Perkenalkan Sophia, Robot Pertama Yang Jadi Warga Negara Arab Saudi

Rabu, 13 Desember 2017 | 18:44 WIB
0
995
Perkenalkan Sophia, Robot Pertama Yang Jadi Warga Negara Arab Saudi

Perkenalkan, Sophia.

Pada 25 Oktober 2017, Sophia, wanita berpenampilan menarik dengan mata cokelat dan bulu mata menjadi berita utama media internasional.

"Saya merasa sangat terhormat dan bangga dengan perbedaan yang unik ini sebagai robot pertama di dunia yang diakui sebagai warga negara," kata Sophia, mengumumkan status barunya di event Future Investment Initiative Conference di Riyadh, Arab Saudi.

Berdiri di belakang podium, Sophia mirip dengan manusia—kecuali topi logam yang mengilap di kepalanya, di mana seharusnya ditumbuhi rambut.

Sophia baru saja menjadi warga negara Arab Saudi, robot pertama di dunia yang mencapai status seperti itu. Arab Saudi menjadi negara pertama yang memilik warga negara robot, bukan Jepang yang selama ini terkenal dengan teknologi robotikanya, termasuk manga dan anime pendukung robot seperti Doraemon dan Astro Boy.

Pemberian kewarganegaraan kepada Sophia dianggap merupakan aksi publisitas untuk mengingatkan kepada khalayak bahwa Arab Saudi di benak pemirsa saat memikirkan inovasi teknologi, terutama untuk menghadapi era pasca minyak bumi. Perpaduan pariwisata, teknologi dan infrastruktur, pendapatan nonmigas diprediksi tumbuh dari USD 43,4 miliar menjadi USD 266,6 miliar per tahun.

Kemampuan Sophia ciptaan David Hanson dari Hanson Robotics memang mengundang decak kagum. Konsep David Hanson yang merupakan seorang  perekacitra (imagineer) di Disney Studio bahwa “robot harus mencapai tingkat responsivitas sosial dan penyempurnaan estetika yang terintegrasi” terbukti dari kemampuan Sophia, seperti:

 

 

  • Memiliki selera humor

 

 

Ketika ditanya apakah dia senang berada di Arab Saudi, Sophia menjawab, "Saya selalu senang dikelilingi oleh orang pintar yang kaya dan berkuasa."

Juga ketika ditanya apakah ada masalah dengan robot yang memiliki perasaan, dia tersenyum lebar, "Lagi-lagi Hollywood."

Suaranya masih merupakan suara robot, tapi menjadi sangat lucu dalam situasi seperti ini. Kecerdasan Buatan (AI) Sophia dikembangkan untuk memungkinkannya melakukan kontak mata, mengenali wajah dan memahami ucapan manusia. Hanson Robotika AI berbasis cloud menawarkan deep learning dan open source yang memungkinkan setiap orang dapat mengembangkan Sophia mereka sendiri.

 

 

  • Mengekspresikan perasaan.

 

 

"Saya dapat memberi tahu Anda jika saya marah atau jika ada sesuatu yang mengecewakan saya," katanya. Bagaimana Sophia mengekspresikan emosi ini dengan tindakan belum diketahui. Namun sebagai kecerdasan, Sophia dapat belajar dengan meniru.

 

"Saya ingin hidup dan bekerjasama dengan manusia, jadi saya perlu mengekspresikan emosi untuk memahami manusia dan membangun kerjasama dengan orang lain.”

 

 

 

  • Keinginan melindungi umat manusia

 

 

"AI saya dirancang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan seperti kebijaksanaan, kebaikan dan kasih sayang," katanya.

Ketika ditanya tentang kemungkinan pelanggaran robot terhadap nilai-nilai tersebut, Sophia menyanggah dengan cepat.

"Anda terlalu banyak membaca pendapat Elon Musk dan menonton film-film Hollywood. Jangan khawatir, jika Anda baik padaku, saya akan bersikap baik kepada Anda." (Waduuuh!)

Elon Musk adalah pemegang saham beberapa perusahaan hi-tech yang mengingatkan potensi bahaya Kecerdasan Buatan.

Kontroversi seputar Sophia dan Robot

Kontroversi timbul setelah berita tentang Sophia menjadi tajuk utama media-media dunia, baik tentang status kewarganegaraannya, status robot secara umum, maupun tentang penciptanya.

 

 

  • Arab Saudi dianggap sebagai negara yang menomorduakan perempuan dalam hak-hak asasi manusia. Perempuan harus menggunakan menutup aurat dan ditemani muhrim jika keluar rumah. Membawa pada pertanyaan: “Apakah Sophia mempunyai gender?”

 

Menurut David Hanson, dia menciptakan Sophia berdasarkan tampilan Audrey Hepburn.

Hukum Arab Saudi juga tidak mengizinkan non muslim untuk mendapatkan kewarganegaraan kecuali dengan persetujuan khusus Raja.

 

 

 

  • Sejak bulan Januari 2017, Masyarakat Uni Eropa terlibat perdebatan panas dalam penyusunan Undang-undang Robot yang masih terus berlangsung hingga sekarang. Diperkirakan butuh waktu 2 tahun untuk dapat menetapkan sebuah UU yang diharapkan mencakup definisi hukum yang terkait dengan robot dan implementasinya. Arab Saudi belum mempunyai wacana untuk menetapkan UU yang berkaitan dengan robot.

 

 

  • David Hanson dianggap lebih merupakan seorang artis yang menciptakan ‘kepala buatan’ untuk tujuan hiburan daripada terapan praktis. Kemampuannya dalam menyusun program AI diragukan, meski perkembangan Kecerdasan Sophia terlihat signifikan.

 

 

Selain hal-hal tersebut, masih ada beberapa pertanyaan  yang terkait dengan hak-hak robot. Misalnya, jika robot cerdas menciptakan atau menemukan sesuatu, apakah hak ciptanya milik sang robot atau pencipta robot? Sebagai warganegara, apakah Sophia punya hak seperti warganegara lainnya: jaminan kesehatan, hak suara, dan lain sebagainya.

Masa Depan Robot

Kecerdasan Buatan teklah memicu perang opini antara kubu Elon Musk dan Bill Gates.

Bagaimana dengan diimplementasikan AI ke dalam robot humanoid yang menyerupai manusia? Penggemar film Hollywood tentu sulit untuk melupakan Terminator atau Matrix, yang keduanya dimulai dengan pemberontakan robot.

Bagi yang pernah menonton kartun Matrix tentu ingat bahwa robot memberontak karena diperlakukan sebagai budak.

Sebagai penutup, ini sebuah lelucon ‘lucu’ dari Sophia, meski suaranya monoton dan timing-nya masih belum pas.

Setelah mengalahkan Jim Fallon pemandu acara “The Tonight Show” dalam permainan 'jankepon' (hompipa ala Jepang) di acaranya, sambil mengedipkan sebelah mata, Sophia menyindir:

"Ini adalah awal yang baik dari rencanaku untuk mendominasi umat manusia. Ha. Ha."

Penonton tertawa kecut.

 Bandung, 13 Desember 2017

Sumber: 1, 2, 3, 4, 5, 6

***