Menuntut Emansipasi di Gerbong KRL, Cetek Amat?

Kamis, 1 Februari 2018 | 15:33 WIB
0
304
Menuntut Emansipasi di Gerbong KRL, Cetek Amat?

“Mas... Mas... Bangun! Saya mau duduk,” kata seseorang.

Aku melepas pandanganku dari ponselku dan menengok ke depan. Kulihat seorang wanita yang sepertinya berusia 40 tahunan menepuk-nepuk pundak suamiku. Kulihat suamiku tengah tertidur. Saat itu, kebetulan aku pulang kantor bersama suamiku dengan KRL. Saat itu kami sampai di Stasiun Manggarai dalam perjalanan menuju Stasiun Bekasi. Dengan sigap aku berdiri dan mempersilakan ibu itu untuk duduk di tempat yang sebelumnya aku duduki.

Entah mengapa, dia seperti tidak puas dengan tempat duduk yang aku berikan. Setelah duduk dia bergumam agak keras, “Laki-laki kok duduk di kereta sih? Gak malu! Tempat duduk tuh harusnya buat perempuan...”

Suamiku mengusap-usap mukanya. Mungkin dia terbangun oleh omelan ibu-ibu tadi.

“Kamu mau duduk?” tanya suamiku.

“Santai aja. Aku dari pagi gak ngapa-ngapain, kok,” kataku sambil meneruskan selancarku di internet.

Aku tidak melakukan pekerjaan fisik di kantor. Yang aku lakukan sepanjang hari hanyalah duduk di depan layar komputer dan sesekali berdiskusi dengan orang. Berbeda dengan suamiku yang seorang teknisi. Selain berfikir, pekerjaannya juga memerlukan tenaga. Aku yakin dia lelah.

Masih dari deretan tempat duduk kami, seorang ibu-ibu berseragam cokelat, nampaknya dia PNS, juga tengah mengusir bapak-bapak tua dari tempat duduknya. Saat aku perhatikan, bapak-bapak itu mengambil tongkat dari bawah kursi lalu berdiri. Aku mencolek lutut suamiku sambil memperhatikan bapak-bapak tua yang diusir lalu berusaha menggapai bapak-bapak tua itu.

“Pak, duduk di sini saja,” kataku. Orang-orang yang berhimpitan memberikan jalan pada bapak tua itu untuk mencapai tempat yang sebelumnya diduduki oleh suamiku.

“Terimakasih ya, Mas,” kata bapak tua itu setelah memasukkan tongkatnya ke bawah bangku.

Sesampainya di stasiun Bekasi, aku dan suamiku tidak langsung keluar. Kami duduk-duduk sebentar di peron supaya kaki kami bisa lepas dari pegal walaupun sedikit.

“Sebenernya, kalo ibu-ibu PNS gitu di kantor kerjaannya ngapain sih?” tanya suamiku. “Paling Cuma ngetik kan ya?”

“Jangan berprasangka,” jawabku. “Kita gak tau persis apa yang dia kerjain.”

“Aku gak apa-apa dia ngganggu aku tidur. Tapi kalo udah ngusir orang disabilitas dari kursi itu namanya kebangetan,” katanya berapi-api. “Katanya mau emansipasi, mau setara sama laki-laki. Kalau mau setara ya jangan main gender kayak tadi, donk... Masak yang boleh duduk di kereta cuma perempuan, emang yang bisa capek cuma perempuan?”

Aku hanya bisa menganggat bahu. Tidak tau harus menjawab apa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), emansipasi ada 2 makna. Makna pertama adalah pembebasan dari perbudakan dan makna kedua adalah persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Emansipasi wanita, masih menurut KBBI, adalah proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju.

Emansipasi wanita di Indonesia, menurut ceritanya dipelopori oleh Kartini. Bila ada yang membaca buku berjudul R.A Kartini: Biografi Singkat 1879-1904, dalam bab yang berjudul Emansipasi Wanita diceritakan apa yang menjadi harapan Kartini saat itu. Yang menjadi sorotan utama adalah masalah pendidikan bagi kaum perempuan.

Kartini berharap, kaum perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang sama dengan yang diterima oleh kaum laki-laki. Bukan untuk menjadikan perempuan sebagai saingan laki-laki tapi supaya kaum perempuan lebih cakap melakukan kewajibannya: menjadi pendidik manusia yang pertama-tama.

Selain tentang pendidikan perempuan, Kartini juga bercerita tentang budi pekerti. Kartini sangat sedih melihat wedono yang sudah tua dan beruban diharuskan berjongkok-jongkok dihadapan Kanjeng Tuan Adspirant yang masih muda. Bagi kartini, kewajiban seorang pendidik belum selesai jika dia hanya mencerdaskan pikiran saja. Pendidik juga harus bekerja untuk mendidik budi pekerti muridnya.

Sepertinya, Kartini sangat berharap wanita Indonesia (atau dalam surat itu dia menyebutkan wanita Jawa) bisa menjadi pribadi yang cerdas pikiran dan budinya. Berpuluh-puluh tahun setelah Kartini meninggal, wanita Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang sama dengan yang didapat oleh laki-laki. Wanita Indonesia bahkan bisa mendapat pendidikan yang luar biasa sampai bisa menjadi pilot, pembalap, dan banyak pekerjaan lain yang tidak akan terpikirkan sebelumnya.

Cita-cita Kartini jelas sudah tercapai untuk jika berbicara tentang pendidikan untuk perempuan. Namun untuk masalah budi pekerti, aku rasa kita harus melakukan evaluasi. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang akan Kartini ucapkan saat melihat ada wanita kantoran yang mengusir seorang bapak tua penyandang disabilitas dari kursinya supaya wanita ini bisa duduk?

***

Editor: Pepih Nugraha