"Burung dan Sangkar", Komunikasi Kyai dengan Jokowi

Minggu, 15 Juli 2018 | 23:57 WIB
0
331
"Burung dan Sangkar", Komunikasi Kyai dengan Jokowi

Dalam budaya Jawa terkadang permintaan sesuatu atau kritikan dikemas dalam perlambang atau "sasmita". Dan ini perlu ketajaman rasa untuk bisa memahami "sasmita" ini. Terkadang ini dilakukan  untuk tidak menyinggung atau melukai perasaan seseorang.

Seperti dalam kunjungan Presiden Jokowi ke Sragen menghadiri pengajian khataman Alqur'an dan haul pondok pesantren An-Najah di Gondang Sragen.

Pimpinan pondok pesantren An-Najah Kyai Minanul Aziz Syatori dalam sambutannya menceritakan kondisi pondok pesantrennya yang saat ini mempunyai 650 santri tetapi bangunan yang tercukupi atau ideal untuk para santrinya baru 20%. Kondisi pondok pesantrennya ini ibarat "burung dan sangkar". Ada burungnya tetapi tidak ada sangkarnya.

Dan, menurut pimpinan pondok pesantren, kondisi ini masih lebih baik dibanding ada sangkar tetapi tidak ada burungnya.

"Ibarat sudah ada burung, tapi belum ada sangkarnya. Itu lebih baik daripada tidak ada burungnya tapi ada sangkarnya. Nanti yang menempati tikus," katanya dalam sambutan, Sabtu 14 Juli 2018.

Kata sambutan yang ucapkan Kyai Minamul Aziz Syatori di hadapan Presiden ini bukan tanpa maksud dan mempunyai keinginan atau harapan, siapa tahu sang Presiden paham akan kata-kata "burung dan sangkar".

Inilah gaya khas pesantren dalam meminta perhatian kepada Presiden, tidak memakai proposal seperti kebanyakan institusi dalam meminta bantuan atau perhatian.

Rupanya Presiden Jokowi paham dan mengerti "sasmita" yang yang disampaikan sang Kyai dengan perlambang "burung dan sangkar".

Setelah Presiden Jokowi naik mimbar untuk memberi kata sambutan, Presiden langsung merespon atau menanggapi apa maksud pesan "burung dan sangkar" tadi. Menurut Presiden Jokowi ada pesan yang sengaja ditujukan kepada dirinya soal "burung dan sangkar" yang diucapkan oleh Pak Kyai.

"Tadi Pak Kyai di sini mengingatkan. Di sini Banyak burungnya tapi tidak ada sangkarnya. Pak Kyai, bagian sangkar bagian saya, sudah," ujarnya.

Akhirnya Presiden Jokowi menyanggupi untuk memberikan bantuan pembangunan pondok pesantren yang layak dan untuk bisa ditempati oleh 650 santri.

Karena pesan yang disampaiakan oleh pak Kyai memang berharap Presiden memberikan bantuan pembangunan pondok pesantrennya dengan sasmita "burung dan sangkar".

Dan presiden berjanji minggu depan akan ada tim yang akan datang ke ponpes untuk mengecek lahannya dan mendapat tepuk tangan dari para hadirin atau para santri.

Menurut Presiden Jokowi cara yang dipakai pak Kyai dengan perumpamaan "burung dan sangkar" adalah cara yang halus dan Presiden juga merasa dan paham akan maksud perumpamaan tadi.

Inilah gaya seorang Kyai ketika meminta perhatian dari sang presiden,dengan cara perumpamaan atau sasmita.

***