Kita seharusnya tidak berakhir dalam situasi di mana keharusan abad ke-21 memaksa perusahaan untuk mengubah perilaku mereka.
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau CSR masuk akal bagi bisnis yang terkemuka juga ketika seseorang mempertimbangkan dampak langsung yang ditimbulkan oleh tanggung jawab sosial dan lingkungan terhadap bisnis. Sebagai contoh, perusahaan ada dalam hubungan simbiotik dengan lingkungan mereka (istilah lingkungan mengacu pada semua komponen lingkungan eksternal dan bukan hanya lingkungan ekologis) di mana pertukaran mereka dengan lingkungan yang lebih besar menentukan seberapa besar kinerja mereka dalam lingkungan usaha mencari keuntungan.
Ketika seseorang mempertimbangkan fakta bahwa RBV atau Pandangan Berbasis Sumber Daya dari perusahaan adalah tentang seberapa baik perusahaan ada dalam harmoni dengan lingkungan eksternal dan bagaimana pertukaran input dan output dengan lingkungan menentukan kualitas operasinya, ia dapat dapat disimpulkan bahwa praktik bisnis yang bertanggung jawab secara sosial memang demi kepentingan perusahaan dan argumen terhadap pengenaan pajak sosial yang tersembunyi pada perusahaan dengan melakukan praktik bisnis yang bertanggung jawab secara sosial mungkin tidak berlaku di lanskap bisnis saat ini.
Memang, dunia sejak zaman Friedman telah banyak berubah sehingga praktik bisnis yang bertanggung jawab secara sosial seharusnya menjadi norma dan bukan pengecualian dan berbagai bacaan yang disurvei untuk makalah ini tampaknya menunjukkan bahwa sudah saatnya bagi bisnis untuk terlibat dalam perilaku yang bertanggung jawab.
Namun, ada kecenderungan untuk memperlakukan CSR sebagai biaya bisnis lain dan karenanya menjadi bisnis seperti tentang praktik tersebut. Jadi, pengarusutamaan ide mungkin tidak membawa efek yang diinginkan kecuali media, bisnis, dan warga negara sendiri memahami apa yang dipertaruhkan dan berperilaku sesuai.
Membayar lip service atau mem-korporatisasi ide CSR mungkin bukan hasil yang dimaksudkan oleh para pendukung dan kelompok advokasi yang mempromosikan ide ini. Sebaliknya, perubahan dalam pola pikir dan sikap adalah apa yang ada dalam pikiran kelompok-kelompok ini ketika mereka mendorong praktik-praktik yang bertanggung jawab secara sosial.
Telah disebutkan di tempat lain bahwa CSR sebagai sebuah konsep dan sebagai sebuah paradigma harus dijalin ke dalam DNA perusahaan dan ketika kain tersebut beresonansi dengan benang tanggung jawab sosial; tujuan kapitalisme yang sadar dan perusahaan yang berbelas kasih akan terwujud.
Oleh karena itu, pengibaran jari yang berhati-hati dilakukan bagi mereka yang percaya bahwa karena konsep CSR telah diarusutamakan, mereka dapat bersantai dalam pengetahuan bahwa perusahaan akan melakukan sisanya. Mengingat sejarah pencarian keuntungan dan perilaku merkantilis di mana mode dan ide datang dan pergi tetapi sifat perusahaan bermutasi daripada mengalami perubahan mendasar, kami masih memiliki jarak untuk dibahas sebelum tujuan gagasan CSR tercapai.
Lebih jauh, kita seharusnya tidak berakhir dalam situasi di mana keharusan abad ke-21 memaksa perusahaan untuk mengubah perilaku mereka. Sebaliknya, perubahan pola pikir sukarela adalah sesuatu yang lebih cocok mengingat sumber daya yang luas yang dimiliki perusahaan dan yang mereka gunakan untuk menentang perubahan dan menggagalkan mereka yang mendorong undang-undang yang bertujuan untuk melakukannya.
***
Solo, Selasa, 7 April 2020. 12:02 pm
'salam damai penuh cinta'
Suko Waspodo
suka idea
antologi puisi suko
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews