Jatuh Bangunnya Negara dalam Pertarungan Ekonomi

Mari kita lebih gunakan otak dalam berkompetisi daripada menggunakan emosi (apalagi kalau pakai sentimen "rasisme") dalam menghadapi dunia baru ini.

Selasa, 6 Agustus 2019 | 06:13 WIB
0
91
Jatuh Bangunnya Negara dalam Pertarungan Ekonomi
Ilustrasi globaliasai (Foto: Maxmanroe.com)

Era ekonomi global telah menjadikan barang dan jasa melintas begitu intensif, menembus seluruh permukaan bumi, mendobrak batas batas wilayah negara.

Ada negara-negara pengimpor yang menjadi konsumen barang produksi orang lain, dan ada negara-negara pengekspor, pemasok barang. Ada negara yang lebih produktif, ada negara yang lebih konsumtif. Ada orang yang lebih berbangga menjadi pemakai, ada orang yang lebih berbangga menjadi pencipta. Dinamika terlihat begitu kasat mata.

Untuk grafik kali ini, tentu Indonesia tak terlihat karena negeri kita belum pernah masuk dalam kelompok negara petarung utama ekspor komoditi dunia. Tapi lihat, dominasi Amerika yang bercokol bertahun-tahun, akhirnya tumbang oleh China di tahun-tahun terakhir ini.

Lihat pula Rusia yang pada suatu periode terlihat "nyungsep" ke bawah dan kemudian hilang sama sekali dalam grafik. Ini pertanda negara ini tak mampu bertahan dalam pertempuran perdagangan internasional.

Semoga grafik ini menyadarkan pada kita semua. Indonesia harus bangkit sebagai negara produsen, bukan ajang sasaran pasar produk negara lain. Tak usah kita terlalu bangga sebagai pengguna, karena posisi pengguna hanyalah posisi "otak level bawah".

Tak usah pamer menjadi konsumen barang mewah hasil impor karena itu pertanda ketidak-berdayaan. Apalagi bila barang impor itu melekat di badan kita. Saya sendiri merasa masih terlalu banyak barang impor melekat di badan setiap hari; jam, hp, jaket dan sepatu. Semoga secara bertahap bisa dikurangi.

Mari kita hargai kreativitas yang tumbuh dari diri kita sendiri, dari karya bangsa sendiri. Tak usah mencibir kalau kualitasnya masih belum masuk posisi terbaik. Semua ada proses.

Yang jelas, dari sekian banyak hasil karya anak bangsa yang kini mulai tumbuh, hasil karya budaya semakin terlihat memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan. Begitu banyak warisan hasil seni negeri ini yang siap menjadi komoditi terbaik untuk masuk dalam sirkulasi dunia.

Kalau banyak dari kita kini mulai banyak yang suka makan masakan Jepang, Korea, Italy dan China, mengapa tidak kita jadikan orang Jepang, Korea, Italy dan China suka makan rendang, gado-gado dan gudeg yang kita punya?

Nampaknya, mendorong "comparative advantage" akan lebih cepat menghantarkan kita sebagai pemain dunia daripada kita terfokus semata-mata pada "competitive advantage".

Mari kita lebih gunakan otak dalam berkompetisi daripada menggunakan emosi (apalagi kalau pakai sentimen "rasisme") dalam menghadapi dunia baru ini.

***