Percakapan Anak Sekolah dengan Pemilik Toko Daging

Selasa, 27 Februari 2018 | 05:40 WIB
0
227
Percakapan Anak Sekolah dengan Pemilik Toko Daging

Begini jadinya kalau anak sekolah dapat tugas mencari subjek yang unik untuk diwawancarai. Alih-alih hanya mewawancarai orang dekat seperti ayah dan ibu, Fatih punya ide untuk mewawancarai Ibrahim, pemilik toko daging halal di pusat kota Haugesund.

Ternyata setiap orang itu memang menarik. Banyak sisi yang bisa digali. Pengalaman masa lalu, cerita, perjuangan hidup, yang selalu menarik untuk diceritakan kembali.

Ibrahim al-Sudani pria kelahiran Baghdad, 43 tahun yang lalu. Sejak kecil dia hobi baca buku, khususnya buku sejarah dunia. Suatu saat ayahnya yang seorang guru membelikannya sebuah buku sejarah yang bagus, tebal, dan langka. Buku itu jadi favoritnya. Ayahnya berkata, bahwa suatu hari nanti Ibrahim akan keliling ke banyak negara.

Ucapan yang serupa doa dan kemudian dikabulkan Tuhan.

Kecintaan dan pengetahuan Ibrahim akan sejarah mengantarnya menjadi bagian dari pasukan pengawal Presiden Saddam Hussein. Profesi bergengsi yang membawa kakinya melangkah ke Lebanon, Iran, Suriah, Libya, Yordania, dan negara Timur Tengah lainnya.

Kehidupannya yang penuh risiko namun bergelimang harta ini ia jalani beberapa tahun, hingga akhirnya ia merasa lelah dan tidak fit lagi (karena terlalu banyak makan katanya, hingga tubuhnya menggemuk). Iapun mengundurkan diri. Tak lagi menjadi pengawal presiden. Lalu ia banting stir, mengambil kuliah di jurusan teknik perminyakan.

Dasar otaknya encer, ia lulus dengan nilai baik dan dapat pekerjaan yang membawa kemakmuran dalam waktu singkat.

Irak memang terkenal dengan cadangan minyaknya hingga hari ini. Kekayaan yang membuat Amerika Serikat tega membuat klaim palsu tentang senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan hingga hari ini.

Sayangnya bagi Ibrahim, kemakmuran itu tak bertahan lama. Invasi Amerika Serikat dan sekutunya meluluhlantakkan Irak. Ia kehilangan pekerjaan. Dengan berat hati, demi menyelamatkan diri, ia mengungsi meninggalkan negara dan sanak-saudaranya.

Dan kini, tak terasa sudah 17 tahun ia tinggal di Norwegia. Ia sudah jadi warga negara Norwegia. Negara yang menjamin ketenangan dan kesejahteraan hidup baginya dan keluarganya. Setelah berganti pekerjaan beberapa kali selama belasan tahun berjuang di negeri barunya, ia menemukan keahlian baru: menjadi tukang daging sekaligus berbisnis.

Dan inilah tonggak yang ingin dibangunnya bersama istri dan ketiga anaknya. Banyak harapannya akan bisnisnya ini. Bisnis yang sejauh ini berjalan baik. Tokonya selalu ramai pembeli, bahkan hingga malam hari ketika wawancara ini berlangsung.

Ketika ditanya apakah ia telah menemukan pekerjaan impiannya, jawaban Ibrahim adalah: belum.

"Apa pekerjaan impian Anda?" tanya Fatih.

"Tidur!" jawab Ibrahim sambil tertawa. Ia menambahkan bahwa punya bisnis tidak mudah. Ia adalah bos di sini, dan harus memastikan semua lini berjalan lancar. Ia kurang tidur.

Tapi ia senang dan semangat. Ibrahim hanya ingin melihat ke depan, dan tak ingin hidup di masa lalu, meski ia masih tetap berkomunikasi dengan orangtua dan saudara-saudaranya di Irak.

Ia juga tetap menekuni hobi lamanya membaca.

Ibrahim sempat bercerita tentang salah satu kisah yang menginspirasinya: ekspedisi Yuri Gagarin sebagai orang yang pertama kali ke luar angkasa.

"Bisa kamu bayangkan? Zaman dulu itu tidak ada internet, Google, tidak ada game. TV juga masih langka. Yang ada hanya radio. Dan buku. Banyak sekali buku. Dan itu bisa mengirimkan manusia ke luar angkasa.

Anak sekarang makin sedikit yang mencintai buku. Padahal buku menyimpan harta karun yang tak terbatas", pungkas Ibrahim.

Wejangan yang sama sekali tak bisa dibantah. Nasihat yang layak untuk direnungkan.

**

Wawancara yang semula hanya diniatkan 10-15 menit, akhirnya berlangsung hingga 40 menit. Ibrahim begitu bersemangat.

"Ayo, tanya lagi", katanya pada Fatih.

Fatihpun jadi bersemangat menyampaikan pertanyaan-pertanyaan spontan yang tak ada dalam daftarnya.

Dan saya senang bisa mendampingi Fatih dan merekam momen Fatih jadi wartawan dadakan begini.

Selalu ada cerita menarik di balik sebuah foto. Dan selalu ada pesan moral yang bisa diambil dari momen sekecil apapun.

***

Editor: Pepih Nugraha