Jokowi Paham Betul Bagaimana Harus Transaksi dengan Jusuf Kalla

Minggu, 22 Juli 2018 | 22:27 WIB
0
357
Jokowi Paham Betul Bagaimana Harus Transaksi dengan Jusuf Kalla

Siapakah yang paling berpeluang menjadi Wapres, jawabnya ya JK. Wapres di Indonesia yang paling memiliki daya hidup adalah Bung Hatta dan JK. Namun JK melampaui kekuatan politik Bung Hatta, bila Bung Hatta masih memerlukan Sutan Sjahrir sebagai "penengah sikap politik" dengan Bung Karno, maka JK tak memerlukan itu ketika berhadapan dengan SBY maupun Jokowi .

Pilkada DKI Jakarta sudah membuktikan kekuatan politik JK tidak main-main, dan kemampuan Jokowi yang melepaskan persoalan Pilkada DKI kepada kekuatan nonparpol hancur berantakan, ini membuktikan bahwa JK memiliki mesin politik yang solid.

Jokowi jelas harus berhitung, bagaimanapun tahun 2019 adalah tahun legacy dan tahun endorse, sebagai negarawan ia ingin dicatat sebagai Presiden yang meletakkan landasan besar pembangunan Indonesia yang diarahkan pada infrastruktur ini adalah loncatan perekonomian besar.

Sebagai endorse ia jelas ingin punya posisi politik pasca 2024. Inilah kenapa ia harus memilih hati-hati cawapresnya, tapi ketika pilihan itu menemui jalan buntu, maka ucapan Jokowi pada JK "Pak JK...Don't change the winning team" beberapa waktu lalu menemukan arti yang sangat luas.

JK sendiri mengalami perkelahian perkelahian politik yang serius di masa mendampingi Jokowi, namun ia tetap santai menghadapi pertarungan itu, dan pertarungan terbesarnya adalah mengembalikan Anies Baswedan ke sistem pemerintahan.

Sementara Sudirman Said yang coba ditarik JK juga menjadi sebuah "poros politik Jawa" gagal dilakukan, namun di Jawa Timur, JK sudah tentu dekat dengan kubu Khofifah dan sebagai bentuk kompromi antara Jokowi, JK dan SBY. Dalam kasus Anies, JK sudah menjadi kingmaker sesungguhnya, bukan tidak mungkin bila melepas JK maka kubu oposisi semakin kuat, sementara Jokowi juga ingin Golkar masuk ke dalam kubunya.

Menjadikan JK sebagai Wapres tentunya memiliki resiko terkecil, tapi JK juga harus berhitung agar penguasaan proyek proyeknya tidak terganggu lagi. Di sinilah Jokowi harus juga cerdas bila mengangkat JK sebagai counterpart periode kedua.

Di sisi lain JK juga pasti akan menawarkan politiknya seraya menaikkan harga, ia tak ingin kesalahan-kesalahan di awal pemerintahan sehingga tercopotnya bebepara menteri menjadi langkah blunder.

JK adalah pedagang, ia paham bagaimana menaikkan harga seperti meminta William Soerjadjaja menaikkan kuota jumlah mobil Toyota untuk dilempar ke Ujung Pandang awal tahun 80-an, dan Jokowi adalah jenis pengusaha yang suka serempet serempet resiko. Ia paham bagaimana harus bertransaksi dengan JK.

Salah satu kelemahan sekaligus keunggulan JK, adalah ia sebenarnya penurut bila kepentingannya sudah terjaga...

***

Catatan Politik Anton DH Nugrahanto,

Jakarta, 22 Juli 2018