Operasi Plastik dan Bahaya Hoax

Kamis, 4 Oktober 2018 | 13:33 WIB
0
50

Terima kasih banyak harus kita sampaikan kepada Tim Mabes Polri yang sudah berhasil membongkar kebohongan Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya tapi sebetulnya dia baru saja melakukan operasi plastik atau sedot lemak di mukanya di sebuah rumah sakit estetika wajah di Jakarta.

Dua jempol patut kita acungkan tinggi-tinggi untuk aparat kepolisian. Karena dengan begitu terkuak sudah kebohongan yang direkayasa dilengkapi drama dan bumbu-bumbu penyedap yang melebihi rasa "mecin".

Kalau hoax soal operasi plastik Ratna Sarumpaet ini tidak terbongkar kita bisa bayangkan akibat fatalnya: pertikaian antar kita bisa terjadi!

Cerita tentang hoax "Operasi Plastik" ini, tentu saja, tidak terlepas dari jalannya kampanye pemilihan presiden yang akan mencapai puncaknya pada 17 April 2019 tahun depan (Pilpres 2019) yang tahapan masa kampanyenya sudah dimulai secara resmi sejak 23 September lalu.

Pada hari Minggu itu dua pasang calon mengikrarkan diri untuk kampanye damai -ditandai dengan pelepasan burung-burung dara bebas terbang ke udara. Dua pasang calon juga sepakat untuk tidak menyebarkan kabar burung dan berita hoax dalam kampanye untuk menyerang kandidat lain.

Tapi salah satu kubu pasangan calon, sebelum akhirnya dibongkar oleh polisi, justru menyebarkan berita hoax cuma sembilan hari dari kesepakatan kampanye damai Pilpres 2019.

Berita hoax Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya pada Jumat 21 September oleh orang-orang tak dikenal di Kota Bandung diunggah setelah sebelas hari pada Selasa (2/10/2018) kemarin. Penyebaran berita-berita hoax Ratna Sarumpaet dianiaya ini dilakukan secara serentak dan masif oleh para politikus dan pendukung fanatiknya dari pasangan calon yang selama ini dikenal sebagai oposisi pemerintah.

Bahkan salah satu capres sampai menggelar jumpa pers pada malam hari. Ia didampingi tim suksesnya -termasuk bekas Ketua MPR RI- mengutuk peristiwa itu yang bertepatan dengan Hari Anti Kekerasan Internasional.

Ia juga menyebut tindakan penganiayaan itu sebagai anti demokrasi sebagai upaya pembungkaman sebab Ratna Sarumpaet selama ini dikenal sebagai kritikus yang sangat vokal dan dapat dikatakan anti pemerintah.

Di tengah suasana duka cita musibah gempa bumi dan tsunami yang dialami suadara-saudara kita di Palu dan Donggala tega-teganya capres itu bikin jumpa pers yang menyerang pemerintah seperti kata-katanya yang terkenal "rampoklah rumah yang lagi terbakar".

 

 

 

Dalam episode "Tragedi Operasi Plastik" ini yang jahat kepada Ratna Sarumpaet itu ada delapan:

1. Pembuat skenario yang raja tega karena sangat mempermalukan nenek itu beserta anak, mantu, cucu, dan keluarga besar.

2. Para penyebar hoax yang menjadi partisan parpol oposisi.

3. Yang bikin jumpa pers semalam di tv.

4. Teman-teman wartawan yang terprovokasi berita hoax tanpa check dan rechek.

5. Teman-teman yang selama ini sudah sering ditipu berbagai berita hoax tapi masih tetap percaya berita penganiayaan nenek itu.

6. Teman-teman yang berpendidikan tinggi tapi masih percaya hoax dan omongan orang-orang yang kita tahu tingkat pendidikan dan pengetahuannya lebih rendah daripada kita dan tidak punya kredibilitas lagi.

7. Masyarakat yang masih percaya para politisi busuk yang mudah menjual harga diri, keyakinannya, dan nama besar parpol dengan harga sangat murah buat mencapai kekuasaan.

8. Masyarakat yang masih menyimpan kebencian tanpa logika dan selalu menyalahkan pemerintah untuk masalah-masalah (pribadi) yang sama sekali tidak terkait dengan kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak.

Alhamdulillah Ratna Sarumpaet mengakui dirinya sebagai pembuat hoax. Capres, cawapres, bekas Ketua MPR RI, para politikus oposisi, para pendukung fanatik semuanya dibohongi mentah-mentah.

 

 

 

Ratna Sarumpaet mengaku dapat dari khayalan setan -kedekatannya dengan para politikus parpol yang saleh dan saleha tidak berpengaruh sama sekali bagi dirinya untuk tetap bikin fitnah dan hoax.

Kemudian kita tahu alurnya: Ratna Sarumpaet dikorbankan untuk episode "Operasi Plastik" ini.

Ia dipecat dan disingkirkan.

Dibuang jauh-jauh.

Semoga berita hoax berakhir sampai di sini.

***