menemukan pelumas kendaraan ramah lingkungan. Adalah Faishal Ishaq yang mulai melakukan riset untuk menerapkan teknologi tepat guna (TTG) dalam mengembangkan olie ramah lingkungan ini.

Menurut Faishal, olie disebut juga minyak pelumas adalah satu jenis minyak yang digunakan sebagai pelumas untuk 2 tujuan utama, sebagai pelumas atau pelicin untuk menjaga berbagai bagian mesin supaya terjaga tidak cepat terkikis.

“Yang kedua, minyak pelumas berfungsi untuk meredam panas yang dikeluarkan oleh mesin. Kedua manfaat dasar itu sangat diperlukan untuk menjaga kestabilan jalannya mesin dan juga menjaga keawetan mesin,” jelas Faishal kepada Pepnews.com.

Semakin banyak berkembang mesin dengan berbagai inovasi yang ada selama ini, maka akan semakin canggih teknologi permesinan yang berkembang, kebutuhan akan minyak pelumas yang dulunya sangat sederhana juga ikut terbawa menjadi semakin komplek.

“Dengan semakin canggihnya teknologi permesinan yang berkembang itu, sehingga harga minyak pelumas ikut berkembang menjadi semakin mahal dan semakin banyak variannya,” ungkap Faishal yang berlatar belakang pendidikan elektro ini.

Sejak 1990-an Faishal semakin peduli dengan berbagai teknologi dan semakin tak mudah percaya dengan berbagai perkembangan yang ada, ada indikasi bahwa teknologi semakin diarahkan untuk berbagai kepentingan pribadi, politik, dan monopoli, “sehingga semakin mempengaruhi perkembangan teknologi.”

Teknologi secara umum berkembang kearah yang lebih komplek dan jarang berkembang kearah yang lebih sederhana. “Mental kapitalis juga sangat mempengaruhi teknologi yang berkembang,” ungkap Faishal.

Ada banyak indikasi kalau sesuatu bisa diarahkan untuk menghasilkan keuntungan yang besar maka kesempatan itu pasti diambil walaupun hal itu akan merugikan banyak pihak. “Berbagai teori akan diambil untuk melindungi niat untuk memonopoli ataupun niat cari keuntungan sebanyak banyaknya,” lanjutnya.

Menurut Faishal, di sisi lain para birokrat kita sudah tercemar dengan mental korup, sehingga berkembang suatu mental dengan istilah “selama bisa dipersulit kenapa harus dipermudah”, mental ini adalah mental yang menyesatkan, mental yang merugikan banyak pihak.

Sekiranya kebanyakan manusia terbawa oleh mental seperti ini, maka ingatlah pasti akan muncul orang-orang yang mulia yang akan membalik mental tersebut, sehinga mereka mempunyai misi kebalikan dari misi mereka.

Mereka lebih suka membawa misi “selama bisa dipermudah kenapa harus dipersulit”. Jika mereka lebih fokus memperkaya diri sendiri, lebih fokus untuk semakin bisa menguasai segala sesuatu, “Maka orang-orang khusus itu lebih fokus cari pahala walaupun juga cari keuntungan yang wajar,” ujar Faishal yang kerap dipanggil Habieb ini.

Di saat kebanyakan orang berlomba-lomba untuk menang sendiri maka orang-orang khusus itu lebih asyik jika kehidupannya lebih bermanfaat untuk orang banyak. “Kira-kira bagitulah gambaran kehidupan manusia zaman sekarang,” lanjut Faishal.

Bermula dari hidup di lingkungan pesantren, ia kemudian aktif di dunia teknologi dengan kuliah di bidang elektronik. Setelah itu Faishal aktif di bidang pengobatan tradisional. “Maka semakin banyak kepincangan hidup yang saya temukan,” ujarnya.

Sebuah penyakit yang dalam pandangan pengobatan tradisional adalah penyakit ringan tetapi dalam pandangan kedokteran modern adalah penyakit berat yang sangat susah untuk diobati dan lebih banyak kesimpulan yang mengarah pada tidak mungkin untuk sembuh.

“Dalam menghadapi berbagai keruwetan seperti itu akhirnya saya selalu memandang sesuatu dengan pandangan sederhana dan lebih mengarah pada orientasi hasil di saat kebanyakan manusia lebih fokus pada orientasi proses,” ungap Faishal.

Olie yang dikembangkan Faishal adalah salah satu hasil teknologi tepat guna dengan dijiwai prinsip orientasi hasil bukan orientasi proses, orientasi sasaran bukan orientasi teori. “Pendek kata olie hasil kreasi kami yang penting bisa dirasakan sangat bagus pada mesin walaupun dianggap tidak sesuai standar yang umum beredar,” lanjutnya.

Pada pertengahan 2016 lalu, Faishal ke Aceh Timur untuk survei tambang minyak bumi. Ia melihat masyarakat Aceh banyak yang menyuling minyak bumi sendiri. Dan, secara umum mereka menyuling 4 drum minyak mentah dan jadinya 1 drum bensin, 1 drum minyak tanah, 1 drum solar, dan sisa 1 drum dijadikan limbah untuk bahan bakar.

“Padahal sekiranya penyulingan dilanjutkan maka mereka akan mendapatkan lebih banyak hasil yang salah satu hasil tambahannya adalah minyak pelumas alias olie,” ungkap Faishal.

Secara umum, harga minyak mentah di Aceh sekitar Rp 3.500,- /liter, dengan penyulingan sederhana dan dengan hasil bensin, minyak tanah, dan solar, mereka bisa menghasilkan masing-masing produk dengan biaya produksi tidak sampai Rp 4.500,- /liter.

“Sehingga mereka bisa memasarkan bensin, minyak tanah dan solar dengan harga tidak sampai Rp 5.000,- /liter,” lanjut Faishal.

Menurutnya, ini dengan catatan potensi hasil olie belum diambil, dan sekiranya olie tersebut diambil maka mereka tentunya juga bisa menjual olie ini dengan harga sekitar Rp 5.000,- /liter.

“Harga yang tampaknya sangat murah, apalagi secara umum harga minyak pelumas berkisar Rp 30.000,- hingga Rp 100.000,-/liter. Dan, saya bisa membua olie dengan harga yang sangat murah, jauh di bawah harga pasaran,” ungkap Faishal.

OLIMO Ramah Lingkungan

OLIMO adalah minyak pelumas yang dirancang untuk berbagai kebutuhan mesin. Olimo bisa digunakan untuk mesin berbahan bakar bensin ataupun solar, dan juga bisa digunakan untuk mesin kecil seperti pada sepeda motor ataupun untuk mesin besar.

“Seperti pada kendaraan roda empat atau lebih atau pada peralatan berat. Olimo juga bisa digunakan untuk kebutuhan pompa hidrolik. Olimo juga bisa digunakan untuk motor 2 tak untuk olie samping ataupun untuk dicampur dengan bensin,” jelas Faishal.

Secara mendasar, umumnya mesin memerlukan pelumas untuk melindungi berbagai bagian mesin yang bergesekan dengan bagian-bagian lain supaya tidak tergores dan juga terlindungi dari panas yang keluar karena adanya pembakaran atau reaksi gaya listrik yang ada.

Menurut Faishal, Olimo walau dijual murah akan tetapi kualitasnya tidak kalah dibanding olie branded yang dijual mahal, untuk membuktikan bahwa kualitas Olimo itu lebih baik maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini, antara lain:

“Suara mesin lebih halus, tenaga mesin lebih kuat, panas mesin berkurang, lebih hemat bahan bakar, jarak tempuh kendaraan lebih jauh, dan Olie tidak cepat kotor,” ungkap Faishal.

Masalah lain yang ada pada umumnya adalah olie yang umum beredar itu bersifat racun yang jika dibuang sembarangan, maka akan mencemari lingkungan, olie bekas jika dibuang pada tanaman maka tanaman itu bisa mati mengering.

Olimo disiapkan dengan target ramah lingkungan, walaupun yang beredar sekarang belum sepenuhnya ramah lingkungan, tapi setidaknya di atas 90 % sudah bersifat ramah lingkungan, seiring dengan waktu selalu diusahakan untuk bisa mencapai target 100 % ramah lingkungan.

Apakah olie yang ramah lingkungan itu mahal? Menurut Faishal, pada umumnya olie yang ramah lingkungan dijual jauh lebih mahal, khususnya di berbagai negara yang kesadaran masyarakatnya lebih tinggi.

“Di Indonesia sudah banyak pelajar yang peduli dengan pentingnya menjaga kestabilan lingkungan, mereka sudah banyak membuat penelitian, tapi sayangnya penelitian mereka kurang dikenalkan pada masyarakat luas,” ujar Faishal.

Menurutnya, pencemaran udara tidak hanya disebabkan oleh pembakaran bahan bakar, akan tetapi kualitas olie juga berpengaruh pada pencemaran udara, maka semestinya penggunaan olie yang ramah lingkungan selalu ditingkatkan.

“Untuk meningkatkan penggunaan olie yang ramah lingkungan, maka harga penjualannya harus dibuat murah supaya semakin banyak masyarakat yang menggunakannya,” tambah Faishal.

***