Ombak Banyu dari Masa Lalu di Cipanas "Swiss van Java"

Sabtu, 18 November 2017 | 04:00 WIB
0
600
Ombak Banyu dari Masa Lalu di Cipanas "Swiss van Java"

Sependek ingatan saya, terdapat beberapa jenis alat permainan anak tempo doeloe yang berbentuk ayunan. Bentuk pertama yang paling sederhana adalah ayunan single yang didorong. Jenis ini bisa digantung di mana saja, pakai rangka besi atau bila ada dahan yang kokoh pun jadilah.

Bahkan dalam masyarakat tradisional, sejak bayi berumur belasan hari, si anak sudah dimanjakan dengan dibikinkan ayunan dari selendang yang digantungkan di para-para rumah. Karena itu, ada istilah: sejak usia ayunan hingga pikulan, yang artinya sejak lahir hingga menjelang mati, dari bayi hingga usia tua.

Bentuk kedua, yang lebih "modern" yaitu ayunan ganda dari rangka besi, di mana anak-anak bisa duduk berduaan saling berhadapan. Mestinya ayunan ini hanya untuk anak-anak kecil, namun banyak digunakan remaja lebay yang lagi "belajar pacaran" atau orang-orang dewasa "kembali pacaran".

Akibatnya, banyak fasilitas sejenis ini di taman-taman paling cepat dan gampang rusak. Mungkin kelompok terakhir yang saya sebut itu, terkategori dalam istilah legendaris "masa kecil kurang bahagia, masa tua kurang kerjaan".

Dan bentuk ketiga, yang menurut saya paling langka adalah ayunan yang kalau di kota saya berasal, Jogja, disebut "ombak banyu" (gelombang air). Jumlah penggunanya bisa paling banyak dan permainannya pun lebih seru. Walau tentu saja, resikonya juga paling besar.

Di Sekaten atau Pasar Malam, dulu merupakan tempat adu nyali. Tentu saja para remaja yang cemen dan anak mami, lebih banyak menghindar dan memilih komidi putar. Namun inilah wahana yang menurut saya, dari dulu paling mengundang untuk menguras adrenalin.

[caption id="attachment_4067" align="alignleft" width="529"] Ombak Banyu masa lalu (Istimewa)[/caption]

Di kartu pos kuno yang saya koleksi di bawah ini, saya anggap sangat langka. Ukuran "ombak banyu"-nya tidak terlalu besar, karena memang "bukan bernilai komersial". Wahana ini terdapat di halaman Badplaats Cipanas, sebuah pemandian umum yang terletak di lereng Gunung Guntur, sekira 6 kilometr di luar kota Garut. Sesuai dengan namanya, pemandian ini memang berisi air panas dan sangat populer hingga seantero jagad pada masanya.

[irp posts="692" name="Historia Docet! Jurnalisme Sejarah Yang Terabaikan"]

Pada masanya, para ambtenar Bandung, Buitenzorg maupun Cheribon, pemilik perkebunan ataupun kalangan birokrat dan militeris dari Batavia, selalu menjadikan Garut sebagai tujuan utama berlibur. Dan bukan Lembang dengan Ciater-nya (yang semula lebih dikenal sebagai kebun sayur dan susu sapinya). Alam Garut yang bergunung-gunung dan sejuk mengingatkan mereka pada Pegunungan Alpen di Swiss.

Hingga pada masa itu Garut mereka juluki sebagai "Swiss van Java". Sedemikian terkenalnya hingga banyak bintang Hollywood menjadikan Garut dengan Pemandian Cipanas-nya sebagai destinasi wisata mereka.

Charlie Chaplin, komedian paling terkenal sepanjang masa, bahkan sempat dua kali mengunjunginya. Sebab mereka percaya, air hangat Cipanas di luar memiliki sensasi kehangatan yang berbeda, juga berkhasiat menyembuhkan banyak penyakit, khususnya rheumatik dan penyakit kulit. Sejak dibuka pertama kali tahun 1920-an, tempat ini memang sudah berbentuk kolam rendam tertutup, bersifat ekslusif dari komersial.

Saya senang mengenang sensasi ayunan "ombak banyu' ini. Mungkin kalau saat ini dibangun di sebuah taman, akan banyak protes karena dianggap mengabaikan keselamatan anak-anak (juga publik). Pertanda bahwa masyarakat kita (khususnya orang tua) makin "fragile dan baperan".

Padahal, konon saat ini masyarakat makin suka berayun-ayun ke sana ke mari: buas saling menerkam, suka ribut dan gemar berantem. Sebagaimana dicontohkan wakil rakyat mereka di Senayan yang ngehek itu!

***