7 Jenderal Ramaikan Pilkada Plus "Jenderal" Nagabonar, Ngapain Kalian?

Selasa, 23 Januari 2018 | 19:32 WIB
0
601
7 Jenderal Ramaikan Pilkada Plus "Jenderal" Nagabonar, Ngapain Kalian?

Atmosfir Pilkada selalu membuka isi kepala yang berminat dengan syahwat berkuasa. Pilkada 2018 diikuti 7 jendral bahkan ada yang masih aktif, malah ada yang ngotot harus pensiun tanpa bisa ditawar, dialah Pangkostrad Edy Rahmayadi yang begitu bernafsu jadi gubernur Sumut.

Coba tebak apa yang ada dibenak kepala barisan orang-orang yang merasa mampu mengurus negara ini, tanya apa prestasinya dan kenapa harus jadi kepala daerah kalau mau mengabdi. Dari sini sudah kebaca bahwa jabatan dan kekuasaan luar biasa menggoda, karena di sana dia menjadi penguasa dan ujung-ujung duitlah yang akan disapa.

Polemik mahar dari suara La Nyala walau akhirnya dia menganulir lidahnya sendiri apa karena takut dihabisi atau sudah dapat ganti, dapat amunisi, cuma dia yang tau. Tapi rahasia umum tentang uang itu bak kentut di ruang terbuka, terasa baunya kemana-mana tapi tak kelihatan rupanya, dan kita sudah lama menganggap itu biasa.

[irp posts="6530" name="Pangkostrad Edy, Tirulah AHY Yang Memberi Contoh Politik Beretika!"]

Pertanyaannya kalau muara segala biaya harus ada gantinya, maka uang negara pasti sasarannya, kalaupun tidak, fee proyek dan perizinan akan menjadi lahan garapan, imbasnya proyek rendah kualitas, usaha berbiaya tinggi dan bisa dimonopoli.

Sekali lagi tanyakan kepada jendral-jenderal yang ngotot jadi pejabat itu, apa ada konsepnya, mungkin saja visi misipun mereka tak punya, setelah dilantik nanti malah salah gaya.

2018 adalah tahun kita menghela nafas panjang, akrobat politik tetapi menampilkan tarian lama, berkuasa, tertawa-tawa, bergaya, ujung-ujungnya tidak ada hasil karyanya yang bisa dinikmati rakyatnya. Boro-boro ada perubahan, yang baik dibuat berantakan asal bisa ada kerjaan dan bisa sama-sama dimakan.

[caption id="attachment_8839" align="alignleft" width="299"] Jenderal di Pilkada 2018 (Foto: Detik.com)[/caption]

Warna Indonesia menuju hitam putih, nyaris tidak ada warna pelangi keberagaman. Hitam putih adalah warna kontras dan dianalogikan kondisi sosial kita yang sengaja dibentuk kesana oleh manusia-manusia murah dengan otak penjarah.

Setiap jam kita disusupi ujaran kebencian, fitnah, caci maki, menghantam kebenaran yang sedang ditegakkan. Kita memasuki kondisi di mana yang masih berpikiran benar harus melawan badai kemungkaran, tidak ada pilihan karena kebenaran harus ditegakkan. Kita harus terus membiasakan yang benar jangan membenarkan yang biasa.

Jendral, memimpin itu tidak sama dengan berkuasa. Pemimpin itu harus bijaksana, bukan memijak pihak sana yang tak sama dengan Anda. Semoga kelak Anda tidak salah gaya atau memaksa bergaya.

***

Editor: Pepih Nugraha