Mengenal Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Militer dan Manfaatnya (Bagian I)

Jumat, 19 Juni 2020 | 15:03 WIB
0
333
Mengenal Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Militer dan Manfaatnya (Bagian I)
MALE UAV

Apa itu UAV ?

Unmanned Aerial Vehicle UAV atau dalam bahasa indonesia dikenal dengan istilah pesawat terbang tanpa awak, di definisikan sebagai pesawat terbang tanpa pilot yang digerakkan oleh  sistem propulsi, mesin kipas (propeller) ataupun  mesin jet. Pada UAV terpasang,  sebuah sistem payload yang terdiri dari  kamera EO,  kamera infra red FLIR, dan SAR/GMTI yg digunakan untuk melihat/memantau sesuatu yang terjadi diatas permukaan bumi dari udara atau dikenal dengan istilah reconnaissance,surveillance dan target accusation (RSTA).

Disebabkan oleh kemampuannya ini, UAV dipergunakan baik oleh kalangan militer atau pihak sipil. Aplikasi UAV dalam bidang militer antara lain di gunakan sebagai pesawat pengintai atau mata-mata untuk melihat kegiatan pihak lawan, intrastuktur dan peralatan tempur yg dimiliki pihak lawan (lihat gambar 1). Dalam bidang sipil, UAV digunakan untuk pemetaan, pemantauan lalu lintas kendaraan di jalan, monitor dan pengukuran pencemaran udara, pemantauan daerah perbatasan, komunikasi, monitor pipa minyak, gas dan juga kawat listrik PLN, SAR, peyemprotan pupuk/peptisida dari udara, pencarian tempat-tempat pemboran minyak, perikanan, pencegahan epidemik covid-19 dan lain-lain.

                    Gambar 1: manfaat UAV dalam bidang militer.

Pesawat UAV ini dapat dikendalikan secara manual dengan bantuan sebuah remote control , atau/dan di kendalikan oleh sebuah komputer kecil (autopilot) yg dipasang di dalam badan pesawat tersebut. Jika UAV ini dikendalikan oleh komputer, pesawat ini bisa terbang dengan sendirinya tanpa bantuan juru terbang /pilot, karena di dalam autopilot itu, berisi logika-logika terbang/flight control laws yg mengatur secara atomatis bagaimana pesawat itu terbang

Pilot yg berada di station kendali di darat (ground control station GCS) memberikan perintah-perintah terbang, seperti arah terbang, kecepatan terbang, ketinggian terbang, route dan tujuan penerbangan, kepada UAV itu. Perintah-perintah terbang di kirim ke UAV oleh pilot menggunakan gelombang radio dari sebuah sistem telemetri. Selain pilot, terdapat satu lagi  operator yg mengendalikan kamera. Gambar diam atau gambar video, yg berhasil di tangkap oleh kamera,  dikirim kembali ke station kendali darat GCS secara waktu nyata atau real time. Melalui monitor, operator tsb dapat melihat permukaan bumi, benda-benda atau aktivitas-aktivitas lainnya, yg terjadi di atas permukaan bumi.

Pada umumnya, UAV dilengkapi dgn sistem avionik yg terpasang di dalam UAV tsb ataupun di luar (didarat). Sistem avionik terdiri dari beberapa sub sistem seperti onboard computer autopilot, sistem kendali pesawat (flight control system), sistem navigasi (navigation system) , seperti GPS (gbobal positioing system) yang berbasis satelit, sistem beban bayar (payload), selain station kendali darat (ground control station). Komponen-komponen pesawat tanpa awak ini digambarkan pada gambar dibawah ini.

Gambar 2 : Komponen komponen UAV

Klasifikasi UAV Militer 

Berdasarkan jarak operasi dan lamanya terbang (operational range and endurance),departemen Pertahanan Amerika (Pentagon) membagikan UAV Militer (mlitary UAV) sebagai berikut

  • UAV taktis (tactical unmanned aerial vehicle)
  • UAV enduran (endurance unmanned aerial vehicle)

UAV taktis (the tactical UAV) di disain untuk mendukung seorang komandar tempur taktis dengan kemampuan intelejen mata-mata hingga jarak 200 km. Pesawat taktis ini seolah-olah sebagai perpanjangan pengamatan/penglihatan komandan tempur, hingga menjangkau jauh ke dalam daerah musuh tanpa perlu mengirim dan mengorbankan nyawa manusia/tentara. UAV taktis dibagi dalam dua kelas: UAV taktis Jarak Pendek dan UAV taktis sedang. UAV taktis jarak pendek beroperasi sehingga kira-kira 50 km dan waktu operasi antara 2- 5 jam, sedang UAV taktis menengah dapat melakukan penyusupan ke daerah lawan hingga jarak 200 km dengan lamanya terbang 8 sehingga 10 jam. Yang termasuk pesawat tanpa awak jenis ini antara lain Poineer dan Hunter, lihat gambar 3.

                         Gambar 3 : UAV Pioneer

UAV enduran (endurance UAV), di amerika di kenal dengan nama unmanned airfraft system (UAS) , digunakan untuk jarak  terbang yg jauh, waktu terbang yg lama serta ketinggian terbang yg tinggi. Disebabkan karena ukurannya Pesawat ini berlepas dan mendarat hanya dari lapangan terbang, mengudara non stop hingga 24 jam atau lebih  dan dapat mengirim data gambar dan video secara waktu nyata secara langsung dan via satelit. UAV Predator dan Global Hawk termasuk dalam katagori UAV ini, lihat gambar 4,. Endurance UAV ini dibagi dalam 2 jenis yaitu Medium Altitude Long Endurance (MALE) - UAV dan High Altitude Long Endurance (HALE) - UAV.

                      Gambar 4: UAV Predator sedang menembak peluru kendali

Selain jenis-jenis UAV militer yang disebutkan diatas, agensi penelitian projek pertahanan berteknologi tinggi amerika atau yg dikenal dengan DARPA (The defense Advanced Research Projects Agency) saat ini sedang memsponsori program penyelidikan dan pengembangan untuk membangunkan UAV tempur atau yg dikenal dengan UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle). Pada Bulan Maret 1999, Perusahaan pesawat terbang terkenal Boeing telah mendapatkan kontrak untuk membuat prototype pesawat terbang tanpa awak tempur yg dikenal dengan The DARPA/Air force X-45 UCAV, lihat gambar 5.

                     Gambar 5: UCAV X45A buatan perusahaan Boeing

Tujuan dari UCAV X-45 ini adalah untuk memporakporandakan sistem pertahanan musuh dengan harga sepertiga lebih murah jika menggunakan sebuah pesawat tempur gabungan. Pesawat UCAV X-45 ini mempunyai kemampuan untuk mengugurkan bom secara otomatis didearah pertahanan lawan.