Tetang Film Ahok dan Hanum

Minggu, 11 November 2018 | 05:50 WIB
0
361
Tetang Film Ahok dan Hanum
Film Ahok dan Hanum (Foto: Tempo.co)

Setau saya, Hanum Dan Rangga awalnya direncanakan rilis tanggal 15 November, lalu berubah menjadi 8 November, bertepatan pada hari rilis A Man Called Ahok.

Tidak jelas alasan majunya tanggal rilis itu apa penyebabnya. Bisa jadi karena kebijakan bioskop atau keinginan PH yang menunggangi pertarungan politik untuk meraih jumlah penonton sebanyak-banyaknya.

Namun apa pun alasannya, rilis dari dua film ini mau tidak mau pada akhirnya bergeser dari sekedar pertarungan dua produk film dalam industri menjadi pertarungan politis.

Satu realita yang kita harus pahami bersama, bahwa sebuah produk seni tidak melulu dinikmati sebagai produk seni, namun bisa diekspansi menjadi sebuah ekspresi akan banyak hal, menyangkut persoalan personal, spiritual, politik dan sebagainya.

Tidak semua orang menghargai film karena ketrampilan filmis yang terpresentasi dalam produk film itu. Seperti halnya medium seni lain seperti buku, musik, fotografi dan sebagainya, medium seni adalah artefak emosional yang menkongkritkan hal hal abstrak dalam diri manusia.

Saya suka dialog "You complete me" dalam film Jerry Maguire meski para pendukung feminis dengan skeptis menuding bahwa dialog itu secara subtil dan halus memberi framming bahwa perempuan ditempatkan sebagai objek pelengkap laki laki saja.

Saya menyukai PK dan Three Idiots karena film itu menjadi artefak emosi keresahan saya. Meski saya tahu bahwa banyak aspek filmis yang kurang dalam film itu.

Tahun 95 akhir, That Thing You Do menjadi film yang memberi trigger saya untuk jadi anak band. Dan guilty pleasure yang harus saya akui hari ini adalah, saya suka nonton film film Steven Seagal. Saya tahu kebanyakan film Steven Seagal itu piece of shit dalam kajian kaidah teknis film yang saya yakini sekarang. Tapi saya memang suka dengan Aikido dan belum ada film lain yang menggambarkan Aikido seindah fantasi delusional yang dihadirkan Steven Seagal. When I love it, I just love it. No brainer. Even when it sucks.

Sama seperti saya menyukai lagu Kimcil Kepolen dan Bojo Ketikung-nya NDX yang terasa nikmat dalam package presentasinya yang jauh dari kata mewah. Namun bagi saya yang berjiwa kampung ini, hal ini ya asik asik aja.

Hari ini, Hanum Dan Rangga VS A Man Called Ahok menjadi medium pertarungan ekspresi politik dari kedua kubu yang sejak lama bertarung sengit.

Lalu kemudian muncul sekelompok yang mengatakan "saya kesal ketika film sebagai produk seni sudah menjadi komoditas politis".

Well. Mereka tidak salah. Namun mereka yang mengekspresikan nilai politis lewat film juga tidak salah.

Pada dasarnya, saya tidak suka perang. Tapi jika jaman sudah telanjur menggiring perang itu terjadi, saya lebih respek dengan perang medium ekspresi seperti hari ini, dari pada kita harus saling mengumbar hoax ke sana kemari.

Pilihan politik saya ada pada Ahok, namun toh saya tak pernah berkata buruk tentang film Hanum Dan Rangga. Tidak juga menganjurkan para Ahokers untuk menjelekkan film Hanum Dan Rangga. Karena baik para Ahokers maupun penggemar Hanum Dan Rangga, adalah teman teman yang sama sama saya hormati.

Namun demikian saya menyayangkan beberapa gerakan massal lewat grup WA yang memprovokasi orang untuk memboikot A Man Called Ahok. Terutama yang sudah mengkaitkan dengan persoalan agama.

Biarlah film berjodoh dengan penontonnya sendiri. Tak usahlah menyebar fitnah kesana kemari.

***