Mengapa Haedar Larang Pekik "Allahu Akbar" di Internal Muhammadiyah?

Senin, 26 Februari 2018 | 06:24 WIB
0
474
Mengapa Haedar Larang Pekik "Allahu Akbar" di Internal Muhammadiyah?

Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah,Haedar Nashir melarang pekik “allohu akbar” saat pertemuan internal Muhammadiyah,sebab menurutnya,kalimat ini sering disalahgunakan.

Pernyataan Haedar Nashir ini memang benar adanya karena sering kali kita mendengar pekik “Allahu Akbar” tetapi mempunyai tujuan lain, yaitu tujuan-tujuan politik atau untuk membangkitkan emosi jamaah yang kadang malah timbul banyak mudhorot atau keburukan.

Haedar Nashir juga mengatakan untuk menjadi muslim yang baik, yaitu menjadi muslim yang berilmu dan berkontribusi positif bagi masyarakat, bukan yang sedikit-sedikit meneriakkan “Allohu Akbar” untuk sesuatu yang sebenarnya sangat politis dan bukan religius.

Kita ketahui bersama pekik “Allahu Akbar” ini sering digunakan atau seakan-akan dapat legalitas dari Tuhan-nya bahwa,apa yang dilakukannya atau yang diperbuatnya adalah benar. Sebagai contoh, anggota ISIS kalau mau membunuh tahanan atau eksekusi dengan cara ditembak atau dipenggal selalu meneriakkan kata "Allahu Akbar" dan kalau menghancurkan bangunan bersejarah juga disertai pekik “Allahu Akbar".

Bahkan kerusakan yang terjadi di Suriah, Yaman, Libya dan Iraq, itu juga karena royal atau obral pekik “Allahu Akbar”. Seakan-akan Tuhan merestui atas perbuatan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi ini.

Di negara kita pun pekik “Allahu Akbar” juga tak kalah borosnya diucapkan dalam setiap demo-demo yang dengan tujuan untuk menurunkan kekuasaan atau jabatan seseorang. Pekik “Allhu Akbar" seakan menjadi semangat atau doping bagi orang-orang yang ingin membuat kerusakan.

Kalau kita amati dengan seksama, pekik “Allahu Akbar” ini diucapkan oleh orang-orang yang mengalami emosi atau ia merasa dalam keimanan tingkat tinggi. Bayangkan saja, mulutnya mengagungkan nama Tuhan tetapi tangannya membunuh seseorang, tangannya membuat kerusakan dan lain sebagianya. Seakan tidak nyambung antara yang diucapkan dengan yang di perbuat.

Ternyata Setan bisa bersemayam dalam diri orang, sekalipun mulutnya rajin memekikkan "Allahu Akbar", buktinya mereka membunuh seseorang dengan cara biadab dan membuat kerusakan dan menghancurkan apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pandanganya atau keyakinannya.

Dan sejarah juga membuktikan sahabat Kanjeng nabi atau sepupu, yaitu Imam Ali atau Ali bin Abu Thalib, dibunuh oleh Abduraman bin Muljam, juga dengan pekik “Allahu akbar”. Inilah gambaran dan bukti nyata bahwa Setan bisa bersemayam dalam diri seseorang yang tampak taat beragama sekalipun.

Bahkan kalau kita amati lewat rekaman atau video, orang-orang yang sering boros takbir ini ketika menerikkan “Allahu Akbar” wajahnya tampak emosi, sangar, matanya mendelik atau melotot, seakan akan melibas siapaun juga, tidak ada wajah keteduhan dan ketenangan, padahal mulutnya mengagungkan nama Tuhan.

Allahu Akbar adalah kalimat toyyibah, kalimat yang tinggi dan agung, bukan untuk dikorupsi menjadi alat politik atau alat untuk meraih kepentingan sendiri dan kelompok,” kata Haedar Nashir.

Benar, kalimat "Allahu Akbar" adalah kalimat toyyibah yang punya makna mengagungkan atau meninggikan dan memuji kebasaran illahi, yang menguasai alam jagad raya, yang ada di bumi dan yang ada di langit. Makanya ketika sholat, kalimat "Allahu Akbar" diucapkan ketika takbir dengan penuh ketenangan dan tidak emosi karena ingin memuji atau mengagungkan nama tuhan.

Jangan sampai kita mengucapkan “Allahu Akbar” tetapi malah pecicilan tingkah polahnya,j angan sampai mulutnya memuji nama Tuhan tetapi wajahnya seperti gambaran setan karena memang setan bersemayam dalam diri seseorang sesuai tingkat keimanan masing-masing orang.

***

Editor: Pepih Nugraha