3 Penyebab Utama Orang Menyebarkan Hoaks Ini Perlu Anda Ketahui

Senin, 5 Maret 2018 | 20:15 WIB
0
624
3 Penyebab Utama Orang Menyebarkan Hoaks Ini Perlu Anda Ketahui

Hoaks purba berbalut fitnah yang pengaruhnya sangat sadis adalah Hadits al-Ifki yang menimpa Ibunda Aisyah Radliyallahu 'anha. Di lain waktu, melalui QS. Al-Hujurat ayat 6, Allah memberikan penekanan mengenai pentingnya menelaah kredibilitas pembawa berita dan pentingnya klarifikasi atas setiap informasi yang diterima. Cukuplah asbabun nuzul ayat ini menjadi pelajaran bagi kita.

Dalam sebuah sabda mulianya, Kanjeng Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menegaskan, cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta manakala dia menceritakan apapun yang dia dengar. Konteksnya saat ini, cukuplah seseorang disebut nggedabrus, ndobos, ngibul, manakala dia men-share apapun informasi yang dia terima. Dapat informasi A, sebar. Dapat info B, share. Dapat info C, dengan tangkas memencet tombol forward. Ini sebenarnya manusia yang bisa mikir atau mesin faximile yang berwujud manusia sih?

Menurut saya, di antara penyebab seseorang menyebar hoaks:

(a) Kebencian. Kalau sudah nggak suka dengan sosok A maupun kelompok B, apapun informasi yang diterima akan disampaikan meskipun kadar kebenarannya meragukan. Jumhur ulama wilayah Planet Kripton sudah memutuskan ijma' bahwa Spongebob hidup di bawah laut. Tapi karena benci dengan komunitas Bikini Bottom, dia tidak percaya kalau kelompok makhluk lucu itu tinggal di kedalaman samudera. Segala fitnah dan kabar buruk mengenai Spongebob, Patrick, dan Tuan Crab akan disebarkan secara massif.

Kecepatan penyebarannya selevel dengan kecepatan cahaya. Kalau belum ada kabar negatif, ya dibuatlah fitnah-fitnah kejam.

Di Indonesia, anda tahi, eh tahu, gara-gara kebencian, medsos berisik akibat perseteruan Kecebong vs Kampret, Bani Taplak vs Bani Daster, Prabowers vs Jokowers, hingga pemuja alis asli dan penggemar pensil alis. Berat akhi, ente kagak sanggup, biar ana aja yang nonton perseteruan hingga kuota penghabisan ini.

(b) Kecintaan. Selaras dengan kebencian, maka tresna yang berlebihan juga berbahaya. Dalam pola ini, apapun yang berkaitan dengan dunia yang dia sukai, meskipun validitasnya nggak jelas, maka akan di-share dengan cepat dan bahagia.

Di dunia ini, Mekel Jeksen (begini ya cara nulisnya) sudah mati beberapa tahun silam, tapi di kalangan pecinta fanatiknya, raja dangdut, eh sultan rock n roll itu dipercaya masih hidup dan bersembunyi di sebuah lokasi rahasia. Dia ingin keheningan untuk mencapai tahap kesepurnaan.

Absurd? Ya begitulah. Biasanya kabar bohong model begini disebarkan oleh para pecinta fanatik. Di Indonesia, kabar baik tapi bohong seputar Prabowo, Jokowi, Gus Dur, Habib Rizieq, dan tokoh-tokoh lainnya disebar ke sana kemari. Niat penyebarnya baik, tapi yang disebarkan bohong.

(c) Keawaman. Nah, ini yang repot. Bagi yang awam bidang kedokteran dan kesehatan, manakala menerima broadcast mengenai tatacara pertolongan pertama pada penderita stroke maupun korban serangan jantung, langsung saja dishare ke sahabat-sahabatnya. Padahal info itu belum tentu benar. Bisa-bisa malah berakibat fatal.

Ada juga informasi mengenai khasiat tanaman A untuk penyakit B, atau larangan memakan C bagi penderita penyakit D. Validitasnya? Uji khasiatnya? Manaketehek.

Penyebar broadcast seperti ini biasanya niat berbuat kebaikan dan ada semacam sensasi tersembunyi bahwa mereka adalah "pihak pertama yang mendapat info ini" dan secepatnya memberitahu ke yang lain. Jangan lupa, ada juga informasi sial konspirasi kesehatan. Soal vaksin, imunisasi dll. Qiqiqi.

[irp posts="8438" name="Hoax Sudah Ada dan Terjadi pada Zaman Baheula"]

Dampak keawaman ini bukan hanya dalam bidang kesehatan, melainkan juga agama dan politik. Soal informasi sampah yang dikemas dengan jejalan ayat maupun hadits, you know lah! Banyak banget. Apalagi yang sifatnya hasutan. Hahaha. Soal politik, apalagi. Silahkan cari contohnya sendiri, capek saya ngetiknya.

Baiklah para sahabat seiman dan sepermainan, apapun jenisnya, hoaks harus dilawan. Caranya, jangan ikut nyebarkan. Kedua, isi dengan berbagai informasi positif yang validitasnya jelas. Kalau bisa kasih klarifikasi atas informasi tersebut. Ketiga, goreng, angkat, tiriskan lalu sajikan. Beres!

Dari berbagai pemberitaan, kita paham kalau bagi sebagian orang, memproduksi kabar bohong adalah bisnis. Ya, hoaks adalah bagian dari produk. Ada permintaan, pasar, mekanisme marketing, hingga konsumen setia.

Coba dilihat, teman-teman kita yang sering share hoaks ya itu-itu saja, kulakan dari web yang itu-itu saja, dan tema yang diangkat ya itu-itu saja. Saya curiga, mereka memplesetkan hadits: qulil haqq walaw kana murron, menjadi qulil hoaks walaw kana murron.

Wallahu A'lam Bisshawab.

***

Editor: Pepih Nugraha