Nomor Urut 2 untuk Prabowo-Sandi, Partai Pendukung Makin Panik?

Minggu, 23 September 2018 | 18:34 WIB
0
357
Nomor Urut 2 untuk Prabowo-Sandi, Partai Pendukung Makin Panik?

Pasangan capres dan cawapres sudah mendapatkan nomor urutnya masing-masing untuk tampil di perhelatan Pilpres 2019 nanti. Jokowi-Ma'ruf mendapatkan nomor urut 1, sedangkan rivalnya Prabowo-Sandiaga Uno mendapatkan nomor urut 2.

Bagi Partai Gerindra, mendapatan nomor urut 2 adalah impiannya selama ini. Sebagai peserta pemilu, Partai Gerindra juga mendapatkan nomor urut 2.

Dengan demikian, Partai Gerindra memiliki dua keuntungan, sekali berkampanye dengan nomor 2, mendapatkan dua hasil, yakni Pilpres dan Pileg yang kebetulan dilakukan besamaan.

Pilpres 2019 nanti akan memiliki coat tail effect (efek ekor jas), di mana kondisi ketika preferensi pemilih dipengaruhi kandidat presiden. Dengan kondisi tersebut, partai pendukung presiden terpilih juga merupakan mayoritas di parlemen.

Namun, bagaimana dengan partai-partai yang berada di barisan Prabowo-Sandi? Kesamaan nomor Partai Gerindra dan pilpres yang diusung, tentu saja sangat menguntungkan Partai Gerindra, khususnya dalam pertaruhan di pemilihan anggota legislatif (Pileg). Inilah pemilihan yang paling krusial, khususnya bagi  bagi partai.

Dengan mendapatkan suara sebanyak-banyaknya dalam pileg, akan semakin terbuka pelaung bagi partai untuk tetap eksis berada di parlemen. Sebaliknya, jika partai tak mampu mendapatkan suara minimal 4 persen, akan tersingkirlah partai tersebut dari parlemen.

PKS dan PAN makin kesulitan

Ya, itulah ambang batas parlemen ( parliamentary threshold) pada pemilu 2019 yang ditetapkan sebesar 4 persen. Menurut hasil survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terancam tak lolos ambang batas parlemen atau parliamentary threshold pada Pemilu 2019. Elektabilitas PAN sebesar 2,3 persen, sedangkan PKS mendapat 3,7 persen.

Dengan kata lain, nomor urut 2 yang dimiliki Gerindra dan Prabowo-Sandi, makin menyulitkan posisi partai-partai yang berkoalisi dengan Gerindra dalam mendukung Prabowo-Sandi, khususnya untuk PAN dan PKS.

Berbeda dengan Demokrat. Meskipun agak sulit karena "efek ekor jas" yang cenderung menguntungkan Gerindra, Partai Demokrat masih bisa memanfaatkan popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan sang putera Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk lebih berkonsentrasi mendongkrak suara Partai Demokrat di pileg 2019 nanti.

Nah, disinilah diuji kesungguhan dan totalitas partai-partai pendukung Prabowo-Sandi. Memilih untuk secara mati-matian memenangkan capres dan cawapres yang diusungnya, atau lebih mementingkan nasib partainya sendiri. Tentu saja, ada hal yang disesali partai pendukungnya, yaitu menempatkan Sandiaga Uno sebagai bakal cawapres Prabowo, karena keduanya  sama-sama berasal dari Gerindra.

Sesuatu yang tidak bisa dibayar berapapun harganya untuk tetap bisa melihat partai eksis di parlemen. Semuanya sudah menjadi pilihan.

 

***