Afghanistan dan Penghargaan untuk Presiden Jokowi

Rabu, 31 Januari 2018 | 19:17 WIB
0
463
Afghanistan dan Penghargaan untuk Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Afghanistan memperoleh penghargaan (foto atas) berupa medali tertinggi atas keberaniannya dalam upaya perdamaian dunia. Penghargaan ini langsung disematkan oleh Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.

Bangsa Indonesia patut berbangga bahwa presidennya diberi penghargaan tertinggi oleh pemerintah Afghanistan. Apalagi penghargaan ini baru dua kali diberikan kepada presiden RI. Yang pertama Presiden RI Ir Soekarno (Jokowi juga bertitel insinyur dan sama-sama berasal dari sipil sebagaimana Soekarno).

Kita memang bangga dengan Presiden Jokowi. Hadirnya beliau di Afghanistan, itu setelah empat hari pemboman markas angkatan bersenjata Afghanistan. Tetapi, meski banyak yang menyarankan membatalkan kunjungannya, Jokowi tetap bersikeras ke Afghanistan. Adalah hal wajar dalam situasi demikian, Jokowi dapat pengawalan ketat. Dua helikopter ikut meraung-meraung di atas kendaraan yang ditumpangi Presiden Jokowi.

Sebagaimana kita ketahui, inilah bagian akhir perjalanan Presiden Jokowi ke lima negara Asia Selatan, Bangladesh, India, Pakistan, Srilanka dan Afghanistan.

Kita bangga, Presiden Jokowi bisa mengikuti jejak Presiden Soekarno. Pun di Pakistan, ia diberi kehormatan berpidato di depan anggota DPR dan Senator (Parlemen) Pakistan, setelah Presiden Soekarno melakukan yang sama pada tahun 1963.

Sangatlah memprihatinkan kita sebagai bangsa Indonesia, ketika Presiden Joko Widodo memperoleh penggargaan dari negara yang dikunjunginya di Asia Selatan, tiba-tiba kita membaca berita bahwa presiden dibilang "smoke and mirrors hide hard truths" (Idiom "Smoke and mirrors" bermakna penipuan/pembohongan. "Hide hard truths" menyembunyikan/menutupi kebenaran/fakta yang sebenarnya) oleh sebuah media asing Asia Times.

[irp posts="9412" name="Kunjungan Bernyali Jokowi dan Kepahlawanan Hanafi"]

Artikel yang ditulis oleh John McBeth yang terbit pada 23 Januari 2018 ini sontak mendapat tanggapan ramai publik sosial media tanah air. Netizen lain menjelaskan arti "smoke and mirrors" pada judul artikel tersebut yang memiliki akhir artikelnya, jurnalis Asia Times ini menyatakan cepat atau lambat tabir kebohongan yang menutupi kebenaran akan terangkat.

"Sooner or later, the smoke and the mirrors will inevitably lift to reveal hard realities," tulisnya.

Apakah kita diam saja? Tidak. Jika berbicara tentang media asing, kita harus berpatokan, bagus atau tidak, ini negara saya. Ini presiden saya. Kita harus bela. Menlu harus menyelesaikannya. Tulisan ini hanya mengulang sejarah masa lalu. Bagaimanapun Menlu harus menggugat, karena sudah menyangkut Presiden RI.

Tulisan pernah dimuat di wartamerdeka.net

***

Editor: Pepih Nugraha