2019, Tahun Mobil Listrik di Asia

Kamis, 24 Januari 2019 | 07:34 WIB
0
162
2019, Tahun Mobil Listrik di Asia
James Dyson (Foto: Disway.id)

Biarlah jadi tahun politik di Indonesia. Tapi 2019 adalah ‘tahun mobil listrik’ di Asia.
Tesla Shanghai mulai berproduksi akhir tahun nanti. Setengah juta mobil setahun.

Byton Nanjing sedikit lebih awal. Sekitar 300.000 mobil setahun. Dan Dyson Singapura adalah raksasa baru. Yang akhir tahun 2019 ini juga sudah start produksi. Besar-besaran pula.

Yang menarik, tiga-tiganya tidak datang dari industri mobil.

Revolusi mobil memang tidak bisa diharapkan dari pabrik mobil. Itu pula yang enam tahun lalu dicoba diterobos di Indonesia. Meski dicibir ‘bukan orang mobil kok mau bikin mobil’.

Tapi tembok yang harus diterobos terlalu tebal.

Kini sudah amat terlambat untuk memulai. Indonesia sudah pasti akan menyerahkan pasar ke pihak asing lagi.

Dyson Singapura misalnya. Sudah di depan mata. Pasar bebas Asean akan menjadikan Singapura calon raja kita. Di bidang mobil listrik. Pabrik mobil di Singapura sudah tidak ada bedanya. Bisa masuk Indonesia seperti diproduksi di dalam negeri.

Tentu mustahil menduga Singapura bakal bisa menjadi raja mobil. Kalau teknologi mobil masih menggunakan bensin.

Tapi dengan mobil listrik apa saja bisa terjadi. Yang dulu dianggap tidak mungkin terjadi.

James Dyson juga orang terkaya di Inggris. Ia sudah menyisihkan dana Rp30 triliun. Untuk proyek baru mobil listriknya itu. Yang separo untuk pengembangan mobilnya. Sisanya untuk pengembangan baterainya.

Usianya memang sudah 71 tahun. Tapi sehatnya bukan main. James Dyson adalah pelari maraton. Meski tidak pernah lagi terjun ke arena. Ia masih mampu lari jarak jauh.

Yang membuat mobil listrik Dyson nanti sukses adalah kepribadiannya: orangnya ulet, tangguh, tidak mudah menyerah. Khas karakter pelari jarak jauh.

Seseorang mampu lari jauh bukan hanya karena kualitas fisiknya. Tapi lebih karena kualitas mentalnya. Mental ulet. Mental pantang menyerah.

Mobil listrik adalah dendam lamanya. Dendam yang belum kesampaian. Di sisa usianya dendam itu harus terbayar. Dengan kemampuan otaknya, mentalnya dan kekayaannya.

James Dyson adalah memuja alam pedesaan, pegunungan, pantai dan pantai berpasir. Semua itu ia anggap sebagai anugerah. Yang harus diselamatkan.

Mobil listrik adalah alat bagi dia. Untuk menyelamatkan anugerah itu. Yang lama ia tunggu. Dari para industrialis mobil. Tapi tidak ada tanda-tanda kesungguhan dari sana.

Latar belakang pendidikan Dyson adalah seni. Lalu ke desain. Tapi bakatnya di teknik. Akhirnya ia gabungan tiga kemampuan itu.

Otaknya selalu memikirkan apa yang bisa ia temukan. Maka Dyson menemukan ini: pengangkut tanah dengan gerobak satu roda.

Penemuan itu sangat memudahkan kontraktor mengangkut tanah, semen, bata dan sejenisnya. Manusia tinggal memegang dua gagang dan mendorongnya. Tidak perlu lagi memikul atau menjinjing.

Tapi ia kecewa dengan penemuannya itu. Ia kehabisan modal. Terpaksa produksi ‘whellbarrow’ ini diserahkan ke investor.

James Dyson lantas bisnis kardus dan selotip.

Saat ia berada di pabriknya Dyson melihat mesin pengisap debu. Yang menggunakan sejenis karung. Untuk menampung debunya.

Ia langsung lari pulang. Menemukan sesuatu yang harus segera ia lakukan. Tidak sabar kalau harus nanti-nanti.

Tiba di rumah Dyson langsung ke tempat penyimpanan pengisap debu. Vacum cleaner. Yang waktu itu juga ada kantong penampung debunya.

Ia bongkar vacum cleaner itu. Ia pikirkan bagaimana membuat vacum cleaner tanpa kantong penampung. Alangkah sederhananya kalau vacum cleaner tanpa kantong. Pasti disenangi orang.

Maka Dyson menemukan ini: menggunakan cyclon udara. Bahkan cyclonnya dua. Terpisah. Ditempatkan di dalam vacum cleaner.

Kali ini ia tidak mau memberikannya ke investor. Tapi ia sudah terlalu banyak hutang. Tidak mungkin berhutang lagi. Tapi bank ternyata mendukungnya.

Diproduksilah vacum cleaner merk Dyson. Sukses besar. Lalu ia produksi pula pengering rambut. Dengan merk yang sama. Kipas angin. Dan banyak lagi.

Tahun 2002 ia buka pabrik di Malaysia. Dianggap terlalu berspekulasi. Tapi merk Dyson akhirnya masuk pasar Asia. Sukses pula.

Dyson sudah jadi orang terkaya di Inggris. Laba perusahaannya mencapai 15 triliun rupiah tahun lalu. Dyson tidak mau berhenti bekerja. Bahkan cari tantangan baru: masuk mobil listrik.

“Mobil listrik Dyson nanti istimewa dan beda teknologinya,” katanya. Motor listriknya akan ia buat beda dengan yang pernah ada. Demikian juga baterainya.

Kini Dyson sudah memiliki 400 engineers. Masih mencari 300 lagi. Ia sudah punya 1.100 karyawan di Singapura, 1.300 di Malaysia, 1. 000 orang di Tiongkok dan 800 orang di Filipina.

Dua bulan lagi presiden Nissan Infinity, Roland Krueger, bergabung ke Dyson Singapura.

Tekad Dyson sudah bulat. Sejak dua tahun lalu. Bahkan Dyson bikin kejutan baru: memindahkan kantor pusat grup Dyson ke Singapura. Dari Inggris. Dengan segala resikonya. Ia sudah kepalang basah.

Padahal Dyson adalah salah satu promotor Brexit. Minggu lalu justru memutuskan memindahkan kantor pusatnya dari Inggris.

Dyson harus rasional. Apalagi keputusannya terjun ke mobil listrik tidak bisa disambil-lalu. Ia memilih basah sekalian.

Apalagi, katanya, pemasok pabriknya selama ini kebanyakan dari Asia. Pemasok dari seluruh Eropa sendiri hanya 2 atau 3 persen.

Kini di tengah keruwetan pelaksanaan Brexit justru Dyson yang loncat duluan.
Selamat datang mobil listrik dari tetangga kecil kita.

***

Dahlan Iskan