Hanya Daun Cuma Daun, Itupun Bisa Jadi Inspirasi

Selasa, 16 Agustus 2016 | 13:35 WIB
0
780
Hanya Daun Cuma Daun, Itupun Bisa Jadi Inspirasi

Bahkan daun pun menyimpan keindahan tak ada habis-habisnya, dan keindahan adalah salah satu sumur inspirasi.

Kalimat "hanya daun, cuma daun" adalah ungkapan terkenal penyair Darmanto Jatman. Inspirasi yang menjadi kata-kata sakti itu ia peroleh dari kidung gereja yang ia rekam kuat dalam ingatannya, "amung godhong, amung godhong".

Hanya daun, sekali lagi daun, energi yang cukup untuk menggerakkan kreativitas seorang Darmanto. "Dan, selembar daun yang jatuh pun adalah ibadah", demikian fatwa religius mewartakan.

Dalam salah satu syair lagunya Bimbo bersenandung, "daun yang gugur telah lama kering". O, lagi-lagi daun, hanya daun, cuma daun.

Daun jika diramu melalui kata, tema, dan rasa, akan menghadirkan keindahan... tentu saja bagi yang peka terhadap setiap sudut keindahan kata. Padahal, Sang Pencipta menyediakan sumber inspirasi yang berlimpah melalui kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, jauh melebihi kata-kata yang membentuk frasa dalam kamus setebal bantal.

Angin yang menderu, kering dan menusuk, adalah inspirasi juga. Gelombang pasang yang mengempas karang yang sisanya seperti menjilati bibir pantai sunyi, juga keindahan. Gumpalan awan menyeramkan seperti hendak menelan mentari senja. Matahari itu sendiri. Bintang. Bumi. Manusia. Hewan. Pepohonan. Merahnya merah. Semua ada, semua tersedia, tergantung bagaimana rasa mengolahnya sebagai keindahan, sebagai inspirasi.

Saya sendiri, barangkali juga Anda, kita semua, kiranya perlu belajar dari hal-hal sederhana yang melimpah di sekeliling kita. Siapa bilang batu atau kuburan bisu tidak bisa dijadikan sumber inspirasi? Anak Anda, istri, suami, bahkan pembantu, adalah sumber inspirasi.

Persoalannya, apakah rasa yang Anda miliki, yang kita punyai, mampu mengolahnya sebagai sumber inspirasi.

Saya ibaratkan semua benda yang terlihat itu sebagai minyak mentah saat terekam dalam ingatan, atau mutiara yang masih berselimutkan selaput. Kita perlu energi untuk mengolahnya menjadi minyak yang siap pakai, atau menggosoknya menjadi mutiara berkilau yang sedap dipandang mata.

Energi itu adalah karsa, cipta, dan seterusnya. Terserah Anda mau menuliskannya dalam sebait puisi, seuntai cerita, atau segores sketsa dalam kanvas sederhana. Anda, kita semua, perlu belajar dari seorang Darmanto Jatman, yang mahir meramu kata, karsa, cipta dan rasa dari benda-benda di sekeliling kita.

Saya yakin, kita sebagai manusia moderen yang semakin kaya akan informasi yang kita terima melalui bantuan teknologi informasi, selaiknya lebih dari sekedar Darmanto. Sebab, informasi kita akan benda dan kata-kata jauh lebih kaya dan berkelimpahan tinimbang masa-masa hidup seorang Darmanto. Ada paman Google, ada Bibi Wiki, penjelasan tentang makna sebuah benda dan peristiwa ada di sana.

Persoalannya, apakah kita cukup punya energi untuk meramu kata, tema, dan rasa menjadi satu kesatuan karsa dan cipta indah dalam bentuk puisi atau cerita?

Saya yakin Anda bisa, kita semua bisa!

***